CORE: Penurunan Harga BBM Non-Subsidi Bisa Ringankan Beban Masyarakat

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai penurunan harga BBM non-subsidi akan membantu meringankan beban ekonomi masyarakat, terutama kalangan kelas menengah.Faisal mengatakan harga BBM non-subsidi seharusnya segera turun karena mengikuti harga minyak mentah dunia. Saat ini, harga minyak mentah berada di kisaran 70 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat turun hingga sekitar 68 dolar AS per barel."Kalau harga minyak mentah dunia sudah di kisaran 70 dolar AS per barel, harga BBM non-subsidi semestinya turun. Langkah ini juga dapat membantu masyarakat, terutama kelas menengah," kata Faisal, Sabtu.Menurutnya, pemerintah dan PT Pertamina (Persero) tidak perlu menunda penyesuaian harga jika tren harga minyak dunia tetap stabil.Sebelumnya, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan meminta direksi menyiapkan penurunan harga BBM non-subsidi secara bertahap mulai awal Juli 2026 seiring turunnya harga minyak mentah dunia.Saat ini, harga minyak mentah WTI berada di level 71,533 dolar AS per barel, sedangkan Brent mencapai 74,835 dolar AS per barel.Iriawan mengatakan Pertamina akan membahas rencana penyesuaian harga BBM non-subsidi bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).Sebagai acuan, per 10 Juni 2026 harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo tetap Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.Meski demikian, Iriawan menegaskan Pertamina tetap harus melalui prosedur dan evaluasi sebelum menetapkan penurunan harga BBM non-subsidi. Menurutnya, mekanisme tersebut menjaga harga BBM tetap stabil di tengah fluktuasi harga minyak dunia. (*)