Ibu Pertiwi, Pahlawan, dan Luka Bangsa: Sastra sebagai Cermin Sejarah

Wait 5 sec.

Ilustrasi Perang Sumber: pexels.com"Masa lalu tidak hanya diingat, tetapi juga dipilih, disusun, dan dipentaskan."Selama ini kita diajari bahwa sastra adalah ruang imajinasi tempat pelarian dari dunia nyata yang sering terasa terlalu rumit. Tapi jujur saja, makin banyak membaca cerpen atau novel, justru terasa sebaliknya: sastra sering jadi cara paling jujur untuk menampar kenyataan. Cerpen “Ibu Pertiwi” karya Muhammad Gibran Aryeseno adalah salah satu contohnya. Cerpen ini pada awalnya tampak seperti kisah tentang seorang mantan pejuang bernama Kafka, yang dipuja sebagai pahlawan perang. Ia hidup bersama keluarganya dan sekilas terlihat seperti sosok yang berhasil melewati masa perang dengan terhormat. Namun, semakin jauh cerita berjalan, semakin terlihat bahwa kehidupan Kafka tidak benar-benar tenang. Ada rasa gelisah, ada ketakutan, dan ada luka yang seolah belum pernah selesai.Di titik inilah cerpen ini menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang tokoh. Ibu Pertiwi bisa dibaca sebagai cermin bagi luka sejarah yang lebih besar luka yang bukan hanya dimiliki individu, tetapi juga dimiliki oleh sebuah bangsa.Ketika Pahlawan Tidak Lagi SederhanaDalam banyak cerita kebangsaan, pahlawan hadir sebagai tokoh mulia yang tidak perlu dipersoalkan lagi. Ia menjadi simbol keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air. Akan tetapi, cerpen ini tidak ditampilkan sebagai sosok yang utuh dan tegak. Ia justru rapuh, mudah panik, dan seperti dikejar oleh sesuatu dari masa lalunya. Cerpen ini seakan mengatakan bahwa kepahlawanan bukanlah kategori yang selalu bersih dari kontradiksi."Siapa yang disebut pahlawan sering bergantung pada siapa yang menulis sejarah". Pertanyaan ini penting, karena dalam kehidupan nyata, gelar “pahlawan” sering kali tidak hanya dibentuk oleh tindakan, tetapi juga oleh cerita yang dibangun di sekitarnya. Sejarah tidak pernah sepenuhnya netral. Ada pihak yang menulis, ada pihak yang memilih apa yang perlu diingat, dan ada juga pihak yang memutuskan apa yang harus dilupakan. Maka, sosok pahlawan dalam cerpen ini terasa seperti simbol bahwa sejarah kebangsaan sering kali lebih rumit daripada yang biasa diajarkan.Luka Kolektif Bangsa yang Tidak Pernah Benar-Benar HilangYang membuat Ibu Pertiwi terasa kuat adalah bagaimana cerpen ini menggambarkan luka kolektif bangsa lewat pengalaman pribadi tokohnya. Luka bangsa di sini tidak muncul dalam bentuk pidato besar atau penjelasan sejarah yang panjang. Ia hadir lewat tubuh tokoh utama yang gelisah, pikirannya yang tidak tenang, dan rasa takut yang seolah tidak pernah pergi."....Mimpi buruk sudah tidak pernah datang, tetapi aku malah takut tertidur. Jari-jariku seolah mengeriting dan kakiku mengecil. Ada suara-suara berbicara di dalam kepalaku menggunakan bahasa asing. Aku ingin mempelajari bahasa itu, tetapi ....”Tokoh utama yang merasa tubuhnya bertingkah aneh, pikirannya tidak tenang, dan hidupnya tidak pernah benar-benar nyaman. Trauma di sini tidak dihadirkan sebagai diagnosis medis semata, melainkan sebagai tanda bahwa ada peristiwa masa lalu yang belum selesai. Tubuh menjadi ruang tempat sejarah kembali, ia tidak bisa sepenuhnya membungkam apa yang pernah terjadi, karena masa lalu justru muncul lagi melalui rasa takut, kegelisahan, dan kehancuran psikologis. Perang memang telah usai, penjajahan mungkin sudah berakhir, namun dampaknya tidak ikut selesai begitu saja. Luka sejarah sering tetap tinggal, hanya berubah bentuk. Ia hidup dalam trauma, rasa bersalah, ingatan yang terus kembali, dan ketidakmampuan untuk benar-benar berdamai dengan masa lalunya. Satu hal penting: bangsa bukan hanya dibangun oleh kemenangan, tetapi juga dibentuk oleh yang tidak selalu diakui. Kita sering merayakan kemerdekaan, kepahlawanan, dan perjuangan, tetapi jarang bertanya apa yang sebenarnya tersisa setelah semua itu berlalu. Padahal, dalam banyak kasus, sejarah meninggalkan jejak yang tidak langsung terlihat, tetapi terus memengaruhi kehidupan generasi setelahnya.Propaganda dan Sejarah yang DipolesAdegan wawancara tokoh utama untuk sebuah film merupakan salah satu bagian paling penting dalam cerpen ini. Di situlah pembaca melihat bahwa cerita bukan hanya membahas masa lalu, tetapi juga bagaimana masa lalu diproduksi ulang untuk publik. Film di sini berfungsi sebagai simbol propaganda: sebuah alat untuk memilih bagian mana dari sejarah yang boleh terlihat, dan bagian mana yang harus disembunyikan.".....Dan, harus saya ingatkan, agaknya ada hal-hal yang mungkin tidak perlu Pak Kafka katakan secara langsung di depan kamera. Semoga Pak Kafka baik-baik saja dan semuanya berjalan lancar....”Di sinilah unsur propaganda terasa sangat kuat. Ada bagian sejarah yang ditampilkan, ada pula bagian yang tampaknya harus disembunyikan. Masa lalu dipilih, diedit, dan diarahkan agar sesuai dengan citra tertentu. Cerpen ini seperti ingin mengatakan bahwa sejarah yang kita kenal tidak selalu hadir secara alami. Ia bisa dibentuk sedemikian rupa sehingga tampak rapi, heroik, dan mudah diterima.Di Indonesia, bagian ini terasa sangat dekat. Kita hidup di negara yang memiliki pengalaman panjang dengan narasi sejarah resmi. Ada masa ketika film, buku sekolah, hingga simbol-simbol kenegaraan berperan besar dalam menentukan bagaimana masyarakat memahami masa lalu. Dalam kondisi seperti itu, propaganda tidak selalu hadir secara kasar. Kadang ia bekerja secara halus, melalui pengulangan cerita yang sama terus-menerus sampai akhirnya diterima sebagai satu-satunya kebenaran.Kembalinya Suara KorbanKalau Kafka atau tokoh utama mewakili pahlawan yang dihormati, maka Sania hadir sebagai sisi lain dari sejarah sisi yang sunyi, tetapi justru sangat penting. Kehadiran Sania dalam cerpen ini terasa seperti pembuka luka yang selama ini ditutup rapat. Ia membawa suara korban, suara yang tidak masuk ke dalam film, monumen, atau narasi resmi tentang bangsa.”Ingatkah kau, Kafka, ketika kau dan teman-teman tentaramu menyerbu kompleks tempat tinggalku? Kau dan teman-teman tentaramu memerkosa aku dan ibuku ramai-ramai.”Luka semacam ini tidak selalu muncul dalam bentuk fisik, tetapi hidup dalam ingatan, trauma, dan keheningan. Ia adalah representasi dari mereka yang menderita, tetapi tidak pernah diberi ruang untuk bercerita. Dalam banyak sejarah kekerasan, justru orang-orang seperti inilah yang paling sering tersingkir. Mereka bukan pemenang, bukan tokoh utama, dan bukan wajah yang dipajang dalam perayaan nasional. Namun, tanpa mereka, sejarah menjadi pincang. Bangsa sering kali dibangun dengan merayakan suara pahlawan, tetapi melupakan suara korban. Akibatnya, identitas nasional berdiri di atas fondasi yang retak.Bangsa, Ingatan, dan Wilayah Abu-AbuSalah satu kekuatan utama cerpen ini adalah keberaniannya masuk ke wilayah abu-abu. Ia tidak memberi pembaca pembagian yang sederhana antara benar dan salah, pahlawan dan penjahat, atau korban dan pelaku. Sebaliknya, cerpen ini menunjukkan bahwa sejarah sering berjalan dalam ruang yang rumit.Indonesia memiliki sejarah kolonial yang panjang, tetapi juga memiliki sejarah kekerasan internal, propaganda politik, dan perebutan tafsir atas peristiwa-peristiwa besar. Jepang pernah membuka peluang bagi elite pribumi untuk mengisi jabatan administrasi yang sebelumnya dibatasi oleh Belanda. Setelah kemerdekaan, perjuangan tidak otomatis menghadirkan satu kebenaran tunggal, sebab selalu ada wilayah abu-abu antara pembebasan, kompromi, kekerasan, dan penghapusan suara tertentu. Pengalaman ini tidak hanya di milik Indonesia akan tetapi beberapa negara yang pernah dijajah seperti, Vietnam, Kamboja, serta Filipina juga merasakannya.Sastra sebagai Ruang Membongkar IngatanPada akhirnya, kekuatan cerpen “Ibu Pertiwi” terletak pada kemampuannya menjadikan sastra sebagai ruang pembongkaran. Cerita ini tidak menawarkan kenyamanan. Ia tidak memberi pembaca heroisme yang sederhana, tidak menyuguhkan tanah air sebagai simbol yang sepenuhnya suci, dan tidak membiarkan sejarah berdiri sebagai monumen yang diam. Sebaliknya, cerpen ini menunjukkan bahwa di balik kata-kata seperti merdeka, bangsa, dan pahlawan, sering tersembunyi luka yang belum pernah sungguh-sungguh diselesaikan. Sastra bukan hanya hiburan atau renungan personal, sastra juga dapat menjadi alat kritik sosial-historis. “Ibu Pertiwi” mengingatkan bahwa bangsa yang dewasa bukanlah bangsa yang hanya pandai mengenang kemenangan, melainkan bangsa yang berani memeriksa cara kemenangan itu dibangun dan siapa saja yang mungkin dikorbankan di dalamnya. Ini semua menjelaskan bahwa cerpen atau sastra bukan hanya sekadar hiburan semata melainkan salah satu bentuk perlawanan untuk menyangkal sejarah yang telah disusun oleh negara untuk menyembunyikan kebusukan yang ada di dalamnya.