Siluet seorang ayah yang mengangkat putri kecilnya di bawah langit senja, menggambarkan kasih sayang dan kenangan yang tetap hidup meski waktu terus berjalan. Ilustrasi dibuat sendiri menggunakan Canva.Ketika seorang anak tiba-tiba menjadi lebih mudah marah, keras kepala, atau tidak lagi seceria dulu, banyak orang dewasa langsung menganggapnya sebagai bentuk kenakalan atau pembangkangan. Padahal, perubahan perilaku pada anak tidak selalu muncul tanpa alasan. Ada kalanya sikap yang terlihat sulit diatur justru menjadi bahasa yang digunakan seorang anak untuk menyampaikan kesedihan yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.Fenomena ini tidak selalu disadari oleh keluarga. Banyak orang tua atau kerabat yang lebih fokus pada perubahan sikap yang tampak di permukaan, tanpa menyadari bahwa ada peristiwa besar yang sedang diproses oleh seorang anak. Salah satunya adalah kehilangan orang tua pada usia yang masih sangat muda.Saya pernah mendengar kisah seorang anak perempuan yang merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang paling dekat dengan ayahnya. Dari berangkat sekolah hingga pulang sekolah, ayahnyalah yang selalu mengantar dan menjemput. Hampir semua hal yang membuatnya bahagia selalu melibatkan sosok ayah. Tidak mengherankan jika ia tumbuh menjadi anak yang ceria, mudah bergaul, dan tidak banyak membantah orang tuanya.Namun semuanya berubah ketika ia masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Ayah yang selama ini menjadi tempatnya bercerita dan mencari rasa aman meninggal dunia. Kehilangan itu bukan hanya mengubah suasana rumah, tetapi juga mengubah dirinya sedikit demi sedikit. Anak yang dulu mudah tertawa menjadi lebih pendiam. Ia lebih sering marah, lebih keras kepala, dan lebih sulit menerima nasihat. Orang-orang di sekitarnya melihat perubahan tersebut, tetapi tidak semua orang memahami bahwa perubahan itu mungkin merupakan bagian dari rasa kehilangan yang belum selesai.Menurut teori keterikatan atau attachment theory yang dikembangkan oleh John Bowlby, hubungan emosional antara anak dan figur pengasuh memiliki peran penting dalam membentuk rasa aman. Ketika sosok yang selama ini menjadi sumber kenyamanan menghilang, anak dapat mengalami guncangan psikologis yang memengaruhi perilaku dan perkembangan emosinya.Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan yang sama dengan orang dewasa dalam memahami dan mengelola kesedihan. Karena itu, rasa kehilangan tidak selalu ditunjukkan melalui tangisan atau kata-kata. Sebagian anak justru menunjukkan kesedihannya lewat sikap yang lebih mudah tersinggung, sulit diatur, atau cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar.Hal seperti ini sebenarnya banyak tergambar dalam berbagai karya. Film Keluarga Cemara menunjukkan bahwa keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan rasa aman. Sementara novel Laskar Pelangi mengingatkan bahwa pengalaman masa kecil dapat membentuk cara seseorang menghadapi kehidupan hingga dewasa.Sayangnya, masyarakat sering kali terlalu cepat memberi label "nakal" kepada anak yang sedang berubah. Padahal, di balik kemarahan yang terlihat, bisa jadi ada kerinduan yang tidak pernah tersampaikan. Di balik sikap keras kepala yang dianggap membangkang, mungkin ada kesedihan yang tidak pernah benar-benar dipahami.Tidak semua anak yang kehilangan orang tua akan mengalami perubahan yang sama. Namun satu hal yang perlu dipahami, seorang anak yang sedang berduka tidak selalu membutuhkan banyak nasihat. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, memahami, dan memberi waktu agar mereka dapat berdamai dengan kehilangan yang mereka alami.Karena pada akhirnya, tidak semua luka bisa diceritakan. Sebagian hanya tampak dalam perubahan sikap yang sering disalahartikan oleh orang-orang di sekitarnya.