Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono dan Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Pusat, Minggu (11/10/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparanAnak dengan disleksia kerap disalahpahami karena mengalami kesulitan membaca dan menulis. Kondisi ini bahkan bisa membuat mereka dianggap bodoh atau nakal, padahal tingkat kecerdasannya bisa normal hingga di atas rata-rata.Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Maria Endang Sumiwi, mengatakan orang tua perlu memahami bahwa anak dengan disleksia memiliki cara belajar yang berbeda."Kita hanya harus memahami bagaimana otaknya bekerja berbeda. Jadi ini orang tua enggak perlu merasa bersalah kalau anaknya disleksia karena mereka belajarnya, caranya, berbeda,” kata Maria dalam acara Festival Suara Jiwa di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Minggu (11/10).Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa disleksia merupakan gangguan belajar yang perlu dipahami secara tepat agar anak mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya.“Sebetulnya yang kasus-kasus disleksia itu gangguan belajar. Jadi dia sebetulnya enggak ada masalah dengan otaknya, cuma cara belajarnya,” ujar Imran.Menurut Imran, pemahaman mengenai disleksia tidak hanya diperlukan oleh orang tua, tetapi juga oleh lingkungan pendidikan. Guru perlu mengenali karakteristik dan kebutuhan belajar anak agar tidak keliru memahami kesulitan yang mereka alami.“Sektor pendidikan itu harus juga aware, harus paham, gitu kan. Guru-guru harus tahu sebetulnya,” kata Imran.Ia mengatakan, pengenalan terhadap karakteristik anak perlu dilakukan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga kelas awal sekolah dasar. Dengan mengenali tanda-tandanya sejak dini, guru dapat membantu mengarahkan anak yang menunjukkan ciri-ciri disleksia atau kondisi lain agar mendapatkan dukungan dan layanan yang sesuai.“Harusnya guru-guru PAUD, kelas 1, kelas 2 itu sudah harus tahu tuh gaya-gayanya, kalau punya murid yang disleksia, atau punya murid yang kayaknya autism, gitu kan. Sehingga dia bisa diarahkan atau ya dihubungkan dengan layanan-layanan yang memang anak ini membutuhkan, gitu,” tutup Imran.