BorneoFlash.com, BALIKPAPAN - Bank Indonesia (BI) Balikpapan mulai menggeser paradigma pengelolaan wakaf dari sekadar aset sosial menjadi instrumen produktif yang mampu menciptakan lapangan usaha dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Langkah itu ditandai dengan peluncuran program wakaf produktif dalam ajang Pekan Ekonomi Syariah Nusantara (PESAN) 2026.Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian menuntut lahirnya sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru. Salah satunya melalui penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.Menurutnya, selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada konsumsi masyarakat. Ke depan, ekonomi syariah dinilai mampu menjadi motor baru karena memiliki pasar yang besar, mulai dari industri fesyen muslim, produk halal, hingga sektor pertanian dan peternakan."Kita ingin menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Potensi ekonomi syariah sangat besar karena pasarnya sudah terbentuk dan terus berkembang," ujar Robi, di Main Atrium Pentacity, pada Sabtu (27/6/2026). lihat foto Peluncuran program wakaf produktif dalam ajang PESAN 2026 di Main Atrium Pentacity, pada Sabtu (27/6/2026). Foto: BorneoFlash/Niken SulastriSalah satu inovasi yang diperkenalkan BI Balikpapan adalah wakaf produktif. Berbeda dengan konsep wakaf konvensional yang identik dengan tanah atau bangunan, wakaf produktif diarahkan untuk membiayai kegiatan usaha yang menghasilkan nilai ekonomi secara berkelanjutan.Dana wakaf, kata Robi, dapat dimanfaatkan untuk membangun kandang ayam petelur, mengembangkan usaha peternakan, maupun sektor produktif lainnya yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat."Kalau uang wakaf itu diputar dalam usaha produktif, maka akan menghasilkan ekonomi baru. Manfaatnya tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi terus berkembang," katanya.Pada PESAN 2026, BI Balikpapan meluncurkan dua proyek wakaf produktif, yakni pengembangan kandang ayam petelur kampung di Kabupaten Paser dan peternakan ayam petelur di Pondok Pesantren Al-Banjari.Robi menjelaskan, kedua proyek tersebut bukan sekadar konsep, melainkan telah melalui tahap uji coba. Tahun sebelumnya BI telah memberikan bantuan kandang dan bibit ayam di Pesantren Al-Banjari dengan hasil yang dinilai berhasil sehingga kini diperluas melalui skema wakaf produktif.Selain memperkuat sektor peternakan, BI juga menargetkan pesantren menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Selama ini pesantren dikenal sebagai pusat pendidikan agama, namun dinilai memiliki sumber daya manusia yang dapat dikembangkan menjadi pelaku usaha."Kami ingin pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi pusat ekonomi masyarakat. Santri dan pengelolanya kami latih menjadi peternak, petani, hingga wirausaha," jelasnya.Tak hanya itu, BI Balikpapan juga menargetkan terjalinnya business matching senilai sekitar Rp2 miliar antara pelaku usaha syariah dengan sektor perbankan, termasuk BNI dan Bankaltimtara. Langkah tersebut diharapkan memperluas akses pembiayaan sekaligus membuka pasar bagi produk-produk usaha binaan. lihat foto Peluncuran program wakaf produktif dalam ajang PESAN 2026 di Main Atrium Pentacity, pada Sabtu (27/6/2026). Foto: BorneoFlash/Niken SulastriDi sisi lain, edukasi kepada masyarakat tetap menjadi fokus utama agar pemahaman mengenai ekonomi syariah semakin luas. Robi menegaskan ekonomi syariah bukan hanya berbicara soal zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga bagaimana instrumen sosial seperti wakaf mampu menciptakan usaha yang produktif dan berkelanjutan."Selama ini dana sosial banyak digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Sekarang kita dorong agar menjadi modal usaha yang mampu menciptakan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat," pungkasnya. (*)