BI: Likuiditas RI Cukup, Ekspansi Moneter Capai Rp 1.000 T hingga Juni 2026

Wait 5 sec.

Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam penutupan KKI, Minggu (10/8). Foto: Bank IndonesiaDeputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan saat ini kondisi likuiditas Indonesian terus dijaga. Salah satunya dengan melakukan ekspansi dalam operasi moneter.Kebijakan moneter ekspansif adalah kebijakan adalah suatu sistem yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengatur jumlah uang beredar.Adapun ekspansi operasi moneter yang dilakukan sampai akhir Juni ini menurut Destry sudah mencapai Rp 1.000 triliun. Angka tersebut naik dari operasi moneter bulan Mei.“Sebagai contoh untuk likuiditas di operasi moneter kami kalau kita lihat di bulan di akhir bulan Mei ekspansi yang kami lakukan sekitar Rp 600 triliun, maka di akhir bulan Juni ini kami sudah melakukan ekspansi hingga Rp 1.000 triliun,” kata Destry dalam konferensi pers di Gedung Parlemen, Jakarta pada Senin (29/6).Destry menjelaskan, upaya tersebut memang dilakukan untuk menjaga stabilitas baik di pasar uang maupun valuta asing (valas). BI juga berkomitmen untuk terus menjaga likuiditas pasar dengan berbagai instrumen yang dimiliki.“Khusus itu untuk menjaga likuiditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita,” ujarnya.Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal LinggaSebelumnya, DPR RI juga telah menyelenggarakan rapat koordinasi fiskal-moneter bersama DPR, Kemenkeu, sampai Bank Indonesia. Dari rapat itu, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih ada dalam kondisi yang baik.Meski begitu, Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi masih harus tetap diwaspadai. Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (29/6) pukul 12.00 WIB, nilai tukar rupiah ada di Rp 17.859 per dolar AS atau menguat 63 poin (0,35 persen).“Keadaan ekonomi Indonesia sebetulnya secara fundamental cukup baik. Namun kita memang menghadapi pelemahan rupiah yang lebih daripada kita. Berarti kita juga harus mewaspadai bagaimana menjaga isu confidence dan trust,” kata Mari.Mari juga menjelaskan di tengah ketidakpastian global, yang terpenting adalah menjaga kestabilan makroekonomi. Hal ini karena faktor global sangat berpengaruh ke beberapa aspek termasuk inflasi.“Dan ada kesepakatan saya rasa yang tercapai bahwa yang penting adalah menjaga kestabilan makroekonomi di jangka pendek. Karena kita sudah melihat dampak dari ketidakpastian global misalnya harga minyak meningkat dan dampaknya kepada inflasi yang sudah mempengaruhi inflasi dan daya beli di masyarakat,” ujarnya.