Gen Z Ingin Menikah, Finansial Masih Jadi Hambatan Terbesar

Wait 5 sec.

Fauzia (20), Peserta Termuda Golek Garwo Kemenag bersama Ibunya di Smesco Exibition Hall, Jakarta, Minggu (28/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparanDi usianya yang baru 20 tahun, Fauziah Suraya Firdausi tidak merasa takut membicarakan pernikahan. Namun, baginya, menikah bukan perlombaan yang harus dimenangkan lebih cepat dari orang lain.Di sela-sela sesi Golek Garwo dalam rangkaian Nikah Fest 2026 di SMESCO Exhibition Jakarta, mahasiswi asal Bekasi itu justru berbicara tentang sesuatu yang jarang menjadi pembahasan utama ketika orang mencari pasangan, yakni kesiapan finansial."Kalau misalnya sudah menikah itu butuh kepastian finansial. Itu paling penting, karena nanti kita bakal ngurusin anak. Nikah itu kan bukan sebatas cinta, suka sama suka doang. Tapi kita juga punya responsibility dan harus bisa bertahan menghadapi setiap situasi," kata Fauzia kepada kumparan, Minggu (28/6).Pandangan itu muncul bukan karena ia sudah lama mencari pasangan. Justru sebaliknya. Fauziah mengaku baru mulai membuka diri tahun ini. Sebelumnya, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar, mencari pengalaman, dan menjalani pekerjaan sebagai freelancer sambil kuliah."Sebelum-sebelumnya lebih ke sibuk belajar, nyari pengetahuan, pengalaman lebih banyak," katanya dengan serius.Kesempatan mengikuti Golek Garwo pun datang tanpa direncanakan. Ia mengetahui acara tersebut melalui Instagram, lalu memutuskan ikut setelah diajak sang ibu.Prosesi Golek Garwo dalam Rangkaian Acara Nikah Fest 2026 yang Diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Smesco Exibition Hall, Jakarta, Minggu (28/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan"Sebenarnya aku enggak kepikiran sih pengin ikut. Cuma kan diajakin sama Ibu, jadi kayak, Oh yaudah coba ikut, siapa tahu ada yang cocok juga. Kayak gitu aja sih paling alasannya," ujarnya.Ia sempat mengira acara itu hanya pameran pernikahan. Ternyata, di dalamnya terdapat sesi ta'aruf yang mempertemukan para peserta untuk saling mengenal.Fauziah menjadi peserta termuda dalam ruangan itu. Di sekelilingnya, mayoritas peserta sudah memasuki usia 30-an. Ia sempat memperhatikan beberapa peserta laki-laki yang tampil rapi saat memperkenalkan diri. Namun begitu mengetahui usia mereka, harapannya perlahan surut."Aku kira mungkin ada yang seusiaan kayak aku, cuma ternyata kebanyakan sudah kepala tiga," katanya.Hari itu ia memang tidak menemukan pasangan yang sesuai. Namun, pengalaman tersebut justru menguatkan pandangannya mengenai alasan banyak anak muda belum berani melangkah ke jenjang pernikahan.Menurut Fauziah, persoalannya bukan lagi soal sulit menemukan pasangan, melainkan soal rasa aman menghadapi masa depan yang dianggap semakin tidak pasti."Sekarang kan negara juga lagi kayak di ambang gimana sih, kayak enggak pasti gitu kan. Jadi mungkin orang-orang tuh lebih fokus buat nyari pengalaman, pekerjaan, sampai mereka menemukan financial freedom. Jadi setelah mereka sudah siap, baru mereka pengin menikah," kata Fauziah dengan serius.Ia bahkan menilai kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi membuat sebagian anak muda memilih menunda pernikahan, bahkan mempertimbangkan untuk tidak memiliki anak."Sampai kadang-kadang ada orang yang saking takut buat nikah itu sampai pengin childfree gitu," jelasnya.Meski demikian, Fauziah tidak melihat keadaan tersebut sebagai alasan untuk kehilangan harapan. Baginya, menikah tetap menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan ketika seluruh persiapan telah terpenuhi.Karena itulah, ketika ditanya mengenai pasangan ideal, ia tidak menyebut paras tampan ataupun pekerjaan bergengsi. Yang ia cari justru seseorang yang telah mandiri secara finansial, mampu menjadi imam dalam keluarga, serta menjalani gaya hidup sehat."Kalau aku tuh, kalau laki-laki senengnya sama yang udah financial freedom, terus dia bisa jadi imam yang baik, dan dia bisa menjaga kesehatan dirinya aja sih. Kayak misalnya dia enggak ngerokok, dia tahu itu kurang bagus buat tubuh. Jadi dia tahu mana yang baik, mana yang buruk. Itu sih," kata dia.Prosesi Golek Garwo dalam Rangkaian Acara Nikah Fest 2026 yang Diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Smesco Exibition Hall, Jakarta, Minggu (28/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparanMeski belum menemukan sosok tersebut di Golek Garwo, ia tidak merasa kecewa. Jika kesempatan serupa kembali hadir, ia mengaku bersedia mencoba lagi. Namun untuk saat ini, prioritasnya tetap menyelesaikan kuliah dan membangun masa depannya sendiri.Bagi Fauziah, pernikahan adalah ikatan yang sakral dan membutuhkan kematangan, bukan hanya perasaan saling mencintai.Karena itu, ia juga memiliki pesan sederhana bagi teman-teman seusianya yang mulai merasa tertinggal karena belum menikah."Kalau menurut aku take time aja sih. Jadi kita enggak usah terburu-buru melihat standar di sini. Misalnya orang sudah pada nikah, tapi kok aku belum ya? Karena kan jodoh enggak ke mana ya," tegas Fauziah.Ucapan itu menjadi penutup yang mencerminkan cara pandang banyak anak muda hari ini. Mereka tidak menolak pernikahan. Mereka hanya ingin memasuki fase itu ketika merasa benar-benar siap, terutama dari sisi ekonomi. Bagi Fauziah, menemukan pasangan hidup tetap penting, tetapi memastikan masa depan keluarga dapat berdiri di atas fondasi yang kokoh jauh lebih penting daripada sekadar menikah lebih cepat.