Wakil Menteri Luar Negeri Aleksandr Grushko menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara dengan Izvestia yang diterbitkan pada hari Senin, 22 Juni, tanggal ketika Nazi Jerman melancarkan Operasi Barbarossa terhadap Uni Soviet pada tahun 1941, sebuah serangan yang oleh para sejarawan digambarkan sebagai invasi terbesar dalam sejarah militer.