Aprindo Ungkap Penyebab Beras Premium Langka: Tak Ada Pasokan di Bawah HET

Wait 5 sec.

Dua pekerja mengecek produk beras premium di Gudang RPC Food Station Tjipinang Jaya, Jakarta, Rabu (21/2/2024). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTOKetua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengungkap penyebab beras premium sulit ditemukan di sejumlah ritel modern.Menurut dia, beras premium sebenarnya masih banyak, tetapi pasokan yang bisa dijual ritel dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 14.900 per kilogram (kg) masih terbatas.Solihin mengatakan anggota Aprindo tidak memproduksi beras. Ritel mendapatkan beras dari pemasok, termasuk Bulog, sehingga ketersediaan produk di toko bergantung pada pasokan yang dapat dibeli dengan harga yang memungkinkan ritel memperoleh margin.“Saya nggak bilang kosong lho, ya. Beras premium itu banyak di pasaran. Tetapi yang mau atau bisa menjual harganya sesuai HET itu yang nggak ada. Kita nggak produksi, sehingga ritel harus membeli barang itu di bawah (HET) harganya,” kata Solihin kepada kumparan, dikutip Sabtu (26/9).Dia menjelaskan, ritel modern terikat dengan ketentuan HET. Jika beras premium dijual di atas Rp 14.900 per kg atau Rp 74.500 per kg, ritel berisiko berhadapan dengan persoalan hukum.Ketentuan HET beras premium diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 299 tahun 2025 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras yang berlaku mulai 22 Agustus 2025.Beras premium di Ritel Lotte Mart, Kuningan, Rabu (3/9/2025). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan“Karena retail itu, kan, terikat dengan HET. Harus Rp 14.900. Kalau misalkan kita menjual di atas Rp 14.900 per kilonya atau Rp 74.500 per 5 kilo, itu tentunya ada hal yang nantinya kita berhadapan dengan hukum. Sehingga retail harus membeli barang itu di bawah harganya,” ujarnya.“Para anggota saya (Aprindo) tidak memproduksi beras tersebut. Ya, kita tunggu aja dari pemasok di antaranya Bulog, kita tunggu,” katanya.Menurut Solihin, ritel tetap akan menjual beras selama tersedia pasokan dengan harga yang memungkinkan adanya margin.Terkait rencana pemerintah menggelontorkan beras premium ke ritel modern, Solihin mengatakan pihaknya masih menunggu realisasi pasokan tersebut.“Ya, udah, kan, namanya akan kok. Ya, kita tunggu aja,” katanya.Dia menyebut Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani juga telah berkomunikasi dengannya mengenai persiapan pasokan beras untuk ritel modern.“Mudah-mudahan Bulog bisa menyampaikan, merealisasikan apa yang diperintahkan oleh Pak Menko Pangan maupun Pak Mentan, ya. Karena Pak Menko Pangan langsung telepon di depan saya kepada Bulog. Dan Pak Rijal (Dirut Bulog) kemarin juga telpon saya. Dia sedang menyiapkan seperti itu,” ujar Solihin.Pengusaha Usulkan Kenaikan HET Imbas Harga Gabah NaikImbauan pembelian beras premium di Alfamidi Jalan Poltangan, Jakarta Selatan pada Jumat (9/2/2024). Foto: Widya Islamiati/kumparanDi tengah persoalan pasokan beras premium dengan harga sesuai HET, Solihin mengatakan Aprindo telah mengusulkan relaksasi harga kepada pemerintah. Dia mengaku telah membicarakan hal tersebut dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Direktur Utama Bulog.“Usulan, ya, udah pastilah. Saya cuma ngobrol sama Pak Menko Pangan, sama Direktur Bulog. Kemarin baru saya ngobrol,” katanya.Solihin mengatakan pemerintah saat ini masih menyiapkan pembahasan mengenai usulan tersebut. Namun, dia belum menyebut angka HET baru yang diusulkan.“Ya, kita selalu menyebut relaksasi atas harga itu. Tapi, kan, mungkin ada pertimbangan sendiri pemerintah di dalam usulan tersebut kalau disetujui,” ujarnya.Menurut dia, usulan relaksasi HET berkaitan dengan kenaikan harga gabah yang menjadi bahan baku beras. Solihin menyebut harga gabah di tingkat petani saat ini telah mencapai Rp 7.000-Rp 8.000 per kg, bahkan lebih.“Harga gabah di pasaran dulu hanya Rp 6.500. Dijadikan padi, kan, modalnya paling Rp 13.000. Dua kali lipat. Nah sekarang harga di padi itu sudah mencapai Rp 7.000, Rp 8.000, bahkan Rp 8.000 lebih. Beli barang itu kepada petani,” terang Solihin.