Polisi Bakal Panggil 3 Anggota DPRD TTU soal Dugaan Intimidasi Dokter Icha

Wait 5 sec.

Kapolres TTU AKBP Eliana Papote. Foto: Dok. IstimewaPolres Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, tengah mendalami dugaan intimidasi terhadap dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha yang meninggal dunia setelah diduga mengalami tekanan psikologis usai menangani pasien di RS Leona Kefamenanu.Penyidik masih memeriksa sejumlah saksi dan berencana memanggil tiga anggota DPRD Kabupaten TTU yang dilaporkan keluarga diduga melakukan intimidasi terhadap dokter Icha saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD).Kapolres TTU AKBP Eliana Papote mengatakan, seluruh proses penyelidikan dilakukan secara profesional, objektif, dan transparan dengan mengedepankan alat bukti serta keterangan para saksi."Hari ini proses pengambilan keterangan terhadap para saksi masih berlangsung. Penyidik terus bekerja mengumpulkan fakta-fakta untuk membuat terang peristiwa ini. Hasil pemeriksaan para saksi nantinya akan kami laporkan setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai," ujar AKBP Eliana Papote, Minggu (28/6).Menurut Eliana, penyidik akan memeriksa tenaga kesehatan yang bertugas bersama dokter Icha saat piket di IGD pada hari kejadian untuk melengkapi proses penyelidikan.Selain itu, polisi berkoordinasi dengan pihak RS Leona Kefamenanu guna memperoleh rekam medis terkait kondisi kesehatan dan kejiwaan dokter Icha selama menjalani perawatan setelah insiden tersebut.Tak hanya itu, penyidik akan meminta klarifikasi dari tiga anggota DPRD Kabupaten TTU yang disebut-sebut dalam laporan keluarga."Kami juga berkoordinasi dengan ahli pidana dan ahli psikologi guna mengkaji apakah dugaan intimidasi tersebut memenuhi unsur tindak pidana atau tidak. Semua dilakukan berdasarkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku," jelas Kapolres.Suasana rumah duka dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni. Foto: kumparanPolisi Jaga Situasi Tetap KondusifDi tengah proses penyelidikan, Polres TTU juga melakukan langkah-langkah preventif untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.Polisi telah melakukan pendekatan kepada keluarga dokter Icha agar mempercayakan penanganan perkara kepada aparat kepolisian dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu konflik.Koordinasi juga dilakukan dengan Ketua DPRD TTU terkait laporan keluarga kepada Badan Kehormatan DPRD, serta dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten TTU untuk mengetahui perkembangan dan respons organisasi profesi terhadap kasus tersebut.Selain itu, Polres TTU berkomunikasi dengan organisasi kemasyarakatan dan organisasi kepemudaan agar tidak memanfaatkan isu tersebut untuk melakukan aksi yang berpotensi mengganggu keamanan.Suasana rumah duka dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni. Foto: kumparanAksi 1.000 LilinKapolres mengungkapkan, pada Sabtu (27/6) pukul 17.30 WITA, IDI Kabupaten TTU bersama tenaga kesehatan menggelar doa bersama dan aksi 1.000 lilin di depan Kantor DPRD Kabupaten TTU sebagai bentuk belasungkawa atas meninggalnya dokter Icha.Kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 peserta."Kami menghormati penyampaian aspirasi maupun ungkapan belasungkawa masyarakat sepanjang dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku," katanya.Selain menyiagakan personel pengamanan, Polres TTU juga meningkatkan patroli di sekitar rumah keluarga almarhum maupun pihak-pihak yang berkaitan dengan perkara tersebut. Polisi melakukan patroli siber untuk memantau perkembangan informasi di media sosial serta mengantisipasi penyebaran informasi yang berpotensi memicu konflik.Kapolres mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi."Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif serta mempercayakan proses penanganan perkara ini kepada Polres TTU. Kami berkomitmen menyelesaikan kasus ini secara profesional, transparan, objektif, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," tegasnya.Dokter Icha ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya di Kabupaten Kupang pada Jumat (26/6). Keluarga menduga korban mengalami depresi berat setelah mendapat intimidasi saat menangani pasien di RS Leona Kefamenanu. Tiga anggota DPRD TTU yang disebut keluarga telah membantah melakukan intimidasi terhadap dokter muda tersebut.