Kisah Komunitas Kalijawi di Yogya: Tabungan Rp 2 Ribu Bisa Renovasi 165 Rumah

Wait 5 sec.

Anggota Komunitas Kalijawi berkumpul di balai bambu di Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Jumat (26/6/2026). Komunitas tersebut dikenal melalui gerakan tabungan Rp2 ribu yang mereka galang untuk membantu renovasi rumah warga. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanDi sebuah balai yang terbuat dari bambu di Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta sejumlah ibu-ibu berkumpul. Satu per satu mereka menyetorkan uang untuk tabungan. Kelak tabungan itu bisa digunakan untuk merenovasi rumah.Para ibu-ibu ini tergabung dalam Komunitas Kalijawi yang merupakan singkatan dari kali atau sungai Gajahwong dan Winongo. Komunitas ini lahir pada 2012 silam dengan diinisiasi oleh perempuan yang tinggal di bantaran Sungai Gajahwong dan Winongo.Kalijawi terbentuk atas dasar kesamaan latar belakang permasalahan anggotanya, mulai status tanah, ekonomi, sanitasi, dan permasalahan permukiman lainnya.Ketua Kalijawi, Ainun Murwani (49), mengatakan komunitasnya ini memiliki tiga kegiatan utama mulai dari penataan kampung, pemberdayaan perempuan, dan pengelolaan dana komunitas.Ainun bercerita Kalijawi muncul dari komunitas arsitek di Yogya yang mengajak melakukan pemetaan kondisi di empat kampung. Para ibu-ibu tertarik dengan kegiatan ini dan berdirilah Kalijawi."Akhirnya yang mengembangkan kegiatan ini adalah ibu-ibu. Jadi dari empat kampung itu bergerak ke kampung-kampung sebelahnya. Akhirnya kita dapat 14 kampung yang dipetakan," kata Ainun saat ditemui, Jumat (26/6)."Dari hasil pemetaannya tuh masalahnya sama, masalah yang paling urgen adalah tentang status lahan dan juga rumah tidak layak huni serta kondisi lingkungan yang buruk. Jadi sampah, sanitasinya buruk, gitu," tambah dia.Tabungan untuk Renovasi RumahKetua Kalijawi, Ainun Murwani (49) saat ditemui kumparan di di balai bambu, Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Jumat (26/6). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanSalah satu program dari komunitas ini adalah renovasi rumah. Para anggota setiap harinya menabung Rp 2 ribu ke ketua kelompoknya. Setiap dua bulan ada satu rumah anggota kelompok yang bisa direnovasi dari tabungan ini."Waktu itu ada hibah sekitar Rp 300 juta, tapi kami merasa itu tidak cukup karena untuk menyelesaikan masalah RTLH di 14 kampung. Terus akhirnya kami sepakat untuk membuat program tabungan untuk renovasi," ungkap Ainun."Dana hibah itu tidak dihibahkan tapi digulirkan, ditambah dengan swadaya masyarakat untuk menabung. Jadi menabung sehari Rp 2 ribu, kita bikin kelompok-kelompok kecil di 14 kampung terkumpul 15 kelompok. Ada 165 anggota karena satu kelompok itu ada 15 orang, gitu," ucapnya.Uang tabungan dari anggota itu setiap dua bulan dicairkan per kelompok. Rinciannya uang tabungan Rp 1,2 juta ditambah dari dana hibah Rp 1,8 juta."Kami buat seperti arisan karena yang paling disenangi masyarakat arisan. Siapa yang dapat dia renovasi duluan" kata dia.Anggota Komunitas Kalijawi berkumpul di balai bambu di Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Jumat (26/6/2026). Komunitas tersebut dikenal melalui gerakan tabungan Rp2 ribu yang mereka galang untuk membantu renovasi rumah warga. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanDalam praktiknya program renovasi ini biayanya membengkak lebih dari Rp 3 juta. Kekurangan ini diatasi dengan swadaya. Sejak 2012 hingga saat ini sudah ada 165 rumah yang berhasil direnovasi melalui program ini."165 rumah yang program renovasi. Tapi, untuk program lanjutannya sampai sekarang sekitar ada 400-an rumah yang sudah berhasil direnovasi. Baik itu dengan subsidi dari Kalijawi maupun mandiri tanpa subsidi, tapi mereka mengakses pinjaman dari Kalijawi untuk renovasi rumah," katanya.Saat ini anggota Kalijawi mencapai 278 KK. Tak hanya di Yogyakarta, anggota juga ada di bantaran Sungai Gajahwong yang berada di Kabupaten Sleman."Anggota-anggotanya warga-warga yang berada di sekitar bantaran sungai sama rel kereta api," katanya.Mayoritas rumah yang renovasi menyasar fasilitas mandi cuci kakus (MCK), sirkulasi pencahayaan, dan sirkulasi udara. Sebab, dahulu ada warga yang tiap hari beli obat pusing, ternyata penyebabnya sirkulasi udara dan cahaya yang buruk."MCK, juga mereka nggak punya MCK," tutur Ainun.Pendidikan Manajemen KeluargaAnggota Komunitas Kalijawi berkumpul di balai bambu di Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Jumat (26/6/2026). Komunitas tersebut dikenal melalui gerakan tabungan Rp2 ribu yang mereka galang untuk membantu renovasi rumah warga. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanTak hanya renovasi rumah, komunitas ini juga memberikan pelatihan manajemen keuangan keluarga."Selalu kita tekankan bahwa masalah rumah ini adalah awal dari memperbaiki semuanya. Ketika rumahnya nyaman, sudah tidak berpikir lagi tentang kenyamanan tinggal kan? Berarti dia bisa berpikir mencari makannya lebih tenang, mencari akses yang lain lebih mudah, kayak gitu. Jadi kami percaya bahwa menyelesaikan masalah rumah itu bisa membuka akses ke yang lain, ekonomi, pendidikan, ke yang lain," papar dia.Saat awal-awal berdiri, komunitas ini tak luput dari penolakan. Banyak warga yang ragu dan menilai sebagai investasi bodong."Karena mereka kan masalah uang ya, padahal sistemnya udah kita buat bahwa uang itu dikumpulkan di kelompok. Kelompok ada bendahara, sekretaris, itu mengelola uang itu. Tapi mereka tetep kayak nggak percaya, 'Wah ini investasi bodong,' kayak-kayak gitu," jelas Ainun.Anggota Komunitas Kalijawi berkumpul di balai bambu di Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Jumat (26/6/2026). Komunitas tersebut dikenal melalui gerakan tabungan Rp2 ribu yang mereka galang untuk membantu renovasi rumah warga. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanNamun ketika ada satu-dua rumah yang berhasil direnovasi, warga lain kemudian tertarik untuk ikut.Ke depan Kalijawi akan terus bergerak membantu masyarakat termasuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah."Ke depannya pasti program renovasi rumah ini pasti akan terus kita lakukan. Kita juga akan bekerja sama dengan pemerintah, bahkan kita mengusulkan bahwa koperasi, ketika pemerintah memberikan bantuan, itu dikelola oleh koperasi," ujarnya."Jadi si penerima manfaat ini disatukan dalam bentuk koperasi, supaya nanti ketika 5 tahun dilihat itu rumahnya nggak kembali kumuh. Karena mereka selain ada tabungan, selain itu juga ada peningkatan kapasitas, pemahaman tentang permukiman," sambung Ainun.Rumah Tak Lagi PengapSudirah (52) salah satu anggota Kalijawi yang rumahnya direnovasi dengan program tabungan renovasi komunitas Kalijawi. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanSudirah (52), salah satu anggota Kalijawi, mengaku merasakan manfaat dari program tabungan renovasi rumah ini.Dia telah bergabung dengan Kalijawi sejak 2013 silam. Ketika terjangkit COVID-19 pada 2020 silam, dia harus istirahat di rumah. Saat itu rumahnya yang minim sirkulasi direnovasi."Sekarang rumah saya jadi tinggi, kalau dulu sirkulasi udara kurang bebas. Nggak ada jendela, gentengnya juga pendek," kata Sudirah."Jendela nggak ada, sumpek. Dulu saya dikarantina karena kena Covid toh. Saya mau dibawa ke rumah (isolasi) nggak mau. Terus sama Kalijawi dikasih bantuan renovasi rumah," ungkapnya.Selain tabungan untuk renovasi rumah, Kalijawi juga memberikan fasilitas lain bagi keluarganya termasuk pinjaman untuk pendidikan anak."Dari koperasi bisa pinjam untuk pendidikan anak. Ada yang pendidikan, ada yang kesehatan," kata perempuan yang sehari-hari berjualan kelontong ini.