Ilustrasi saham gorengan. Foto: ImageFlow/ShutterstockFenomena fear of missing out (FOMO) tengah melanda pasar saham Taiwan. Banyak investor muda di negara tersebut bahkan rela berutang demi meruap cuan di tengah saham teknologi yang naik lebih dari 100 persen dalam setahun terakhir.Demam kecerdasan buatan (AI) dan chip membuat remaja berbondong-bondong membuka rekening efek. Bahkan lonjakan transaksi sempat membuat situs perusahaan sekuritas tumbang, sementara pasar saham Taiwan melaju begitu cepat hingga dalam hitungan pekan berhasil menyalip Inggris, Kanada, dan India untuk menjadi pasar saham terbesar kelima di dunia.Di balik euforia tersebut, penggunaan dana pinjaman untuk membeli saham semakin marak. Banyak perusahaan sekuritas telah mencapai batas internal untuk beberapa jenis pembiayaan sehingga terpaksa meminta jaminan tambahan dan menaikkan suku bunga pinjaman.Salah satu investor yang terbawa gelombang FOMO itu adalah Andy Cheng, pria berusia 26 tahun yang sedang menganggur. Dengan tambahan dana pinjaman, ia kini memiliki saham teknologi Taiwan senilai USD 60.000."Beli saham apa saja dan Anda akan menghasilkan uang," kata Cheng dikutip dari Bloomberg, Rabu (24/6). Menurutnya, reli saham teknologi yang dipicu perkembangan AI saat ini bukan sekadar gelembung sementara. Cheng mengenang suatu malam ketika ia berkumpul bersama teman-temannya di Pin Xian Rechao, restoran sederhana di selatan Taipei yang mendadak populer setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, sempat terlihat makan malam di sana. CEO Nvidia Jensen Huang menghadiri pertemuan internal perusahaan di lahan kavling T17 dan T18 mereka di Shilin-Beitou Technology Park di Taipei, Taiwan, Rabu (27/5/2026). Foto: I-HWA CHENG/AFPHari itu, indeks saham Taiwan memang baru saja ditutup melemah 3,5 persen. Namun, suasana di restoran justru riuh. Para pengunjung yang menikmati hidangan tampak antusias memperbincangkan AI dan pasar saham, bahkan saling bertukar pandangan mengenai kesempatan membeli saham di tengah koreksi pasar.Di salah satu sudut restoran, seorang pria paruh baya bahkan terdengar menjelaskan kepada teman-temannya soal rasio price-to-earnings (P/E) dan cara menggunakannya untuk memilih saham yang berpotensi menjadi pemenang.Saat pembicaraan beralih ke pasar saham, teman-teman Andy Cheng pun banyak meminta pendapatnya. Menurut Cheng, reli saham saat ini berbeda dengan gelembung dotcom pada akhir 1990-an yang berujung pada kejatuhan pasar."Jadi ini bukan gelembung. Kali ini ada fondasi yang nyata," ujarnya.Optimisme serupa juga dimiliki Albert Chen, mahasiswa hukum berusia 25 tahun. Ia menilai dominasi perusahaan teknologi di Taiwan membuat prospek pasar saham negara itu tetap menjanjikan."Bahkan jika pasar turun selama sebulan penuh, saya tetap percaya diri. Fundamentalnya terlalu kuat. Taiwan memang luar biasa," ungkapnya.Tidak hanya investor muda seperti Cheng dan Chen, demam investasi juga menyeret Ada Hung, influencer saham berusia 39 tahun yang memiliki hampir 500 ribu pengikut di media sosial. Setelah bertahun-tahun menolak berutang untuk berinvestasi, ia akhirnya mengambil pinjaman NTD 5 juta atau sekitar USD 158.000 pada Mei lalu."FOMO ini benar-benar membuat saya terjebak," ujar Hung.Menurutnya, lebih baik mengejar peluang dibanding membiarkannya lewat begitu saja.Ekonom Mulai Ingatkan Risikonya seperti Era DotcomCEO Nvidia Jensen Huang berbicara dalam pertemuan internal perusahaan di lahan kavling T17 dan T18 mereka di Shilin-Beitou Technology Park di Taipei, Taiwan, Rabu (27/5/2026). Foto: I-HWA CHENG/AFPDi tengah optimisme tersebut, sejumlah ekonom mulai memperingatkan risiko terbentuknya gelembung di pasar saham Taiwan, terutama karena negara itu merupakan pusat industri chip dunia yang menjadi tulang punggung perkembangan AI.Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) bersama perusahaan-perusahaan pendukungnya memproduksi sekitar 90 persen chip paling canggih di dunia yang digunakan untuk smartphone, laptop, robot, hingga pusat data AI. Namun, jika pembangunan infrastruktur AI melambat, permintaan terhadap chip juga berpotensi melemah."Pasar saham Taiwan jelas sudah terlalu panas," kata Profesor ekonomi National Central University, Dachrahn Wu. Ia khawatir aksi jual besar-besaran dapat memicu kerugian yang menghancurkan bagi investor muda yang menganggap pasar saham sebagai cara mudah menghasilkan uang.Kekhawatiran tersebut muncul seiring lonjakan utang margin investor Taiwan yang mendekati level sebelum pecahnya gelembung dotcom pada awal 2000-an.Gelembung dotcom merupakan periode ketika saham perusahaan internet melonjak tajam pada akhir 1990-an karena euforia terhadap teknologi baru. Namun, banyak perusahaan ternyata tidak memiliki model bisnis yang kuat sehingga ketika kepercayaan investor memudar, harga saham anjlok dan memicu kerugian besar.Dalam 12 bulan terakhir, nilai pinjaman margin di Taiwan melonjak 160 persen, mendekati rekor yang tercatat sebelum gelembung dotcom pecah pada tahun 2000. Kenaikan tersebut jauh lebih tinggi dibanding lonjakan 50 persen yang terjadi menjelang pecahnya gelembung tersebut maupun peningkatan 94 persen yang baru-baru ini terjadi di Korea Selatan.Warga mengakses data saham menggunakan gawai di Jakarta, Selasa (11/2/2025). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTOProfesor Wu menilai pemerintah Taiwan perlu mengambil langkah untuk mendinginkan pasar dan mencegah risiko yang lebih besar di kemudian hari.Meski demikian, sebagian besar analis masih memperkirakan pasar saham Taiwan akan terus menguat dalam beberapa bulan ke depan.Goldman Sachs bahkan baru-baru ini memberikan rekomendasi beli terhadap pasar saham Taiwan. Bagi para investor bullish di Taipei, dominasi Taiwan dalam industri chip global dan besarnya permintaan terhadap teknologi AI menjadi alasan utama mengapa reli pasar saat ini diyakini masih memiliki ruang untuk berlanjut.