Untuk apa sebenarnya pendidikan? Alasan K-Drama ‘Teach You a Lesson’ ramai ditonton

Wait 5 sec.

IMDbSepekan setelah dirilis, drama Korea terbaru Netflix, Teach You a Lesson besutan sutradara Hong Jong-chan, memuncaki peringkat global untuk kategori serial non-Bahasa Inggris periode 1-7 Juni.Diadaptasi dari webtoon populer Get Schooled (2020), serial berisi sepuluh episode ini mengisahkan unit bentukan pemerintah yang berupaya membenahi karut-marut di sekolah. Tak butuh waktu lama, serial tersebut langsung melejit dengan rating tinggi.Bahkan, artikel Forbes menyebutnya sebagai “salah satu drama paling adiktif dan memuaskan tahun ini.” Popularitas serial ini pun langsung meledak di Asia dan berbagai belahan dunia lainnya.Namun, di balik balutan aksi, drama, dan balas dendam, serial ini sebenarnya menyimpan pertanyaan besar yang menggelitik para orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan di mana pun: untuk apa sebenarnya pendidikan itu ada, ketika ruang kelasnya sendiri sedang berada dalam krisis? Pelajaran berhargaTeach You a Lesson memotret realitas masyarakat Korea Selatan yang sistem pendidikannya tengah berada di titik nadir akibat melonjaknya kasus kekerasan di sekolah dan runtuhnya wibawa guru.Dikisahkan, Menteri Pendidikan Korea Selatan, Choi Gang-seok (diperankan oleh Lee Sung-min), mendirikan Biro Perlindungan Hak-Hak Pendidikan (ERPB) setelah putrinya yang berprofesi sebagai guru tewas secara tragis di tangan seorang murid.Unit ERPB ini pun dibekali wewenang hukum luar biasa untuk mengintervensi sekolah-sekolah yang bermasalah.Garda terdepan unit ini dipimpin oleh Na Hwa-jin (dimainkan oleh Kim Mu-yeol). Ia adalah sosok pahlawan aksi dalam serial ini, sekaligus menantu sang menteri dan mantan kapten pasukan khusus yang beralih tugas menjadi inspektur. Dari kiri: Inspektur Im Han-rim (diperankan oleh Jin Ki-joo), Pemimpin ERPB Na Hwa-jin (Kim Mu-yeol), Menteri Choi Gang-seok (Lee Sung-min), dan Wakil Manajer Bong Geun-dae (Pyo Ji-hoon). Netflix Dalam aksinya, Hwa-jin berkolaborasi dengan Im Han-rim, sosok eksentrik tapi terlatih, serta Bong Geun-dae yang canggung tetapi genius dalam urusan teknologi.Bak drakor populer Taxi Driver (2021) tapi versi ruang kelas, setiap episode serial ini mengupas tuntas kasus yang berbeda—mulai dari perundungan, korupsi, kecurangan akademis, kriminalitas remaja, perjudian, peredaran narkoba, hingga eksploitasi.Ketika institusi resmi gagal melindungi mereka, para korban pun meminta bantuan kepada ERPB—yang siap turun tangan memberikan keadilan secara instan dan memuaskan (cathartic justice).Kasus-kasus yang dihadapi juga sangat beragam: mulai dari anak manja seorang politisi kuat yang kebal hukum setelah melakukan perundungan, realitas kelam sekolah vokasi yang mendewakan kekerasan, hingga seorang siswa influencer yang menggunakan media sosial sebagai senjata untuk menyerang para guru (yang berujung pada konsekuensi tragis).Episode-episode lainnya turut menyoroti skandal kecurangan ujian, pola asuh orang tua yang terlalu mengekang, hingga ketatnya tekanan kompetisi. Banyak di antaranya bahkan diangkat dari kisah nyata, termasuk kasus memilukan di Seoul pada tahun 2023, saat seorang guru muda nekat mengakhiri hidupnya akibat intimidasi dari orang tua murid.Dengan mengangkat kisah-kisah personal yang begitu kuat, Teach You a Lesson berhasil menyoroti krisis pendidikan langsung dari kacamata korban.Ini selaras dengan jawaban Menteri Choi saat menanggapi tudingan bahwa bironya sekadar menjadi wadah balas dendam pribadi: “Kami tidak berdiri di sisi guru ataupun murid. Kami berdiri di sisi korban.”Fantasi yang melegakanDalam serial ini, jika anak seorang politisi merundung orang lain, cerita akan menjatuhkan politisi tersebut. Jika seorang guru mengeksploitasi murid yang jujur, guru itu akan dimintai pertanggungjawaban.Realitas di dunia nyata memang pahit. Itulah mengapa fantasi semacam ini terasa begitu melegakan.Kendati demikian, Teach You a Lesson tetap menuai kritik dari para praktisi pendidikan di Korea Selatan. Serial ini dinilai mengglorifikasi kekerasan dan hukuman fisik melalui narasi yang menyuguhkan hukuman fisik atau aksi mempermalukan di depan umum bagi para remaja bermasalah, orang tua yang kasar, hingga pendidik yang korup. Lewat tamparan, tendangan, dan senyum sinisnya, Na Hwa-jin sukses membuat para remaja pembuat onar ini bertekuk lutut. IMDb Namun, popularitas serial ini mengisyaratkan bahwa penonton mencari sesuatu yang lebih dari sekadar kepuasan menyaksikan aksi main hakim sendiri. Dialog-dialognya yang menggugah semangat serta penggambaran karakter yang begitu hidup tidak hanya menawarkan eskapisme, tetapi juga memantik refleksi mendalam atas bobroknya sistem pendidikan di dunia nyata.Pada hakikatnya, serial ini berporos pada komitmen untuk berdiri di sisi para korban. Salah satu kutipan paling menohok muncul saat Hwa-jin merenungkan runtuhnya wibawa di lingkungan sekolah: “Jika orang dewasa mulai takut pada anak-anak, maka hancurlah dunia.” Aksi Na Hwa-jin saat menyelamatkan seorang murid dalam serial ‘Teach You a Lesson’ (2026). IMDb Berulang kali, drama ini menekankan pentingnya hak untuk dilihat dan didengar. Para korban didorong untuk berani bersuara. Seperti yang dikatakan Hwa-jin kepada salah satu murid korban perundungan: “Jika rasa sakit itu terus disembunyikan, tidak akan ada yang tahu bahwa pertolongan sedang dibutuhkan.”Serial ini juga menolak terjebak dalam dikotomi hitam-putih antara pahlawan melawan penjahat.Salah satu pelaku kriminal remaja di pusat penahanan anak, misalnya, ternyata dulunya adalah korban. Penderitaannya di masa lalu luput dari perhatian hingga akhirnya mengkristal menjadi perilaku kekerasan. Permohonannya kepada Hwa-jin—"Bisakah kamu berjanji satu hal saja padaku? Tolong pastikan tidak ada lagi orang yang berakhir seperti aku"—terasa seperti pesan yang tidak hanya ditujukan untuk sang karakter, tetapi juga langsung kepada penonton.Untuk apa, dan siapa, sebenarnya pendidikan itu?Pertanyaan inilah, bukan aksi ataupun konfrontasi dramatis, yang berhasil menjelaskan mengapa Teach You a Lesson begitu memikat penonton global.Daya tarik dari fantasi yang ditawarkan serial ini meluas jauh ke luar Korea Selatan. Serial ini terpantau sempat viral di Cina bertepatan dengan musim “gaokao"—ujian masuk perguruan tinggi negeri di Cina yang terkenal sangat kompetitif—menjadi pelampiasan atas besarnya tekanan, isu keadilan, hingga perebutan kesempatan dalam dunia pendidikan.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan publik di banyak negara terhadap pendidikan modern kian merosot. Para orang tua mengkhawatirkan maraknya perundungan, para guru mengeluhkan beban kerja yang tak lagi rasional serta wibawa mereka yang terkikis. Sementara itu, para pembuat kebijakan terseok-seok menyelaraskan berbagai tuntutan yang ada di sekolah.Pada saat yang sama, Teach You a Lesson juga berakar kuat pada kultur pendidikan Korea Selatan yang sarat kompetisi tinggi. Di sana, pencapaian akademis erat kaitannya dengan mobilitas sosial, sehingga dunia persekolahan memikul beban emosional dan ekonomi yang luar biasa besar. Konfrontasi final Hwa-jin dengan murid yang membunuh istrinya, di koridor yang sama. IMDb Di episode pamungkas, Hwa-jin berujar kepada murid yang bertanggung jawab atas kematian istrinya: "Kesempatan bukanlah sesuatu yang diberikan padamu, melainkan sesuatu yang kamu raih saat kamu benar-benar menginginkannya.”Kutipan ini merekam keyakinan yang mengakar kuat di Asia Timur dan berbagai belahan dunia lain bahwa pendidikan adalah kesempatan terbaik untuk meraih kehidupan yang lebih layak.Namun, apa yang akan terjadi ketika para pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan tidak lagi memiliki sarana memadai untuk mengatasi tumpukan masalah yang ada—hingga akhirnya sebagian orang harus menjadi korban? Jika sudah begitu, untuk apa sebenarnya pendidikan?Yanyan Hong tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.