Mengapa sejumlah negara bisa beri listrik gratis bahkan sampai ‘membayar’ warganya untuk pakai setrum

Wait 5 sec.

vfhnb12/ShutterstockDi Jerman dan Australia, fenomena rumah tangga ditawari listrik gratis semakin sering terjadi. Hal ini terjadi pada waktu-waktu tertentu ketika produksienergi dari tenaga surya atau angin sedang tinggi-tingginya. Alhasil, listrik yang dihasilkan lebih banyak daripada yang dibutuhkan masyarakat. Sementara itu, kapasitas penyimpanan energi yang tersedia juga terbatas. Sebagian besar listrik pun perlu disalurkan untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan. Seiring banyaknya negara yang memperluas penggunaan energi angin dan surya, semakin banyak pula masyarakat yang bisa menyalakan mesin cuci atau merebus air dengan ketel listrik tanpa kena tagihan listrik.Ketika pasokan melebihi permintaan, harga listrik bisa turun drastis, bahkan terkadang sampai negatif. Harga listrik negatif itu sederhananya, produsen listrik yang membayar konsumen untuk menggunakan kelebihan listrik yang tersedia.Fenomena ini bahkan sudah mulai terjadi di beberapa negara Eropa lain seperti Spanyol. Pada 2024 saja, pasar listrik Eropa mencatat tagihan listrik negatif melebihi seribu jam. Energi terbarukan telah berkembang pesat beberapa tahun terakhir. Sebagian besar pertumbuhan ini merupakan sokongan tenaga surya.Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan kapasitas tenaga surya akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2030 dan menyumbang hampir 80% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik baru di dunia. Energi terbarukan juga diprediksi bakal memenuhi lebih dari 90% pertumbuhan kebutuhan listrik global pada 2030.Tahun 2025, produksi listrik rendah karbon global meningkat sekitar 887 TWh (terawatt-jam), sedikit lebih tinggi daripada kenaikan permintaan listrik.Energi surya memenuhi sekitar 75% pertumbuhan tersebut. Sementara gabungan energi surya dan angin memenuhi hampir semua kebutuhan listrik.Sejumlah negara memiliki kelebihan pasokan listrikDi berbagai belahan dunia lain, surplus pasokan kian melimpah pada tahun 2025 menunjukkan harga listrik negatif menjadi semakin tidak bernilai. Di Spanyol, angka ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Di Prancis meningkat hampir 50%, sementara Belanda mengalami kenaikan sekitar 25%.Pola serupa juga mulai terlihat di berbagai negara Eropa seperti Finlandia, Swedia, Inggris, dan Jerman, Sedangkan di Jerman, produksi listrik yang tinggi dari angin dan surya—terutama pada akhir pekan—juga menghasilkan surplus pasokan. Kondisi ini kini cukup sering terjadi sehingga memengaruhi harga listrik.Bergeser ke Australia, tren serupa terjadi karena pertumbuhan panel surya atap yang menghasilkan listrik dalam jumlah besar pada siang hari ketika kebutuhan rumah tangga relatif rendah.Di Australia Selatan, harga listrik negatif mencakup sekitar seperempat dari pasokan listrik secara keseluruhan pada 2023 dan 2024.Pun di California, Amerika Serikat, proporsi jam dengan harga listrik negatif meningkat dari sekitar 4% pada 2023 menjadi 15% di 2024. Semua terjadi karena bauran energi terbarukan yang konsisten dan terealisasi dengan optimal. Baca juga: Setelah ‘blackout’ Sumatra, listrik padam bergilir di Jawa: Ada masalah pasokan batu bara? Kelebihan pasokan jadi berkah tersendiri bagi masyarakat AustraliaPola terjadinya kelebihan pasokan ini sebenarnya menunjukkan bahwa sistem kelistrikan saat ini belum cukup fleksibel untuk merespons perubahan pasokan yang sangat cepat. Akibatnya operator terkadang terpaksa “membuang” kelebihan listrik dengan cara menyalurkan listrik secara cuma-cuma agar sistem tetap dapat beroperasi dengan baik. Pada saat-saat ketika pasokan energi dari tenaga surya di Australia melimpah, tarif listrik pun diturunkan. anatoliy_gleb/Shutterstock Namun, Australia sepertinya sudah mulai menemukan cara mengatasi masalah ini. Harga listrik negatif kini umum terjadi dua hingga tiga jam setiap hari. Tapi di sisi lain lonjakan harga listrik bisa ditekan sedemikian rupa.Harga listrik nol atau negatif itu terjadi di pasar grosir (wholesale markets), yaitu pasar tempat pembangkit menjual listrik ke perusahaan listrik. Namun, tagihan listrik rumah tangga biasanya memakai harga eceran yang juga mencakup biaya jaringan dan pajak. Sebagian konsumen mungkin bisa merasakan manfaat, seperti pelanggan yang menggunakan tarif fleksibel (harga berubah mengikuti kondisi pasar). Mereka bisa menikmati listrik lebih murah atau bahkan “gratis” pada jam-jam tertentu.Namun pelanggan yang memiliki baterai penyimpanan atau sistem pintar bakal mendapat manfaat lebih besar dari tren ini. Sebab, mereka bisa menyimpan energi untuk malam hari ketika konsumsi biasanya lebih tinggi. Artinya, mereka tidak perlu membeli setrum saat harga lebih mahal.Hal ini mencerminkan sistem yang mulai beradaptasi. Operator Pasar Energi Australia (AEMO) menyebut baterai skala besar semakin berperan penting untuk menyimpan listrik saat pasokan melimpah dan melepaskannya ketika permintaan meningkat. Langkah ini membantu meredam fluktuasi harga dan menstabilkan sistem.Secara keseluruhan, perubahan ini menandai perubahan besar dalam operasi sistem kelistrikan. Seiring bertambahnya pembangkit energi terbarukan, pasokan listrik akan semakin dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Oleh karenya, sistem listrik pun juga harus lebih fleksibel.Mulai diterapkan di InggrisPerubahan ini sudah mulai memengaruhi kebijakan di negara lain seperti Inggris. Menurut Operator Sistem Energi Nasional UK/NESO, mulai musim panas 2026, rumah tangga dan pelaku usaha akan didorong untuk menggunakan lebih banyak listrik pada saat pasokan berlebih, terutama saat produksi tenaga surya tinggi dan permintaan rendah.Waktu penerapan kebijakan ini bukanlah kebetulan. Sebagai bagian dari transisi menuju energi terbarukan, terutama tenaga surya, periode kelebihan pasokan listrik di Inggris, semakin sering terjadi.Pola serupa pernah terlihat di Jerman, ketika melonjak tajam, produksi tenaga surya menciptakan kebutuhan mendadak akan fleksibilitas sistem yang lebih besar. Pemadaman massal atau blackout yang terjadi di Spanyol dan Portugal pada 2025, menunjukkan betapa cepatnya ketidakstabilan dapat terjadi jika sistem tidak mampu merespons secara efektif.Untuk menanggulanginya, operator sistem Inggris memprioritaskan pemantauan kondisi semacam ini dan dikelola secara aktif. Pada akhirnya, listrik gratis mencerminkan perubahan yang lebih mendalam dalam cara kerja sistem energi modern. Seiring pertumbuhan energi terbarukan, kelebihan pasokan listrik bakal menjadi semakin hal lumrah di sejumlah negara. Listrik gratis—atau bahkan situasi saat konsumen ‘dibayar’ untuk menggunakan listrik—kemungkinan akan semakin sering terjadi di masa depan.Salma Al Arefi tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.