OJK Sebut RI Masuk Aging Population, Dorong Perencanaan Pensiun Sejak Dini

Wait 5 sec.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi di acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Hotel Kempinski Jakarta, Kamis (3/9/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparanKetua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari mengatakan Indonesia saat ini sudah memasuki fase aging population atau terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lansia.Di tengah kondisi tersebut, Friderica mendorong agar perencanaan pensiun dilakukan sejak dini.“Semakin dini, semakin baik. Jadi kalau kita bicara tentang persiapan pensiun bukan nanti menjelang-menjelang, tetapi justru dari first day seseorang itu bekerja sudah harus bisa memikirkan tentang retirement plan-nya seperti apa. Indonesia saat ini mulai memasuki fase aging population, saya yakin para pembicaraan juga sudah banyak membahas ini,” kata sosok yang akrab disapa Kiki itu dalam IPFS 2026 di Balai Kartini, Jakarta pada Jumat (25/9).Kiki menjelaskan proporsi penduduk lanjut usia Indonesia sudah mencapai 11,97 persen. Angka itu berada di atas batas awal tanda-tanda aging population pada 10 persen. Ke depan, angka itu juga diproyeksi terus meningkat hingga mencapai 20,31 persen pada 2045.Di sisi lain, Indonesia juga memiliki demographic dividend dengan sekitar 68,94 persen penduduk berada pada usia produktif. Untuk itu, dorongan perencanaan pensiun sejak muda masih bisa dilakukan.“Artinya apa? Artinya kita memiliki jendela kesempatan yang sangat penting, tentunya untuk mendorong masyarakat usia produktif untuk mulai mempersiapkan masa pensiun sejak kini sebelum tekanan demografi itu akan semakin besar,” ujar Kiki.Selain itu, Kiki juga memaparkan data bahwa tingkat inklusi dana pensiun di Indonesia masih rendah. Hal itu berbanding jauh dengan tingkat literasi. Pada 2026, tingkat literasi dana pensiun di Indonesia mencapai 22,21 persen, sementara inklusinya baru mencapai 5,10 persen. “Artinya kalau kita nanya 10 orang kira-kira atau 100 orang, 20 lebih itu sebenarnya sudah mengerti tentang dana pensiun. Tetapi yang kita lihat memang inklusinya masih kecil, sekitar 5 persen. Jadi ini PR kita semua bagaimana meningkatkan inklusi dari dana pensiun ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama di masa pensiun,” tutur Kiki.