● Taman Nasional Berbak di Jambi-Sumsel menyimpan kekayaan tanaman obat tradisional yang besar.● Sayangnya, pengetahuan tentang obat tradisional tersebut kini terancam hilang.● Butuh trasnformasi dalam pendidikan dan ekonomi untuk melestarikannya.Taman Nasional Berbak Sembilang yang membentang di kawasan pesisir Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan sudah menjadi hutan lindung sejak 1935. Hutan ini amat kaya akan keanekaragaman hayati, baik fauna maupun berbagai vegetasi, termasuk diantaranya adalah tanaman obat.Pada April 2026, saya bersama tim peneliti melakukan kajian etnobotani guna menelusuri tanaman obat berdasarkan pengetahuan masyarakat sekitar hutan. Kami mendatangi dua desa penyangga sekitar hutan taman nasional, tepatnya Desa Sungai Rambut dan Desa Rantau Rasau, di Kecamatan Berbak, Tanjung Jabung Timur, Jambi. Tanaman obat tersebut sudah banyak tumbuh di sekitar desa warga, sehingga kami tak perlu sampai masuk ke kawasan hutan taman nasional.Dari penelusuran tersebut, kami mengidentifikasi setidaknya 71 spesies tumbuhan obat yang masih dikenal oleh masyarakat desa, di antaranya adalah tanaman dadap (Erythrina orientalis), sekejut (Mimosa pudica), lempuyang (Zingiber Sp.), leletup (Physalis angulata) dan spirtus (nama ilmiah dalam proses identifikasi).Masyarakat memanfaatkan bagian daun, batang atau akar tanaman tersebut untuk mengobati berbagai penyakit seperti demam, sakit perut, gatal, diare, hingga lemah tulang. Mereka meramu tanaman obat ini dengan berbagai cara. Ada yang daunnya cukup diremas lalu ditempelkan di bagian yang sakit, ada yang bagian akarnya direbus lalu airnya diminum, dan ada pula daun tanaman dilayur atau dipanaskan di atas api lalu ditempelkan di bagian tubuh yang sakit.Penelitian kami secara spesifik menelusuri tanaman obat untuk mengobati eksim. Spirtus adalah salah satu kandidat tumbuhan yang kami temukan. Beberapa warga bercerita, mereka biasanya menggunakan daun spirtus yang diremas dan dicampur minyak tanah lalu dioleskan ke bagian yang gatal. Selang beberapa waktu, eksim pun hilang. Penelitian kami berencana mengidentifikasi tanaman ini dan menguji lebih lanjut kandungan zat (fitosterol) pada spirtus di laboratorium untuk melihat sejauh mana daun spirtus secara ilmiah berkhasiat mengobati penyakit eksim.Pengetahuan tradisional yang mulai pudarPengetahuan warga di sekitar Berbak tentang tanaman obat ini diwariskan dari keluarga atau tokoh pengobatan tradisional setempat secara turun-temurun. Selama studi lapangan, kami menemukan pengetahuan tradisional masih dijaga oleh generasi tua. Namun sayangnya, transfer pengetahuan obat herbal dari tetua kepada kaum muda tak sepenuhnya terjadi. Seorang perempuan muda lokal yang menjadi pendamping penelitian kami bahkan menyatakan tidak berminat menjadi penerus pengobatan tradisional karena dianggap kuno dan bukan tren di kalangan anak muda. “Tidak mau jadi penerus Nyai, Pak. Orang-orang tua saja. Kami masih muda, nanti mati gaya,” ujar salah seorang perempuan muda lokal. Karenanya, informan kami untuk pengobatan tradisional di desa Sungai Rambut hanya ada tiga orang perempuan yang usianya di rentang 30-80 tahun. Sementara di Desa Rantau Rasau, pengetahuan obat-obatan ini hampir sirna setelah meninggalnya tokoh pengobatan tradisional terakhir desa tersebut pada 2025 lalu. Sementara seorang anaknya yang punya potensi menggantikan malah pindah ke kota setelah menikah.Hilangnya herbalis desa bersamaan dengan berkurangnya kebanggaan masyarakat terhadap pengetahuan obat-obatan tradisional. Masyarakat di dua desa hilir Jambi yang kami kunjungi nampak semakin kurang percaya diri karena adanya pandangan bahwa pengetahuan obatan tradisional itu sudah kuno, ditambah dominasi pengobatan medis puskesmas yang dianggap lebih praktis dan modern.Meski sebagian dari mereka ikut dalam berbagai kegiatan konservasi taman nasional, masyarakat setempat belum melihat tanaman obat-obatan ini memiliki nilai ekonomi. Akhirnya, mereka lebih memilih menanam dan menjual komoditas perkebunan seperti pinang dan kelapa sawit, karena hasilnya lebih pasti dan dapat langsung menghasilkan uang. Baca juga: Etnomedisin Suku Lio: Berkompromi di tengah kepungan pengobatan modern Butuh transformasi perubahan menyeluruhGejala sosial ekologi di atas menegaskan pentingnya upaya etnobiopedagogi transformatif, yakni upaya menggabungkan pelestarian tumbuhan, pengetahuan tradisional, pendidikan masyarakat, dan dukungan ekonomi secara bersamaan untuk menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat dan lingkungan.Pengetahuan tentang tanaman obat tradisional akan lebih berharga jika masyarakat tidak hanya diminta merawat pengetahuan tersebut dan melakukan konservasi tanamannya, tetapi juga ada upaya untuk mendatangkan manfaat ekonomi nyata dari tanaman yang dipelihara, misalnya menjembatani koneksi masyarakat desa penyangga Taman Nasional Berbak dengan pelaku industri herbal.Tren industri farmasi global dan gaya hidup masyarakat saat ini justru sedang berputar balik ke arah pengobatan herbal, pengakuan obat-obatan tradisional, dan fitofarmaka atau farmasi berbasis bahan dasar alam.Apalagi setelah Covid-19, makanan, minuman dan obat-obatan alami yang dibuat sendiri menjadi semacam tameng kesehatan keluarga. Peluang besar ini seharusnya dapat mengubah keadaan sosial, ekologi dan ekonomi desa-desa tradisional penyangga Taman Nasional Berbak. Dalam hal ini, ada beberapa langkah yang mesti dilakukan. Pertama, perlu edukasi kepada generasi muda Berbak, misalnya lewat muatan lokal dalam pembelajaran berisi pengetahuan obatan tradisional berdasarkan keanekaragaman hayati yang mereka miliki. Ini penting agar anak-anak muda memahami betapa berharganya tumbuhan obat tradisional mereka dan membangkitkan lagi kepercayaan diri sebagai pemilik pengetahuan pengobatan tradisional. Kedua, pelaku industri obat-obatan mesti hadir, baik melalui skema undangan pemerintah maupun sebagai tanggung jawab sosial korporasi (CSR), menjelaskan kepada masyarakat kebutuhan industri herbal saat ini. Bahkan, jika memungkinkan perusahaan melakukan kemitraan langsung dengan orang Berbak untuk budidaya tanaman tertentu sesuai kebutuhan industri. Hanya dengan begitu, pengetahuan obat-obatan tradisional orang Berbak akan lestari.Arfan saat ini menjadi Ketua Tim untuk penelitian berjudul Bioprospeksi Fitosterol Tumbuhan Lokal Taman Nasional Jambi sebagai Kandidat Bahan Aktif dalam Formulasi Skincare bagi Penderita Eksema. Penelitian ini didanai oleh kerjasama Kementerian Agama dan LPDP Kementerian Keuangan dibawah program The MoRA AIR Funds (The Ministry of Religious Affairs – The Awakened Indonesia Research Funds). Artikel ini adalah luaran awal dari penelitian yang masih sedang berjalan.