Ilustrasi perbandingan kondisi tahun 1998 dan kondisi saat ini. (Foto generated by AI)Setiap kali rupiah melemah tajam, ingatan masyarakat seperti membuka laci sejarah tahun 1998. Di dalamnya ada cerita tentang kenaikan harga yang berlari, nilai tabungan yang menyusut, usaha yang tutup, dan keluarga yang harus hidup lebih hemat. Bagi sebagian orang, krisis 1997-1998 adalah memori tentang dapur, antrean, dan kecemasan. Kini pertanyaan kembali muncul: apakah Indonesia sedang mengulang sejarah?Pertanyaan ini wajar, tetapi tidak cukup dijawab hanya dengan membandingkan kurs rupiah. Ekonomi mirip cuaca. Awan yang tampak serupa belum tentu membawa badai yang sama. Arah angin, kekuatan rumah, dan kesiapan penduduk bisa berbeda. Karena itu, membandingkan kondisi hari ini dengan 1998 tidak boleh berhenti pada satu indikator. Yang lebih penting adalah membaca struktur di balik gejala.Pada 1998, tekanan ekonomi Indonesia sangat dalam. Perekonomian terkontraksi sekitar 13,7%, sementara inflasi tahunan naik hingga 77,6%. Pelemahan rupiah juga sangat ekstrem; dalam fase terburuk krisis Asia, rupiah tinggal seperlima dari nilainya terhadap dolar AS dibandingkan posisi Juni 1997. Dampaknya menjalar ke konsumsi rumah tangga, investasi, perbankan, dan lapangan kerja.Hari ini, situasinya memang tidak ringan. Rupiah sempat berada di tekanan kuat, pasar keuangan bergerak sensitif, dan masyarakat merasakan kenaikan harga pada sejumlah kebutuhan. Di sisi lain BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2026 sebesar 5,61% (yoy), sementara inflasi Mei 2026 berada di 3,08% (yoy). Angka ini menunjukkan adanya tekanan, tetapi belum menggambarkan ekonomi sebagaimana tahun 1998.Saat ini Indonesia tidak sedang mengulang krisis 1998. Namun, Indonesia sedang menghadapi risiko baru yaitu krisis ekspektasi. Jika 1998 menghantam neraca bank dan korporasi, tekanan hari ini menguji rasa aman masyarakat. Ekonomi terlihat cukup kuat di atas kertas namun terasa rapuh jika masyarakat kehilangan keyakinan untuk berbelanja, berusaha, menabung, atau merencanakan masa depan.Krisis ekonomi tidak selalu dimulai dari bank yang kolaps. Ia juga bisa tumbuh dari keputusan kecil yang dilakukan serentak oleh banyak orang. Keluarga menunda membeli barang tahan lama. UMKM menahan ekspansi. Pedagang menaikkan harga lebih cepat karena takut biaya naik besok. Investor menunggu kepastian. Konsumen mengurangi belanja bukan karena penghasilannya langsung turun, melainkan karena masa depan terasa kurang aman.Dalam teori ekonomi, ekspektasi memiliki peran besar. John Maynard Keynes menyebut unsur psikologis pelaku ekonomi sebagai “animal spirits”, yaitu keberanian, kecemasan, dan keyakinan yang memengaruhi keputusan ekonomi. Ketika ekspektasi membaik, konsumsi dan investasi bergerak. Ketika ekspektasi memburuk, ekonomi bisa melambat bukan semata karena kemampuan hilang, tetapi karena keberanian mengambil keputusan melemah.Perbandingan Kondisi Krisis Ekonomi 1998 dengan Kondisi Hari IniPerbedaan paling mendasar antara 1998 dan hari ini terletak pada fondasi sistem keuangan. Dulu krisis nilai tukar dengan cepat berubah menjadi krisis perbankan karena banyak bank rapuh, korporasi memiliki utang valuta asing tanpa lindung nilai yang memadai, dan kepercayaan publik runtuh. Kini, perbankan jauh lebih kuat. Bank Indonesia mencatat rasio kecukupan modal perbankan pada April 2026 berada di 23,97%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau NPL bruto berada di 2,17% dan NPL neto 0,84%. Sistem keuangan memiliki bantalan yang jauh lebih tebal dibandingkan era krisis dulu.Perbedaan lain terletak pada cara kita memandang nilai tukar. Sebelum krisis 1997-1998, pelaku ekonomi terbiasa dengan kurs yang relatif dikendalikan. Ketika rupiah dilepas dan tekanan pasar datang bertubi-tubi, banyak pihak tidak siap menghadapi risiko nilai tukar. Setelah reformasi ekonomi, Indonesia bergerak dalam kerangka nilai tukar yang lebih fleksibel. Kurs dapat melemah atau menguat mengikuti tekanan pasar, sementara kebijakan moneter bertugas menjaga pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.Namun demikian mengatakan hari ini berbeda dari 1998 bukan berarti kita merasa aman. Sejarah jarang berulang, tetapi ia memberi peringatan. Tekanan nilai tukar bisa masuk ke harga impor, biaya energi, bahan baku industri, dan beban utang valuta asing. Defisit transaksi berjalan juga perlu dijaga. Pada triwulan I-2026, Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sekitar 1,09% dari PDB. Angka ini masih terkendali tetapi tetap menunjukkan bahwa ketahanan eksternal harus terus diperkuat.Apakah Kita Sudah Belajar dari Pengalaman 1998?Di titik ini, kebijakan ekonomi memiliki tugas ganda. Di satu sisi, stabilitas harus dijaga. Di sisi lain, rasa aman masyarakat tidak boleh ikut padam. Kenaikan BI-Rate ke 5,75% pada 18 Juni 2026 dapat dipahami sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Namun, kebijakan stabilisasi perlu berjalan bersama kebijakan makroprudensial, pembiayaan sektor riil, pengendalian inflasi pangan, dan kelancaran sistem pembayaran agar denyut ekonomi masyarakat tetap bergerak.Krisis 1998 mengajarkan bahwa masalah nilai tukar sering menjadi pintu masuk untuk melihat persoalan yang lebih dalam seperti produktivitas, daya saing, struktur industri, ketahanan pangan, kualitas belanja publik, dan kemampuan menghasilkan devisa. Jika ekonomi terlalu bergantung pada komoditas, impor bahan baku, atau arus modal jangka pendek, maka setiap perubahan arah angin global akan terasa seperti badai.Pelajaran dari krisis 1998 tidak berhenti pada pesan klasik: jangan panik. Pelajaran yang lebih penting adalah jangan lalai membaca kecemasan publik. Kepanikan memang berbahaya, tetapi menganggap semua kecemasan sebagai reaksi berlebihan juga tidak bijak. Dalam ekonomi modern, persepsi bisa menjadi kenyataan apabila dibiarkan tanpa komunikasi yang jelas, kebijakan yang konsisten, dan koordinasi yang solid.Optimisme tetap diperlukan, tetapi optimisme yang sehat harus bertumpu pada kewaspadaan. Institusi ekonomi saat ini lebih matang, perbankan lebih kuat, inflasi lebih terkendali, dan perangkat kebijakan lebih lengkap. Namun, Indonesia juga tidak kebal. Tekanan global, harga energi, arus modal, dan persepsi investor tetap bisa menguji daya tahan ekonomi nasional.Pertanyaan yang penting untuk direnungkan adalah apakah kita cukup peka membaca krisis dalam bentuk baru? Jika dulu krisis terlihat dari bank yang goyah dan nilai rupiah yang jatuh, hari ini sinyalnya bisa muncul dari rumah tangga yang makin berhitung, UMKM yang menunda ekspansi, dan keluarga yang kehilangan rasa aman.Sejarah 1998 tidak boleh dijadikan sekadar kenangan. Ia seperti alarm: suaranya mengganggu tetapi fungsinya menyelamatkan. Ketika alarm itu mulai berbunyi, apakah kita hanya sibuk berkata bahwa krisis akan kembali terjadi, atau mulai meningkatkan kepekaan atas kecemasan masyarakat?