Kita Semua Lagi Main Drama, dan Algoritma Jadi Sutradaranya

Wait 5 sec.

sumber foto: https://stockcake.com/i/connected-yet-alone_3383989_1409493Coba buka Instagram sekarang, scroll lima belas detik, lalu tutup lagi. Apa yang baru saja kamu lihat? Kemungkinan besar: seseorang sedang liburan di tempat yang belum pernah kamu kunjungi, seseorang lain baru beli rumah, dan satu lagi sedang merayakan ulang tahun pernikahan dengan kado yang harganya bisa buat bayar kos setahun. Lalu kamu menutup ponsel sambil mikir, "kok hidup gue gini-gini aja."Saya tidak akan bilang ini salah medsosnya. Medsos cuma alat. Yang menarik untuk dibahas adalah kenapa kita begitu mudah percaya bahwa apa yang muncul di linimasa itu representasi yang adil dari kehidupan orang lain — padahal kita tahu, secara rasional, bahwa itu cuma highlight reel.Kita Tahu Itu Editan, Tapi Tetap KenaIni bagian paling lucu dari fenomena ini: hampir semua orang paham bahwa foto liburan itu diambil dari 47 jepretan dan dipilih satu yang paling bagus. Semua orang tahu caption "blessed" itu kadang ditulis di tengah masalah finansial yang nggak diomongin. Tapi pengetahuan itu nggak bikin kita kebal.Soalnya otak kita nggak diprogram untuk membandingkan diri dengan "rata-rata orang." Otak kita membandingkan dengan apa yang barusan kita lihat. Kalau yang barusan kita lihat adalah versi terbaik dari ribuan orang yang dikurasi algoritma supaya kita terus scroll, ya wajar kalau hidup kita yang biasa-biasa aja jadi terasa kurang.Psikolog menyebut ini social comparison — kecenderungan alami manusia menilai diri sendiri lewat perbandingan dengan orang lain. Bedanya, dulu pembandingnya adalah tetangga sebelah rumah. Sekarang pembandingnya adalah versi paling dikurasi dari ribuan orang sekaligus, setiap hari, tanpa henti.Pamer Itu Bukan Hal Baru, Cuma Skalanya BerubahOrang Indonesia sebenarnya sudah lama akrab dengan budaya pamer. Dulu lewat mobil baru yang dipajang di garasi biar kelihatan tetangga, kondangan dengan baju paling bagus, atau sekadar cerita ke arisan soal anak yang baru diterima kerja di perusahaan bonafit. Bedanya cuma satu: dulu jangkauannya RT/RW, sekarang jangkauannya bisa sampai ke orang yang nggak pernah kamu temui seumur hidup.Skala inilah yang bikin masalahnya jadi lain. Kalau dulu kamu cuma insecure sama tetangga yang beli motor baru, sekarang kamu insecure sama ribuan orang asing yang hidupnya — di permukaan — selalu lebih baik dari kamu. Setiap hari. Setiap buka aplikasi.Lalu Siapa yang Salah?Gampang untuk bilang "yah ini salah generasi sekarang yang lebay." Tapi itu jawaban yang terlalu malas. Algoritma platform memang dirancang untuk menampilkan konten yang memicu reaksi kuat — dan konten "hidup sempurna" terbukti memicu reaksi, entah itu kagum, iri, atau keduanya sekaligus. Ini bisnis model, bukan kebetulan.Di sisi lain, kita yang posting juga punya peran. Kita ikut membentuk linimasa yang sama dengan ikut memamerkan versi terbaik dari hidup kita. Saya, kamu, kita semua — sedikit banyak terlibat dalam produksi drama yang kita keluhkan sendiri.Jadi ini bukan soal mencari siapa yang patut disalahkan, tapi soal sadar bahwa kita ini sedang berada di dalam sistem yang dirancang untuk membuat kita merasa kurang, supaya kita terus kembali untuk mencari validasi.Yang Bisa Kita Lakukan, Selain Berhenti TotalSaya nggak akan menyarankan "hapus aja medsosnya" karena itu nasihat yang gampang diucapkan dan susah dijalani — apalagi kalau pekerjaan atau koneksi sosial kita memang lewat sana. Yang lebih realistis mungkin:Sadar dulu bahwa apa yang kamu lihat adalah hasil kurasi, bukan dokumentasi. Setiap kali merasa hidup orang lain "lebih," ingat bahwa kamu cuma melihat satu frame dari ribuan frame yang mereka buang.Perhatikan perasaan setelah scroll, bukan cuma sebelum scroll. Kalau setiap kali habis buka aplikasi tertentu kamu merasa lebih lelah atau lebih nggak cukup, itu sinyal yang layak didengarkan, bukan diabaikan.Dan mungkin yang paling penting: hidup yang biasa-biasa aja itu bukan kegagalan. Itu cuma hidup yang nggak sempat atau nggak perlu didokumentasikan untuk konsumsi publik.Pada akhirnya, kita semua memang lagi main drama bersama, dengan algoritma sebagai sutradara yang nggak pernah kelihatan tapi selalu menentukan skenario. Pertanyaannya bukan bagaimana keluar dari panggung itu sepenuhnya — tapi bagaimana caranya kita tetap jadi diri sendiri di tengah pertunjukan yang terus berjalan.