Lazy Ambitious EP 2: Ketika Istirahat Justru Membuat Merasa Bersalah

Wait 5 sec.

Sumber Foto: Pexels / cottonbro studio“Hari ini aku cuma rebahan seharian.”Kalimat itu seharusnya terdengar biasa saja. Tetapi, entah sejak kapan, beristirahat justru sering diikuti dengan perasaan bersalah. Alih-alih menikmati waktu luang, pikiran kita justru dipenuhi berbagai pertanyaan. Apakah saya terlalu malas? Apakah orang lain sedang lebih produktif? Apakah saya sedang menyia-nyiakan waktu?Belakangan ini, saya menyadari bahwa perasaan seperti itu ternyata tidak hanya saya yang alami. Banyak orang di sekitar saya, terutama generasi muda, juga merasakan hal yang sama. Bahkan, tidak sedikit yang merasa harus selalu melakukan sesuatu agar tidak dianggap bermalas-malasan.Jika pada tulisan sebelumnya saya membahas tentang fenomena lazy ambitious terkait orang-orang yang tetap memiliki mimpi besar, tetapi tidak lagi terobsesi untuk selalu terlihat sibuk, kali ini ada satu hal yang menurut saya tidak kalah menarik untuk dibicarakan: mengapa beristirahat justru membuat kita merasa bersalah?Saya pernah percaya bahwa semakin sibuk seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk sukses. Jadwal yang padat, lembur hingga malam, dan aktivitas yang seolah tidak pernah berhenti sering kali dipandang sebagai tanda bahwa seseorang sedang bekerja keras mengejar impiannya. Tanpa disadari, kita tumbuh dengan pemahaman bahwa kesibukan adalah sesuatu yang patut dibanggakan. Pertanyaan seperti “Lagi sibuk apa?” bahkan lebih sering terdengar dibandingkan “Apa kabar?”Seolah-olah, memiliki banyak waktu luang adalah sesuatu yang memalukan. Padahal, semakin saya perhatikan, kesibukan dan produktivitas ternyata bukanlah hal yang sama. Seseorang bisa memiliki jadwal yang sangat padat, tetapi tetap merasa lelah dan kehilangan arah. Sebaliknya, ada pula mereka yang bekerja dengan ritme yang lebih tenang, tetapi tetap mampu mencapai tujuan yang diinginkan.Di era media sosial ini, beristirahat juga menjadi sesuatu yang semakin sulit. Ketika sedang menikmati waktu luang, kita mungkin membuka ponsel dan melihat orang lain sedang membangun bisnis, mengikuti pelatihan, berolahraga, atau membagikan berbagai pencapaian mereka. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri sendiri. Rasa tenang yang seharusnya hadir saat beristirahat perlahan berubah menjadi kecemasan. Kita takut tertinggal, takut tidak berkembang, hingga takut dianggap tidak cukup ambisius.Padahal, apa yang kita lihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Tetapi, karena terlalu sering terpapar berbagai pencapaian orang lain, kita akhirnya merasa harus selalu bergerak. Seolah-olah diam selama satu hari adalah sebuah kesalahan.Semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa manusia bukanlah mesin yang bisa bekerja tanpa henti. Ada kalanya tubuh membutuhkan jeda. Ada saatnya pikiran perlu beristirahat. Dan ada hari-hari ketika kita memang hanya ingin melakukan hal-hal sederhana tanpa target yang terlalu besar. Sayangnya, kita sering kali menganggap istirahat sebagai hadiah yang hanya boleh dinikmati setelah benar-benar kelelahan. Padahal, bukankah beristirahat adalah kebutuhan yang memang seharusnya dipenuhi?Kita tidak merasa bersalah ketika mengisi ulang baterai ponsel yang hampir habis. Tetapi, mengapa kita begitu keras pada diri sendiri ketika tubuh dan pikiran meminta hal yang sama?Mungkin, istirahat bukanlah lawan dari produktivitas. Mungkin, istirahat justru menjadi bagian dari produktivitas itu sendiri.Belakangan ini, semakin banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan budaya hustle yang selama ini diagungkan. Bekerja keras tentu bukan sesuatu yang salah dan memiliki ambisi besar juga bukan masalah. Tetapi, banyak orang mulai menyadari bahwa kesuksesan yang dibayar dengan kelelahan terus-menerus bukanlah sesuatu yang ingin mereka pertahankan. Kesadaran terhadap kesehatan mental, pentingnya work-life balance, serta pengalaman melihat banyak orang mengalami burnout membuat cara pandang terhadap kesuksesan perlahan berubah. Kini, semakin banyak orang yang tidak hanya ingin sukses dalam pekerjaan, tetapi juga ingin tetap memiliki waktu untuk keluarga, teman, dan dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, hidup tidak hanya tentang pekerjaan.Mungkin, yang sebenarnya membuat kita sulit beristirahat bukan karena kita takut gagal. Bisa jadi, kita hanya takut terlihat tidak produktif, takut dianggap malas, takut tertinggal dari orang lain, dan takut tidak cukup baik. Padahal, tidak semua hari harus diisi dengan pencapaian besar, tidak semua waktu luang harus diubah menjadi kesempatan untuk bekerja lebih keras, dan tidak semua jeda berarti kemunduran. Kadang, melambat bukan berarti menyerah, dan berhenti sejenak justru menjadi cara agar kita bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih baik.Mungkin, istirahat bukanlah sesuatu yang harus kita dapatkan setelah benar-benar kehabisan tenaga. Mungkin, istirahat memang merupakan bagian dari hidup yang sama pentingnya dengan bekerja. Dan mungkin, di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk bergerak lebih cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak tanpa merasa bersalah justru menjadi sesuatu yang semakin berharga. Sebab, menjadi ambisius tidak selalu berarti harus terus berlari, terkadang menjaga diri sendiri juga merupakan bagian dari cara kita menjaga mimpi yang ingin dicapai.