Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026). Foto: Widya Islamiati/kumparanMenteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan Presiden Prabowo Subianto memberikan sejumlah arahan untuk memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT), salah satunya dengan menertibkan impor yang mengganggu industri dalam negeri.Airlangga mengatakan, Prabowo meminta pemerintah meninjau kembali aturan terkait pertimbangan teknis (Pertek) dan kebijakan lainnya di sektor tekstil.“Kemudian khusus untuk di hilir, yaitu terkait dengan garmen, gangguan-gangguan melalui impor kiloan ataupun impor balpres itu tadi juga diminta Pak Dirjen Bea Cukai untuk segera ditertibkan,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (22/9).Selain penertiban impor, Prabowo juga meminta untuk memperhatikan kemudahan bahan baku bagi industri TPT. Airlangga mengatakan pemerintah perlu memastikan bahan baku, termasuk bahan berbasis kulit, dapat masuk dengan lebih mudah.“Karena diperlukan kemudahan terkait sertifikasi yang berkaitan dengan isu halal. Nah, ini juga sangat diperlukan, tidak hanya untuk industri tekstil tetapi juga untuk industri persepatuan,” lanjut Airlangga.Airlangga menjelaskan industri TPT merupakan salah satu sektor padat karya strategis dengan kontribusi sekitar 0,97 persen terhadap PDB, menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, dan mencatat ekspor sekitar USD 12 miliar.Ia membeberkan, industri TPT tumbuh 5,6 persen atau berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara itu, industri barang kulit dan alas kaki tumbuh 8,25 persen.Airlangga kemudian melanjutkan bahwa masih terdapat ruang bagi industri tekstil untuk melakukan ekspansi karena tingkat utilisasi pabrik saat ini sekitar 75 persen. Dalam neraca perdagangan, sektor tekstil dari hulu hingga tengah masih mencatat posisi net importer.“Kalau kita lihat neraca perdagangan tekstil di tahun kemarin, tekstil dalam hal bahan baku itu impornya lebih tinggi, sekitar USD 8,4 miliar, sedangkan dari segi ekspornya rendah, sebesar USD 3,1 miliar,” jelas Airlangga.Sebaliknya, industri pakaian jadi berada dalam posisi net exporter, dengan nilai ekspor sekitar USD 8,7 miliar dan impor sekitar USD 690 juta.