Belajar Nyetir dari Cuci Mobil, Sopir Truk Itu Kini Kritis Usai Dibakar Bosnya

Wait 5 sec.

Kondisi korban kasus pembakaran sopir truk galian. Foto: Dok. Satreskrim Polres KarangasemKeluarga IGS (20) merasa terpukul karena tulang punggung keluarga mereka dibakar oleh bosnya di Karangasem pada Jumat (18/9) pukul 11.30 WITA.Perbekel Desa Muncan, I Wayan Tunas, mengungkap keluarga tersebut mendapatkan pemasukan dari IGS yang sudah bekerja sebagai sopir truk galian. Ayah dan ibu IGS bekerja dengan penghasilan tidak menentu, sementara kakek dan neneknya sudah berusia lanjut."Betul, si IGS merupakan tulang punggung keluarga karena dia yang menjadi sopir, notabenenya setiap hari kalau bekerja pasti memang ada hasil. Ada juga adiknya yang masih umur belasan tahun, itu putus sekolah dan mengambil pekerjaan mencuci mobil," kata Tunas ketika diwawancarai di tempat kejadian perkara (TKP), Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Karangasem, Rabu (23/9).Tunas menjelaskan, IGS belajar menyetir truk dari pekerjaan sampingannya mencuci mobil sewaktu masih bersekolah. Setelah bisa mengendarai truk, dia bekerja sama dengan warga di Banjar Dinas Susut sebelum pindah bekerja dengan bosnya, IPCP (37), yang berada di Desa Pesaban.Selama bekerja dengan IPCP, IGS harus menyetor setiap 15 hari sekali dengan jumlah Rp 300 ribu setiap harinya. Namun, sebelum kejadian nahas itu menimpanya, IGS terbaring sakit selama 3 hari dan tidak bisa mencari uang.Tunas juga mengungkap, akibatnya IGS harus menunggak Rp 4,5 juta untuk setoran berikutnya. Sebelumnya, IGS juga mempunyai utang sebanyak Rp 4 juta kepada bosnya. Secara total, IGS harus membayar Rp 8,5 juta."Dari pihak korban belum punya. Kemarin sedikit sudah diberikan, tapi tidak diterima. IGS sempat memberikan uang, tetapi mungkin tidak sesuai dengan harapan bosnya, uang tersebut dilempar dan tidak diterima," ucapnya.Tunas menjelaskan, pada saat kejadian hanya nenek IGS yang berada di rumah. Setelah menanyakan tentang keberadaan IGS kepada neneknya, pintu kamar IGS langsung digedor dan dibuka oleh IPCP. IGS saat itu sedang berbaring karena sakit.Terjadi percekcokan antara IGS dengan IPCP. IGS diketahui sempat memberikan uang setoran kepada IPCP, tetapi jumlahnya lebih sedikit daripada yang diinginkannya. Uang tersebut lantas dilempar dan IGS disiram dengan Pertalite."Sepengetahuan dari neneknya, dia kelihatan tidak membawa Pertalite. Namun, mungkin ditaruh di kantong atau bagaimana, kami pun kurang tahu sehingga sudah terjadi penyiraman Pertalite dan terjadi kebakaran di kamar IGS," ungkap Tunas.Kondisi TKP kasus pembakaran sopir oleh bosnya di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Selat, Karangasem, Rabu (23/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparanSaat itu, Tunas sedang berada di upacara adat yang digelar di desa tersebut. Tunas dihubungi oleh Bhabinkamtibmas bahwa terdapat kejadian kebakaran di Banjar Dinas Susut. Namun, alih-alih melihat barang terbakar, Tunas mendapatkan informasi bahwa justru orang yang terbakar.Tunas juga diberi tahu mengenai kondisi IGS saat kejadian. IGS diketahui berteriak-teriak meminta tolong sambil berlari-lari dengan kobaran api di badannya. Tetangga IGS dan pekerja proyek pemerataan tanah kemudian datang untuk memadamkan api tersebut."Di Puskesmas, IGS merintih kesakitan, merintih panas. Dari Puskesmas, mungkin alatnya tidak memadai, dirujuk langsung ke RSUD Karangasem dan kemudian dibawa ke RSUP Ngoerah Denpasar," jelasnya.Di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, IGS mendapatkan perawatan intensif di instalasi luka bakar. Namun, kondisi IGS yang merupakan korban tindak pidana menyebabkannya tidak bisa mendapatkan perawatan melalui BPJS.Tunas mengatakan, akibatnya, tagihan membengkak setiap harinya hingga mencapai Rp 74 juta per Rabu (23/9). Hal tersebut memberi pukulan telak bagi keluarga IGS yang berstatus kurang mampu.Kondisi TKP kasus pembakaran sopir oleh bosnya di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Selat, Karangasem, Rabu (23/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparan"Secara ekonomi benar-benar mengandalkan keseharian. Bapaknya adalah tukang pasir atau kadang ke sawah. Jadinya sama sekali tidak tetap terkait dengan penghasilan. Dengan situasi seperti ini, jadinya benar-benar terpukul mengenai pembiayaan untuk IGS," ungkap Tunas.Pemerintah Desa Muncan pun mengatakan tidak mempunyai anggaran untuk kasus tersebut. Namun, Tunas dan warga desa tetap berusaha menggalang donasi, serta menghubungi komunitas, yayasan, dan kerabat untuk membantu pengobatan IGS."Dari pemerintah belum ada yang berkunjung atau menanyakan hal ini, baru sebatas kita di rekanan," jelasnya.Tunas mengatakan, keluarga pelaku juga sempat berkunjung dan memohon penyelesaian secara kekeluargaan. Namun, dari pihak keluarga belum memutuskan penyelesaian perkara tersebut karena masih fokus dengan pengobatan IGS."Sampai saat ini belum kami dengar ada bantuan dari pihak pelaku," kata Tunas.Sementara itu, ayah IGS, I Nengah Ngenteg, masih merasa syok dengan keadaan putra sulungnya. Dia mengatakan baru melihat kondisi IGS ketika berada di Puskesmas Selat karena diberi tahu oleh teman-temannya.Perbekel Desa Muncan, I Wayan Tunas (kiri), dan ayah IGS (20) I Nengah Ngenteg, saat ditemui di rumah IGS, Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Rabu (23/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparan"(Sekarang) kritis. Saya belum lihat (kondisi IGS lagi)," ucap Ngenteg sambil menahan tangis.Ngenteg mengungkap, pengobatan IGS berasal dari donasi yang digelar di tingkat desa dan berasal dari kerabat sekitar. Dia juga mengatakan, pelaku sama sekali belum membantu pengobatan IGS.Namun, Ngenteg hanya bisa pasrah dan berharap putranya cepat sehat."Saya enggak punya apa-apa (untuk biaya pengobatan)," ucapnya.