Beberapa peserta dalam Jakarta International Marathon 2024. Mahendraproject/Shutterstock● Kritik politik di ajang maraton jadi cara rakyat merebut ruang publik.● Dalam maraton, warga bisa mencuri perhatian, yang sulit didapatkan dalam demonstrasi biasa.● ‘Cheer signs’ jadi cara warga melakukan protes dengan rasa aman.Akhir pekan kedua Juni 2026 memperlihatkan dua wajah jalan protokol Jakarta yang hampir berlawanan hanya dalam hitungan jam. Jumat, 12 Juni 2026, sekitar 1.500 mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi di Bundaran HI menuntut penurunan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok. Namun, polisi memasang barikade di sekitar Menara BCA, Bundaran Hotel Indonesa. Mahasiswa kemudian diarahkan memindahkan aksi mereka ke gedung DPR. Alasannya klasik: bundaran HI adalah “jantung perekonomian” yang terlalu vital untuk ditutup.Kurang dari 24 jam kemudian, jalan yang sama justru disterilkan. Kali ini untuk 45 ribu pelari dalam ajang BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 yang dijanjikan berlangsung “sterile, secure, safety, and smooth”.Ada satu hal menarik di pinggir lintasan maraton. Di antara poster penyemangat, muncul cheer signs (papan penyemangat yang kerap ditampilkan suporter dalam pargelaran olah raga) bernada kritik politik yang jenaka, kritis, dan nyinyir. Misalnya “Yang harusnya stop itu MBG, bukan lari loe!” atau “A proud Indonesian runner, but not proud of the government”.Ini menunjukkan, publik selalu punya cara kreatif menyampaikan aspirasinya ketika negara semakin mempersempit ruang protes formal.Satu jalan, dua perlakuanPersoalan ruang kota sebetulnya bertumpu pada satu prinsip sederhana: jalan dan ruang publik dibangun dari pajak warga, sehingga setiap warga berhak ikut menentukan penggunaan fasilitas negara.Sayangnya akhir pekan lalu, hak hakiki publik tersebut disunat. Pemerintah menganggap demonstrasi (termasuk hak publik yang harus dijamin negara) sebagai aksi pengganggu ketertiban. Klaim ini dibenarkan sepihak atas nama jalan protokol sebagai “jantung ekonomi” nasional. Di sisi lain, penutupan jalan dalam skala jauh lebih besar untuk maraton justru diberi karpet merah. Gubernur memuji ajang itu sebagai bukti Jakarta sanggup menggelar acara kelas dunia, sementara Menpora menjadikannya etalase pariwisata internasional.Aspal yang sama, dua keputusan yang berlawanan. Bagi satu kelompok, jalan protokol harus bersih dari kerumunan; bagi kelompok lain jalan tersebut boleh dipenuhi puluhan ribu orang, asalkan kerumunan itu memoles citra kota yang maju, sehat, dan tertib.Padahal, ruang publik yang sehat bukan hanya ruang yang tertib dan rapi, tetapi juga yang mampu menampung berbagai suara.Membajak panggung visual maratonMaraton internasional memiliki satu hal yang sulit didapatkan oleh demonstrasi biasa: perhatian.Ajang maraton internasional kerap disiarkan langsung dan diliput oleh puluhan media dalam dan luar negeri. Perhelatan lari di Indonesia juga sedang digandrungi warga. Tidak ketinggalan jurnalis warga yang dengan sukarela turut meliput acara tersebut.Sorotan sebesar inilah yang dimanfaatkan warga untuk melakukan apa yang dalam sosiologi komunikasi disebut sebagai pembajakan visual (visual hijacking), yakni taktik menggunakan ruang yang sudah ramai perhatian untuk menyisipkan pesan yang berbeda.Daripada membangun panggung sendiri dan berharap diliput, warga cukup berdiri di pinggir lintasan dengan kardus dan spidol. Dalam hitungan menit, cheer signs di pinggir lintasan lari bertransformasi menjadi pesan perlawanan yang viral.Humor sebagai pelindungMengapa pesan politik lewat maraton terasa lebih aman dibanding demonstrasi? Karena humor mengubah cara sebuah kritik diterima. Sindiran di atas kardus terlihat berbeda dari orasi dengan pengeras suara atau aksi massa besar.Filsuf Mikhail Bakhtin melalui konsep Carnivalesque menjelaskan bahwa batas antara candaan dan kritik menjadi lebih samar. Kritik tetap tersampaikan, tetapi hadir dalam bentuk yang lebih ringan. Hal ini membuat pesan politik lebih mudah masuk ke ruang publik tanpa langsung dianggap sebagai ancaman. Humor ini menjadi tameng yang efektif. Aparat keamanan yang berjaga di lokasi maraton tentu akan terlihat konyol jika menyita kardus berisi candaan di acara yang tujuannya bersenang-senang. Pesan pun tersampaikan dengan baik tidak kalah dengan pesan politik saat demonstrasi biasanya. Cara baru warga berpolitikDemonstrasi jalanan bersifat konfrontatif dan menuntut keberanian fisik serta kesiapan menghadapi risiko tinggi—mulai dari barikade, gas air mata, bentrokan, hingga penangkapan oleh aparat.Ketika ongkos tersebut dirasa terlalu mahal bagi masyarakat awam, mereka mencari celah yang lebih kecil risikonya tetapi tetap mengena. Sosiolog James C. Scott menyebut taktik ini sebagai “infrapolitik” atau senjata orang yang lemah (weapons of the weak)—sebuah bentuk perlawanan diam-diam dari samping ketika seseorang tidak cukup kuat untuk melawan dari depan.Di sinilah letak kekuatan utama cheer signs. Cara ini tidak membutuhkan organisasi besar, biaya besar, atau keberanian untuk berhadapan langsung dengan aparat. Siapa pun bisa ikut menyampaikan pendapat hanya dengan sebuah kardus dan spidol.Menyampaikan kritik tidak lagi harus menjadi sanggup bertahan di garis depan dan berbaku hantam dengan aparat. Meski demikian, cheer signs bukan pengganti demokrasi. Aksi turun ke jalan tetap memiliki kekuatan politik yang berbeda karena mampu menunjukkan jumlah massa dan tekanan publik secara langsung.Tetapi cara-cara baru seperti ini memperlihatkan bahwa ketika negara menutup satu pintu, rakyat dapat menemukan pintu lain dan memastikan kritik mereka tetap terlihat di ruang publik. Ini sumbangan berharga bagi iklim demokrasi kita.Fitri Arlinkasari tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.