Menkes Usul MBG Fokus ke Ibu Hamil, Menyusui, Balita, dan Pasien TBC

Wait 5 sec.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat memberikan sambutan dalam Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 oleh BPS RI di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparanMenteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga difokuskan kepada ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan pengidap tuberkulosis (TBC).Menurut Budi, kelompok tersebut merupakan sasaran yang paling membutuhkan intervensi gizi karena berpengaruh langsung terhadap kualitas kesehatan masyarakat, termasuk upaya menekan angka stunting dan meningkatkan angka kesembuhan pasien TBC."Jadi justru yang belum masuk sekolah, itu adalah golden period, bahwa gizinya mesti terpenuhi," kata Budi di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (22/6).Budi mengungkapkan usulan tersebut telah disampaikan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang. Menurutnya, BGN terbuka terhadap masukan untuk memperluas cakupan penerima manfaat program MBG."Jadi ini adalah yang saya sampaikan ke Ibu Nanik, dan Ibu Nanik terbuka kan sekarang kan. 'Bu, kalau saya butuhnya dari sisi kesehatan, Ibu tolong bantu dong gizinya, makanan bergizinya itu buat ibu hamil, ibu menyusui, kemudian balita, dan juga TBC'. Dan beliau menerima masukan itu. Nanti mungkin diubah perpresnya sedikit, karena yang sekarang yang dikasihkan yang anak-anak sekolah," kata Budi.Erna Pujiastuti, petugas SPPG Grajegan yang sekaligus mantan pekerja pabrik tekstil tengah mengemas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (16/3/2026). Foto: Dok. Bakom RIFokus Tekan StuntingBudi menilai perluasan sasaran MBG dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap upaya pencegahan stunting karena intervensi dilakukan sejak awal kehidupan.Menurutnya, pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita merupakan investasi kesehatan jangka panjang yang akan menentukan kualitas generasi mendatang.Selain itu, Budi juga mengusulkan agar pasien TBC masuk dalam kelompok penerima manfaat program MBG."Dan saya titip juga, tuberkulosis. Jadi orang-orang yang sakit tuberkulosis, satu juta lho di Indonesia setiap tahun. Meninggal 160 ribu. Ini kalau kita obati, dan gizinya di-supplement, ditambah, itu kemungkinan sembuhnya lebih besar," jelasnya.Petugas SPPG Grajegan bersiap membagikan puluhan ompreng berisi menu MBG beserta bingkisan makanan pelengkap kepada sejumlah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Posyandu di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Senin (16/3/2026). Foto: Dok. Bakom RIDampak MBG Akan DievaluasiDi sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan mekanisme evaluasi untuk mengukur efektivitas Program MBG terhadap perbaikan status gizi masyarakat dan penurunan angka stunting.Kementerian Kesehatan akan bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk melakukan pemantauan berbasis data."Kita kan ada Cek Kesehatan Gratis (CKG) setiap tahun. Nanti kita bisa ukur kan. Perkembangan gizinya seperti apa, dan ini akan menjadi evidence base lah. Sehingga orang-orang bisa lihat, 'Oh ya ini programnya sudah bener, ini programnya nggak bener', gitu kan, atau kurangnya di sini, kurangnya di sana, yang mesti diperbaiki apa," ujar Budi.