Sumber Foto: Pexels / Yaroslav ShuraevDi era digital yang membuat informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik, media memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan berita atau hiburan. Media mampu membentuk cara pandang masyarakat terhadap berbagai isu, termasuk bagaimana perempuan dan laki-laki diposisikan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang terus-menerus ditampilkan media, disadari atau tidak, dapat memengaruhi cara masyarakat berpikir dan memperlakukan orang lain. Sayangnya, pembahasan mengenai kesetaraan gender masih sering dipahami secara keliru. Tidak sedikit yang menganggap bahwa kesetaraan gender merupakan upaya untuk mengunggulkan satu pihak dan mengesampingkan pihak lainnya. Padahal, esensi dari kesetaraan gender bukanlah tentang persaingan antara perempuan dan laki-laki, melainkan tentang bagaimana setiap individu memperoleh kesempatan, perlakuan, dan penghargaan yang sama tanpa dibatasi oleh konstruksi sosial yang melekat pada jenis kelaminnya.Tanpa disadari, banyak pandangan mengenai peran perempuan dan laki-laki terbentuk dari apa yang terus-menerus ditampilkan media. Ketika perempuan lebih sering digambarkan sebagai sosok yang mengurus rumah tangga, lemah lembut, dan emosional. Sementara laki-laki ditampilkan sebagai pemimpin, pencari nafkah, tidak boleh menunjukkan kerentanan, dan menjadi pihak pengambil keputusan, masyarakat perlahan menganggap pembagian peran itu sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, kenyataannya kehidupan jauh lebih beragam daripada gambaran yang sering disajikan.Stereotip gender yang terus diulang dapat menciptakan batasan yang tidak terlihat. Perempuan yang ingin berkarier di bidang yang didominasi laki-laki kerap menghadapi keraguan terhadap kemampuannya. Sebaliknya, laki-laki yang menunjukkan sisi emosional atau memilih peran yang dianggap tidak maskulin sering kali menerima penilaian negatif dari lingkungan sekitar. Batasan-batasan seperti ini bukan muncul begitu saja, melainkan terbentuk melalui konstruksi sosial yang salah satunya diperkuat oleh media. Karena itulah, pembahasan mengenai kesetaraan gender tidak dapat dipisahkan dari peran media. Kesetaraan gender bukan berarti menyamakan perempuan dan laki-laki dalam segala hal ataupun menghilangkan perbedaan yang ada. Kesetaraan gender berarti memberikan kesempatan yang sama kepada setiap individu untuk berkembang, berpendapat, memperoleh pendidikan, bekerja, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial tanpa dibatasi oleh identitas gendernya.Gambaran itu mungkin terlihat biasa karena telah hadir selama bertahun-tahun, tetapi justru karena terus diulang, stereotip ini perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, tidak ada satu pun peran yang secara mutlak hanya dimiliki oleh perempuan ataupun laki-laki. Kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya, melainkan oleh kapasitas, pengalaman, serta kesempatan yang dimilikinya. Perempuan dapat menjadi pemimpin, ilmuwan, atlet, maupun pengambil keputusan. Sebaliknya, laki-laki juga memiliki hak untuk menunjukkan sisi emosionalnya, terlibat dalam pengasuhan anak, serta menjalani peran-peran yang selama ini dianggap tidak sesuai dengan standar maskulinitas yang dibentuk masyarakat.Besarnya pengaruh media menjadikan media memiliki posisi yang strategis dalam menciptakan perubahan sosial. Media tidak hanya merekam realitas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membentuk realitas itu sendiri. Ketika media menghadirkan representasi yang lebih inklusif dan beragam, masyarakat pun akan terbiasa melihat bahwa perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan berkontribusi. Kesetaraan gender menjadi semakin penting di tengah perkembangan media digital saat ini. Generasi muda tumbuh dengan paparan informasi yang begitu masif melalui media sosial, film, serial, maupun berbagai platform digital lainnya. Apa yang mereka lihat dan konsumsi setiap hari akan turut membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, media memiliki tanggung jawab yang tidak kecil dalam menghadirkan narasi yang lebih adil dan bebas dari bias gender.Kesetaraan gender pada dasarnya bukanlah upaya untuk menghapus perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan itu akan selalu ada dan merupakan sesuatu yang alami. Namun, perbedaan yang ada tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi hak, kesempatan, maupun penghargaan yang diterima seseorang. Sebab, setiap manusia, terlepas dari identitas gender yang dimilikinya, sama-sama berhak untuk didengar, dihargai, dan diperlakukan secara setara.Pada akhirnya, media memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar menjadi sarana penyebaran informasi. Media merupakan ruang yang mampu membentuk nilai, budaya, dan cara pandang masyarakat. Karena itu, media seharusnya tidak lagi menjadi tempat yang mempertahankan stereotip lama, melainkan menjadi ruang yang menghadirkan keberagaman, menghormati perbedaan, serta mendukung terciptanya masyarakat yang lebih inklusif. Sebab, kesetaraan gender bukan tentang siapa yang lebih unggul, melainkan tentang memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang dipandang lebih rendah hanya karena ia terlahir sebagai perempuan atau laki-laki. Pada akhirnya, setiap orang sama-sama layak untuk dilihat, didengar, dan dihargai sebagai manusia.