● Proyek SCORE menemukan bahwa sebagian besar klaim dalam penelitian ilmu sosial dan perilaku gagal saat direplikasi.● Kegagalan tersebut tidak selalu berarti salah, tapi mencerminkan sifat realitas sosial manusia yang dinamis.● Replikasi bukan satu-satunya indikator. Kekuatan ilmu sosial justru terletak pada kemampuannya menjelaskan kompleksitas manusia.Temuan proyek SCORE (Systematizing Confidence in Open Research and Evidence) yang baru-baru ini dibahas di The Conversation Indonesia layak mendapat perhatian serius. Melalui pengujian terhadap reproduksibilitas, keandalan analisis (robustness), dan replikasi menggunakan data baru, proyek yang melibatkan ratusan peneliti lintas negara tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar klaim dalam penelitian ilmu sosial dan perilaku menghadapi persoalan ketika diuji kembali. Baca juga: Separuh klaim riset sosial dan perilaku tidak bertahan ketika dicoba ulang Pesan SCORE menegaskan pentingnya keterbukaan data, transparansi metode, dan verifikasi independen dalam menjaga integritas ilmiah. Pengetahuan tidak hanya perlu dipublikasikan, tetapi juga harus dapat diuji dan diperiksa komunitas ilmiah. Namun, diskusi replikasi juga membuka pertanyaan lebih mendasar tentang cara memahami realitas sosial dan tujuan penggunaan pengetahuan.Realitas sosial bersifat kontekstualDiskusi replikasi berangkat dari asumsi bahwa temuan yang benar seharusnya dapat diulang. Namun, berbeda dari ilmu alam, ilmu sosial mempelajari manusia dan masyarakat yang dipengaruhi sejarah, budaya, institusi, dan kekuasaan yang terus berubah. Baca juga: Apa benar riset ilmu sosial tidak penting dibanding ilmu alam? Jika ilmu alam berupaya menjelaskan hubungan kausal yang bersifat umum, maka ilmu sosial harus memahami makna subjektif yang melatarbelakangi tindakan manusia.Dalam perspektif ini, keberhasilan penelitian tidak hanya diukur dari kemampuannya menemukan pola yang berulang, tetapi juga dari kemampuannya menjelaskan mengapa manusia bertindak dalam cara tertentu.Objek penelitian ilmu sosial bersifat reflektif karena manusia selalu menafsirkan dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Artinya, ketika cara manusia memahami dirinya berubah, perilakunya pun dapat berubah.Kegagalan replikasi tidak selalu berarti penelitian awal salah. Dalam ilmu sosial, perubahan konteks, teknologi, dan kondisi sosial dapat memengaruhi hasil. Hal ini mencerminkan bahwa realitas sosial bersifat historis, kontekstual, dan terus berubah.Program pendidikan atau kebijakan ekonomi yang efektif pada satu periode, misalnya, dapat menghasilkan dampak berbeda ketika diterapkan di periode berikutnya karena ada perubahan konteks sosial, politik, dan teknologi.Konteks penting dalam penelitian sosialPerdebatan tentang replikasi tidak hanya menyangkut metode penelitian, tetapi juga cara kita memandang konteks. Dalam penelitian eksperimental, perbedaan tempat, waktu, atau kondisi sosial biasanya dikendalikan agar peneliti dapat menemukan pola yang relatif stabil. Namun, dalam banyak tradisi ilmu sosial, konteks justru menjadi bagian utama dari penjelasan. Menurut antropolog Clifford Geertz, penelitian tidak hanya mencari pola yang berulang, tetapi juga menjelaskan bagaimana makna dibentuk dan dipahami dalam konteks sosial tertentu.Dalam perspektif ini, variasi antarkonteks bukan gangguan yang harus dihilangkan, tapi justru ingin dijelaskan.Ketika sebuah program berhasil di satu daerah tetapi gagal di daerah lain, pertanyaannya bukan hanya soal efektivitas, tetapi juga kondisi sosial yang memengaruhi hasil tersebut. Sebab, sebagian penelitian sosial tidak mencari hukum universal. Ia mencoba memahami bagaimana konteks membentuk tindakan manusia.Di sinilah pentingnya membedakan tradisi dalam ilmu sosial. “Ilmu sosial” bukan satu pendekatan tunggal, melainkan mencakup berbagai metode seperti eksperimen, survei, etnografi, studi historis, dan fenomenologi. Masing-masing di antaranya memiliki asumsi metodologis berbeda.Karena itu, ketika kita membaca hasil proyek SCORE, penting untuk bertanya bukan hanya “apakah suatu temuan berhasil direplikasi?”, tetapi juga “jenis pengetahuan apa yang sedang diuji?”Data tidak pernah bicara sendirianTemuan SCORE menunjukkan bahwa peneliti berbeda bisa menarik kesimpulan berbeda dari data yang sama. Ini bukan hanya soal teknis metode analisis, tetapi menyangkut hal yang lebih mendasar. Baca juga: Mengapa statistik dianggap lebih unggul dalam perumusan kebijakan? Ilmu sosial-humaniora juga punya peran penting dalam menjembati gap kebijakan publik Fakta sosial tidak “ditemukan” begitu saja, melainkan dibentuk melalui kerangka konseptual dan metode peneliti. Data tidak pernah berbicara sendiri, karena data selalu dibaca lewat teori dan kategori tertentu. Peneliti yang sama bisa menghasilkan penafsiran berbeda tanpa harus berarti ada yang keliru.Perdebatan kualitas penelitian tidak hanya soal apakah hasilnya dapat direplikasi, tetapi juga apakah proses interpretasinya transparan, masuk akal, dan dapat dipertanggungjawabkan.Dalam penelitian naturalistik, kualitas tidak hanya diukur dari apakah hasilnya dapat diulang, tetapi juga dari apakah temuannya dapat dipercaya, didukung oleh data, dan dijelaskan secara transparan. Karena itu, perdebatan tentang kualitas penelitin bukan hanya soal replikasi, tetapi juga tentang cara kita mendefinisikan kualitas itu sendiri. Usaha memahami kompleksitasPerdebatan tentang replikasi akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana pengetahuan ilmiah diproduksi dan dihargai dalam dunia akademis.Temuan SCORE menunjukkan bahwa sistem akademis yang terlalu menekankan kebaruan temuan dapat mengabaikan pentingnya verifikasi. Di sisi lain, para ilmuwan sosial telah lama mengingatkan bahwa tekanan untuk menghasilkan temuan yang menarik sering mendorong penyederhanaan realitas yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.Kekuatan ilmu sosial justru terletak pada kemampuannya menghasilkan pengetahuan yang peka terhadap konteks (context-dependent knowledge) untuk memahami bagaimana kekuasaan, nilai, dan praktik sosial bekerja dalam situasi nyata.Pandangan ini tidak berarti bahwa replikasi tidak penting. Sebaliknya, replikasi tetap penting untuk menguji klaim empiris, tetapi bukan satu-satunya ukuran kualitas pengetahuan.Sebagian temuan perlu diuji ulang secara lebih ketat, dan sebagian klaim mungkin terlalu berlebihan. Namun, ada juga hasil yang berubah karena masyarakat yang diteliti ikut berubah.Replikasi, keterbukaan data, dan verifikasi independen tetap penting, tetapi ilmu sosial juga harus memahami makna, konteks, dan kompleksitas kehidupan manusia yang tidak selalu dapat direduksi menjadi pola yang sama di setiap penelitian. Baca juga: Indikator keberhasilan riset Indonesia terlalu berorientasi pasar, ilmu sosial terpinggirkan? Rusli Cahyadi tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.