Harga Minyak Naik Usai Serangan Houthi Picu Kekhawatiran Pasokan

Wait 5 sec.

Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: JHVEPhoto/ShutterstockHarga minyak naik sekitar 3 persen pada Kamis (24/9) ke level tertinggi dalam sepekan setelah serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan.Namun, perdagangan berlangsung volatil dan harga minyak turun dari level tertingginya setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran membahas kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz.Dikutip dari Reuters, Jumat (25/9), kontrak berjangka Brent naik USD 3,52 atau 3,4 persen menjadi USD 106,60 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD 2,45 atau 2,7 persen menjadi USD 94,61 per barel. Pada level tertingginya selama sesi perdagangan, kedua kontrak tersebut sempat naik sekitar 5 persen.Harga penutupan Brent menjadi yang tertinggi sejak 15 September. Sementara itu, kenaikan tersebut menjadi yang pertama bagi WTI setelah dalam enam sesi perdagangan sebelumnya mengalami penurunan sebesar 13 persen.Arab Saudi mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran. Menurut koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman, serangan itu menyasar Provinsi Taif di wilayah selatan dan kawasan Yanbu di pesisir Laut Merah.Maskapai penerbangan Iran pun dilarang beroperasi di sejumlah negara tetangga, termasuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman, sebagai respons terhadap sanksi baru AS. Kebijakan ini menjadi dampak besar pertama dari perubahan kebijakan AS yang menargetkan perusahaan-perusahaan di negara ketiga yang melakukan bisnis dengan Iran.Setelah perang AS-Israel melawan Iran sebagian besar mengalami kebuntuan di medan perang selama berbulan-bulan, Washington mengumumkan perpanjangan sanksi keuangan dengan menargetkan perusahaan-perusahaan dari negara ketiga yang melakukan bisnis dengan perusahaan Iran. Praktik ini dikenal sebagai “secondary sanctions” atau sanksi sekunder.Pada Rabu (24/9), Iran mengancam akan membalas negara-negara tetangganya yang mematuhi larangan penerbangan dari AS dengan membuat bandara-bandara di negara tersebut “tidak dapat digunakan”.Secara terpisah, Arab Saudi sedang meningkatkan volume pemompaan minyak mentah melalui East-West Pipeline yang mengalir menuju pusat ekspor Yanbu di Laut Merah. Namun, pemuatan minyak mentah ke kapal tanker belum kembali dilakukan, menurut sumber industri, citra satelit, dan data pelayaran.Di sisi lain, negosiator AS dan Iran di New York sedang menjajaki jalan keluar dari perang secara bertahap. Sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut menyatakan proses negosiasi ini mencakup kemungkinan Iran membuka kembali Selat Hormuz dan AS mencabut blokade ekonominya terhadap Iran.Selat Hormuz menjadi alat tawar utama dalam upaya mengakhiri konflik AS-Iran yang telah berlangsung hampir tujuh bulan. Iran menginginkan pelonggaran blokade AS yang menekan perekonomiannya, sementara Washington menginginkan jalur pelayaran kembali terbuka bagi kapal-kapal yang melewati rute minyak global tersebut, yang kini diblokade oleh Teheran.Menurut komentar dua sumber Iran, dua pejabat regional, dan dua sumber diplomatik Barat kepada Reuters, tidak ada pihak yang ingin melepaskan posisi tawar yang mereka miliki.Harga Diesel Capai Rekor TertinggiIlustrasi SPBU di Amerika Serikat. Foto: bluestork/ShutterstockKemudian, harga diesel mencapai rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir akibat gangguan pasokan. Di tengah kondisi ini, kontak tingkat tinggi antara Uni Eropa dan AS terus berlangsung. AS dilaporkan berencana melarang ekspor diesel, langkah yang menurut Uni Eropa dapat merugikan kedua pihak.Pasokan diesel global sedang ketat karena Rusia melarang ekspor bahan bakar tersebut akibat gangguan yang ditimbulkan oleh serangan Ukraina terhadap kilang minyak dan infrastruktur energi Rusia. Pasokan semakin tertekan oleh serangan Iran terhadap kapal-kapal dan infrastruktur energi di Timur Tengah.Menteri Energi AS Chris Wright dalam beberapa hari terakhir telah menghubungi para eksekutif sejumlah perusahaan penyulingan minyak besar di AS untuk mengetahui dukungan mereka terhadap pembatasan ekspor diesel secara sukarela. Langkah itu dilakukan ketika pemerintahan Trump mencari alternatif selain larangan ekspor jangka pendek, menurut tiga orang yang mengetahui pembahasan tersebut.Politico pun melaporkan AS sedang mempersiapkan larangan ekspor diesel selama 90 hari karena kenaikan harga menjelang pemilihan paruh waktu pada November. Wright membantah laporan tersebut.Para analis dan pelaku pasar memperingatkan bahwa larangan ekspor diesel AS hanya akan memberikan sedikit dampak dalam menurunkan harga energi yang tinggi. Kebijakan itu justru dapat memperburuk pasokan global dan semakin mengganggu perekonomian.