Sejumlah pemandu wisata mendatangi pos pemeriksaan Gunung Bromo di Wonokitri, Pasuruan. Foto: Dok. Humas BB-TNBTSPetugas ticketing ricuh dengan sejumlah pemandu wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Sabtu (27/6) dini hari. Insiden ini bermula dari adu mulut karena perbedaan jumlah tiket dengan wisatawan yang dibawa pemandu wisata. Kepala Balai Besar (BB) TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengungkapkan, insiden dugaan kekerasan itu berawal dari pemeriksaan dan verifikasi data pengunjung yang memasuki kawasan TNBTS oleh petugas. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kesesuaian jumlah pengunjung yang datang dan masuk dengan data pemesanan tiket yang terdaftar dalam sistem."Dalam proses tersebut, beberapa tiket masuk yang dibawa oleh sejumlah pelaku jasa wisata yang belum sesuai dengan jumlah pengunjung yang akan masuk kawasan TNBTS," kata Rudijanta Tjahja Nugraha, dalam keterangannya, Minggu (28/6).Perbedaan jumlah wisatawan yang terdata itulah yang akhirnya memunculkan adu mulut antara petugas dan pemandu wisata. Pada situasi itu juga terdapat upaya dari pemandu wisata mengajak pengemudi lain untuk tidak mengikuti prosedur pemeriksaan, dan memasuki kawasan tanpa melalui proses pemindaian QR code, sebagaimana ketentuan yang berlaku."Situasi yang semula berupa perbedaan pendapat kemudian meningkat menjadi kericuhan yang disertai tindakan kekerasan fisik," ungkap Rudijanta.Saat itu petugas BB-TNBTS yang dibantu oleh Marinir TNI AL terus mendapat tekanan dari ratusan pemandu wisata dan sejumlah wisatawan, hingga membuat emosi petugas memuncak. Salah satu petugas diduga melakukan pemukulan terhadap salah satu pemandu wisata usai menerima provokasi dan penyerangan."Dalam situasi tersebut, tindakan yang dilakukan petugas merupakan respons spontan atau refleks pembelaan diri untuk menghentikan penyerangan yang sedang berlangsung, serta melindungi diri dan petugas lainnya. Oleh karena itu, informasi yang menggambarkan seolah-olah aparat melakukan pemukulan secara sepihak tidak menggambarkan rangkaian peristiwa secara utuh," jelasnya.Setelah kondisi sempat mereda, aktivitas pelayanan di pintu masuk kembali berjalan normal. Tapi pada pagi harinya, kembali terjadi kericuhan susulan yang melibatkan sejumlah pelaku jasa wisata yang mendatangi area pintu masuk. Mereka melakukan tindakan yang mengarah pada penyerangan terhadap petugas serta personel pengamanan."Petugas bersama unsur pengamanan segera melakukan langkah-langkah pengendalian situasi guna mencegah eskalasi lebih lanjut dan memastikan pelayanan kepada pengunjung tetap berlangsung," tuturnya.Sejumlah pemandu wisata mendatangi pos pemeriksaan Gunung Bromo di Wonokitri, Pasuruan. Foto: Dok. Humas BB-TNBTSSetelah suasana mulai kondusif, pada pukul 06.21 WIB, dilakukan mediasi di Kantor Resort PTN Gunung Penanjakan yang difasilitasi oleh Polsek Tosari Pasuruan, dengan menghadirkan pihak-pihak yang terlibat. Pada mediasi tersebut, para pihak telah menyampaikan penjelasan masing-masing dan sepakat menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan."Secara personal, pihak-pihak yang terlibat telah saling memahami dan saling memaafkan. Kami dari BB-TNBTS mengapresiasi dukungan Polsek Tosari, unsur pengamanan, koordinator pelaku jasa wisata, serta seluruh pihak yang telah membantu menjaga situasi tetap kondusif," paparnya.Rudijanta menjelaskan, kehadiran marinir TNI AL di pos pemeriksaan Wisata Gunung Bromo bertujuan untuk membantu keamanan karena banyaknya jumlah wisatawan yang datang. Petugas BB-TNBTS diakui kekurangan jumlah personel dalam melayani ribuan wisatawan yang hadir saat akhir pekan atau musim libur sekolah saat ini."Terkait pengamanan dari unsur TNI AL, kami BB-TNBTS mendapat dukungan pengamanan dari unsur TNI AL yang ditempatkan di beberapa pintu masuk kawasan, tetmasuk Wonokitri Pasuruan, Cemorolawang Probolinggo, dan Jemplang Malang," bebernya."Kehadiran personel Marinir saat kejadian merupakan bagian dari dukungan pengamanan untuk membantu menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran pelayanan pengunjung," tambahnya.Pihaknya mengimbau seluruh pihak untuk menyikapi informasi yang beredar secara bijak, serta tidak menyebarluaskan potongan video maupun informasi yang tidak utuh, karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat."Kami tetap berkomitmen menjalankan prosedur pelayanan dan pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku demi keselamatan pengunjung, ketertiban administrasi, serta pengelolaan kawasan konservasi yang lebih baik," ucapnya.