Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers penemuan gas raksasa oleh Eni di Kutai, Kalimantan Timur, di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Kementerian ESDMMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pembangunan proyek kilang minyak Grass Root Refinery Tuban (GRR Tuban) masih berjalan antara PT Pertamina dengan perusahaan Rusia, Rosneft.Kilang Tuban didesain memiliki kapasitas pengolahan utama hingga 15 juta ton per tahun (Million Metric Tons per Annum/MMTA). Sebagian di antaranya akan mengolah petrokimia seperti produk etilen sebanyak 1 MMTA dan hidrokarbon aromatik sebanyak 1,3 MMTA. Target beroperasi 2025.Bahlil tidak berkomentar banyak terkait nasib proyek tersebut. Dia hanya menyebutkan bahwa proyek tersebut masih berproses tanpa menjelaskan dengan detail perkembangannya."Oh Rosneft, nanti tanya Pertamina itu, itu, kan, kerja sama pertamina dengan Rosneft. Tapi sejauh yang saya tahu masih on (proses)," katanya saat ditemui di fasilitas Mini Liquefied Natural Gas (LNG) Plant PT Sumber Aneka Gas (SAG), dikutip Jumat (26/6).Pertamina dan Rosneft membangun perusahaan patungan pada November 2017 dengan nama PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) untuk proyek GRR Tuban. Sebanyak 55 persen saham dipegang Pertamina dan 45 persen sisanya milik Rosneft.Proyek tersebut sempat terkendala konflik geopolitik yang pecah antara Rusia-Ukraina dan kaitannya dengan sanksi dari Amerika Serikat (AS). Bahkan, sempat ada isu pergantian mitra di GRR Tuban menggantikan Rosneft.Ilustrasi kilang Pertamina. PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP). Foto: Dok. PertaminaKendati demikian, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) memastikan proyek GRR Tuban masih bekerja sama dengan perusahaan Rusia, Rosneft, dengan skema joint venture (JV).Corporate Secretary Kilang Pertamina Internasional, Hermansyah Y. Nasroen, mengungkapkan perusahaan akan fokus pada penyelesaian Revamping Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan GRR Tuban pada tahun 2025. Adapun RDMP Balikpapan sudah diresmikan pada 12 Januari 2026 lalu."Sampai saat ini, Pertamina masih bersama Rosneft. Terlepas dari urusan sanksi. Kita, kan, ada JV dengan Rosneft. Kita masih bersama dia, masih terikat dengan JV itu," kata Hermansyah saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin (10/3/2025).Pada 2019, Pertamina dan Rosneft teken kerja sama dengan Spanish Tecnicas Reunidas SA untuk melaksanakan Basic Engineering Design (BED) dan Front-End Engineering Design (FEED) terkait proyek pembangunan kompleks kilang minyak dan petrokimia di Tuban. Kesepakatan kerja sama dilakukan di Moskow, Rusia.Hermansyah menyebutkan target penyelesaian Final Investment Decision (FID) pada tahun 2025. Dia juga memastikan Pertamina masih berkomunikasi dengan pihak Rosneft melalui PT PRPP dan segala keputusan terkait kelanjutan proyek itu juga akan diputuskan bersama.Dia juga mengakui proyek ini terlambat saat tahapan tender EPC, sehingga membuat proses FID menjadi lebih lama dari target. Selain itu, dia menjamin tidak ada kendala lain."Memang sepertinya proses FID-nya yang mungkin agak terlambat, karena ini kan memang besar banget. Saya tidak melihat ada kendala-kendala lain, memang mungkin perhitungannya EPC tender-nya yang membuat sedikit terlambat," tutur Hermansyah.