Ilustrasi bursa. Foto: Piyato/ShutterstockFirmus Grid Ltd. yang semula menjadi salah satu perusahaan potensial di tengah booming pusat data kecerdasan buatan (AI), mendadak menghadapi kegagalan transaksi besar hanya dalam waktu 48 jam.Mengutip Bloomberg, perusahaan yang mendapat dukungan Nvidia Corp. itu sebelumnya gencar mempromosikan posisinya di industri AI. Firmus bahkan hampir mencetak sejarah melalui penawaran umum perdana saham (IPO) senilai hingga USD 5,5 miliar, yang berpotensi menjadi salah satu IPO terbesar di Australia. Dengan valuasi yang ditargetkan, perusahaan tersebut juga berpeluang masuk dalam jajaran 10 pemain terbesar di industrinya.Namun, rencana ambisius itu mulai goyah setelah sejumlah pengelola dana asal Amerika Serikat (AS) menelaah perusahaan secara lebih mendalam. Investor yang diharapkan menyerap sebagian besar saham dalam IPO tersebut justru menilai valuasi Firmus terlalu tinggi.Hingga Selasa malam waktu Sydney, tim transaksi terus menerima umpan balik serupa dari para pengelola dana. Valuasi USD 30 miliar yang dipatok Firmus dianggap tidak realistis. Memasuki Rabu pagi, peluang IPO berjalan sesuai rencana awal semakin kecil.Tim transaksi kemudian berupaya mencari jalan keluar, mulai dari menurunkan harga saham hingga mengurangi jumlah saham yang ditawarkan. Meski berbagai opsi dipertimbangkan, IPO tersebut pada akhirnya batal.Kronologi ini disusun berdasarkan percakapan dengan sejumlah pihak yang mengetahui langsung situasi tersebut. Mereka meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan kerahasiaan. Perwakilan Firmus menolak memberikan komentar.Salah satu persoalan yang kemudian menjadi perhatian publik adalah tidak adanya kewajiban escrow bagi pemegang saham lama. Kondisi ini membuka peluang bagi mereka untuk menjual saham ke pasar, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap harga saham setelah IPO.Meski demikian, banyak investor sebelumnya masih optimistis karena menerima berbagai informasi yang menggambarkan tingginya permintaan terhadap saham Firmus.Situasi berubah pada Rabu ketika pemberitaan mengenai lemahnya permintaan dan kemungkinan penurunan harga mulai bermunculan. Notifikasi berita di ponsel para investor memicu kekhawatiran, bahkan seorang pengelola dana harus meninggalkan pertemuan di sebuah kedai kopi di Hong Kong untuk memeriksa perkembangan transaksi.Sore hingga malam harinya, para investor berupaya mencari kejelasan mengenai kondisi IPO tersebut. Sementara itu, para bankir yang menangani transaksi mulai menyadari bahwa rencana awal sulit dipertahankan tanpa perubahan skala penawaran.Transaksi dengan nama sandi internal ‘Australis’ itu kemudian dibahas ulang dengan sejumlah skenario. Salah satu opsi yang muncul adalah memangkas nilai IPO menjadi sekitar USD 3 miliar, disertai penurunan valuasi ke kisaran USD 20 miliar hingga USD 25 miliar.Pada Rabu malam, Firmus bersama para penasihatnya berusaha meyakinkan investor AS agar tetap berpartisipasi dalam transaksi yang lebih kecil dengan harga lebih rendah. Namun, upaya tersebut tidak berhasil mengamankan dukungan yang dibutuhkan.Bank of America Corp., JPMorgan Chase & Co., Morgan Stanley, dan Morgans Financial Ltd. ditunjuk sebagai manajer utama bersama dalam IPO tersebut. Juru bicara Morgan Stanley menolak berkomentar, sedangkan perwakilan bank lainnya tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.Ketidakpastian berlanjut hingga Kamis. Minimnya informasi yang tersedia membuat banyak pihak kesulitan mengetahui perkembangan terbaru transaksi tersebut.Proses pembentukan harga atau bookbuilding akhirnya ditutup sesuai jadwal, sesaat setelah pukul 11.00 waktu Australia. Namun, kekhawatiran investor semakin besar karena Firmus dinilai belum berhasil memperoleh dukungan yang cukup untuk harga penawaran sebesar USD 11 per saham.Bahkan setelah proses bookbuilding berakhir, belum ada kejelasan mengenai harga final maupun struktur transaksi yang akan digunakan.Tekanan terhadap transaksi tersebut juga tercermin pada pergerakan saham Maas Group Holdings Ltd., perusahaan yang mendukung Firmus. Saham Maas Group sempat merosot hingga 30 persen di bursa Sydney, menjadi penurunan terbesar sepanjang sejarah pencatatannya.Di tengah situasi tersebut, para pengelola dana yang meminta pembaruan informasi mengenai IPO Firmus tidak kunjung memperoleh kepastian. Sejumlah investor mulai mengurangi pesanan saham mereka, sementara sebagian lainnya memilih membatalkan pesanan sepenuhnya setelah melihat semakin banyak indikasi bahwa transaksi itu tengah menghadapi masalah.