BorneoFlash.com, JAKARTA - Anggota Komisi XIII DPR RI Marinus Gea meminta Badan Gizi Nasional (BGN) tidak merangkap fungsi sebagai regulator, pelaksana, dan pengawas dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).Marinus menilai pemerintah perlu menjelaskan pembagian kewenangan secara rinci agar tidak menimbulkan tumpang tindih yang dapat menurunkan akuntabilitas program. Ia menegaskan pemerintah harus mengukur keberhasilan MBG dari peningkatan kualitas gizi masyarakat, penurunan angka stunting, perbaikan kesehatan anak, serta jaminan keamanan pangan."Kita harus memastikan program ini mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat, menurunkan angka stunting, memperbaiki kesehatan anak, dan menjamin keamanan pangan. Itu menjadi indikator utama keberhasilan program," kata Marinus di Jakarta, Selasa.Marinus juga meminta pemerintah memperkuat pengawasan keamanan pangan secara berkelanjutan karena program MBG berkaitan langsung dengan keselamatan penerima manfaat.Selain itu, ia meminta pemerintah menelaah rekomendasi Komnas HAM secara objektif. Menurutnya, Komnas HAM tidak mengkritik tujuan MBG, tetapi menyoroti tata kelola dan mekanisme pengawasan program.Sebelumnya, Komnas HAM mendesak pemerintah merevisi Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang Program Makan Bergizi Gratis untuk memperkuat tata kelola yang partisipatif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan sesuai prinsip hak asasi manusia.Marinus menegaskan publik perlu memahami substansi rekomendasi tersebut secara utuh agar tidak membentuk persepsi yang keliru terhadap program MBG.Ia juga mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru mengambil keputusan terkait usulan revisi perpres. Menurutnya, Komnas HAM masih menjalankan proses pemantauan sehingga pemerintah perlu menghimpun data dan masukan yang lebih komprehensif dari BGN, Kementerian Kesehatan, BPKP, serta pemerintah daerah."Pemerintah harus memfokuskan perhatian pada pemisahan fungsi pengaturan, pelaksanaan, dan pengawasan, penguatan keamanan pangan, transparansi anggaran, serta pengukuran keberhasilan berbasis kualitas gizi," ujar Marinus. (*)