Sekolah formal atau homeschooling? Anak perlu pendidikan yang terencana dan terarah

Wait 5 sec.

Apapun pendekatan dan metode belajarnya, pendidikan anak harus disiapkan secara sungguh-sungguh dan terarah Kamaji Ogino/Pexels, CC BY● Baik ‘schooling’, ‘homeschooling’, dan ‘unschooling’ sama-sama wajib mendukung tumbuh kembang anak.● Metode berbasis rumah menawarkan fleksibilitas tinggi, tetapi menuntut peran keluarga yang lebih besar.● Keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh label, tapi dari sejauh mana anak dibentuk menjadi pembelajar mandiri.Unggahan tentang pilihan orang tua untuk tidak menyekolahkan anaknya secara formal (unschooling) memicu perdebatan panjang. Sebagian melihat unschooling sebagai bentuk kebebasan pendidikan, sebagian lainnya mempertanyakan: bagaimana cara anak belajar kalau tidak bersekolah?Perdebatan ini menguak stigma di kebanyakan masyarakat bahwa belajar adalah bersekolah (schooling) dan sebaliknya. Padahal, sekolah hanyalah salah satu tempat berlangsungnya pendidikan. Anak dapat belajar melalui keluarga, lingkungan, komunitas, permainan, percakapan, pengalaman, buku, teknologi, dan berbagai aktivitas sehari-hari.Artinya, baik ‘schooling’, ‘homeschooling’, dan ‘unschooling’ hanyalah metode pembelajaran yang memiliki aturan dan pendekatan masing-masing. Pendidikan tidak selalu identik dengan sekolah formal, tetapi setiap metode wajib mendukung tumbuh kembang, sosialisasi, dan kemandirian anak.Memahami schooling, homeschooling, dan unschoolingBersekolah pada dasarnya merujuk pada pendidikan yang berlangsung melalui institusi sekolah dengan struktur yang relatif jelas: ada guru, kurikulum, jadwal, kelompok kelas, asesmen, dan aturan kelembagaan. Sementara dalam homeschooling, keluarga berperan lebih besar untuk menentukan bagaimana pendidikan anak berlangsung.Namun, homeschooling bukan satu metode yang seragam. Ada keluarga yang mengikuti kurikulum nasional, menggunakan kurikulum internasional, memanfaatkan tutor atau lembaga pendidikan, atau menggabungkan berbagai sumber belajar sesuai kebutuhan anak.Karena itu, homeschooling tidak selalu berarti “sekolah dipindahkan ke rumah”. Ia lebih tepat dipahami sebagai praktik pendidikan berbasis keluarga dengan tingkat struktur dan fleksibilitas yang berbeda.Selain homeschooling, terdapat pendekatan lain yang mungkin kurang umum di Indonesia yakni unschooling. Meski sama-sama berlangsung di luar struktur sekolah formal, unschooling memberikan ruang lebih besar bagi anak untuk menentukan arah belajarnya berdasarkan minat, pertanyaan, pengalaman, dan inisiatifnya sendiri.Penelitian tahun 2024 mengenai unschooling menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak semata-mata menghilangkan kurikulum, tetapi juga memperkaya gagasan tentang keberdayaan anak, otonomi, dan pembelajaran yang lebih demokratis dalam keluarga.Dalam kajian mengenai unschooling, pendekatan yang “dipimpin oleh anak” (child-led) bahkan dikaitkan dengan pengembangan keberdayaan dan kesempatan bagi anak untuk memiliki suara dalam menentukan proses pendidikannya.Namun, child-led learning bukan berarti pembelajaran tanpa batasan (unrestricted learning) dan risiko.Anak memang diberi ruang untuk memilih, mengeksplorasi, dan mengikuti minatnya, tetapi bukan berarti orang dewasa melepaskan seluruh tanggung jawab pendidikan anak tersebut. Dalam unschooling, orang tua tetap dituntut berkomitmen tinggi untuk berperan dalam menyediakan lingkungan belajar, memperkenalkan sumber pengetahuan, memberikan batasan, mengajukan pertanyaan, dan mengamati perkembangan anak.Apakah homeschooling lebih baik?Sebuah kajian sistematis tahun 2025 yang menganalisis 23 penelitian dengan total 6.312 peserta menemukan bahwa siswa homeschooling secara umum menunjukkan tingkat pembelajaran mandiri (self-regulated learning) dan keyakinan diri (self-efficacy) yang sedang hingga tinggi.Namun, bukti tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa homeschooling mutlak lebih baik daripada sekolah formal. Karena kajian yang lebih mutakhir memperlihatkan gambaran yang masih beragam. Tinjauan penelitian homeschooling periode 2017–2026, misalnya, menunjukkan sebagian besar penelitian mengenai prestasi akademis siswa homeschooling menunjukkan hasil positif, tetapi terdapat pula penelitian yang menunjukkan [tidak ada perbedaan], hasil campuran, bahkan keunggulan siswa sekolah konvensional.Fleksibilitas homeschooling dan unschooling memang membuat anak dapat belajar dengan kecepatan yang berbeda, mengeksplorasi minat, dan menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi keluarga. Namun, fleksibilitas berarti tanggung jawab yang lebih besar pada peran keluarga khususnya orang tua. Sekolah memiliki guru, kurikulum, jadwal, sistem asesmen, dan struktur sosial yang sudah tersedia. Ketika sebagian fungsi tersebut berpindah ke keluarga, keluarga perlu memastikan fungsi-fungsi tersebut tetap berjalan dalam bentuk yang sesuai. Dalam konteks Indonesia, aturan terkait homeschooling diatur dalam Permendikbud Nomor 129 Tahun 2014 yang menyatakan kurikulum homeschooling turut mengacu pada kurikulum nasional. Sekolah rumah sudah diakui sebagai bagian dari jalur pendidikan informal dalam sistem pendidikan nasional.Pemerintah juga sedang memperkuat penyelenggaraan sekolah rumah melalui kemitraan dengan lembaga pendidikan nonformal yang dapat menyediakan pendampingan, asesmen, dan dukungan akademis maupun nonakademis.Dengan demikian, fleksibilitas tetap membutuhkan jalur yang jelas. Anak boleh belajar dengan cara yang berbeda, tetapi kebutuhan belajar, perkembangan serta keberlanjutan pendidikannya tetap perlu kita perhatikan.Yang penting substansinya, bukan labelnyaPembahasan homeschooling lebih dari sekadar prestasi akademis. Konsep diri, motivasi intrinsik, kemampuan berpikir, dan kreativitas juga merupakan bagian yang harus diperhatikan.Karena itu, ketika kita berbicara tentang keberhasilan pendidikan, mungkin kita perlu memperluas cara melihatnya. Selain nilai akademis, apakah sang anak mampu mengelola minat belajarnya, memiliki rasa ingin tahu, berani menghadapi kesulitan, memahami apa yang ia sukai, hingga perlahan menjadi pembelajar yang mandiri.Homeschooling bukan sekadar persoalan memindahkan tempat belajar. Ia membutuhkan perencanaan pendidikan. Artinya, bukan label ‘homeschooling’ yang otomatis menentukan kualitas pendidikan, melainkan apa yang dilakukan di dalamnya.Sekolah punya struktur, guru, teman sebaya, dan sistem yang sudah tersedia. Homeschooling memberi keluarga ruang lebih besar untuk menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan anak. Unschooling bahkan memberi anak ruang lebih luas untuk mengikuti minat dan inisiatifnya.Karena itu, pendidikan bukan sekadar tentang memilih antara schooling, homeschooling, atau unschooling. Pendidikan adalah tentang menciptakan ruang agar anak dapat bertumbuh, ingin tahu, mencoba, gagal, menemukan kembali, dan perlahan menjadi pembelajar yang mandiri.Dhian Gowinda Luh Safitri tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.