Data Art 2026: Extending Life mengajak publik membaca persoalan kehidupan melalui seni. Foto: Dok. IstimewaSebanyak 40 karya dari 37 saintis lintas disiplin dalam pameran Data Art 2026: Extending Life mengajak publik membaca persoalan kehidupan melalui seni. Di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), data gempa, kebakaran hutan, dan kesehatan tubuh diolah menjadi karya yang menghubungkan riset dengan pengalaman sehari-hari.Karya Denyut Sumatera 1998-2024 memvisualisasikan 5.044 gempa bermagnitudo 4,5 ke atas di Sumatera sebagai denyut bumi. As If Ash Remains menyusun batang korek api menjadi peta Indonesia untuk merekam jejak kebakaran hutan, sementara Hazard in Beauty mengungkap ancaman pencemaran minyak di balik warna-warni pesisir. Karya-karya ini mengajak pengunjung memahami data sekaligus merenungkan dampaknya bagi kehidupan.Data Art 2026: Extending Life mengajak publik membaca persoalan kehidupan melalui seni. Foto: Dok. IstimewaPersoalan kesehatan hadir melalui Glucowrap, perangkat berbasis sensor yang dikembangkan untuk mendukung pemantauan kondisi kaki penyandang diabetes. Sementara itu, Emergence of Being mempertemukan seni dan matematika melalui wajah abstrak yang terbentuk dari fungsi matematis.Pembukaan pameran pada 5 Oktober 2026 menghadirkan Dr. Michael Hoch, fisikawan dan seniman yang terlibat dalam eksperimen CMS di CERN, Swiss, sebagai pembicara utama. Hoch merupakan pendiri art at CMS, program yang mempertemukan fisika partikel, seni, dan pendidikan untuk mendekatkan riset kepada masyarakat melalui pameran dan lokakarya. "Seni memberi ruang bagi masyarakat membayangkan sains secara lebih sederhana dan emosional," kata Hoch dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan.Data Art 2026: Extending Life mengajak publik membaca persoalan kehidupan melalui seni. Foto: Dok. IstimewaData Art 2026 diselenggarakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM dan Keluarga Alumni FMIPA UGM (KAMIPAGAMA) sebagai mitra pelaksana. Pameran ini merupakan penyelenggaraan kedua setelah Indonesia, Life Behind Data pada 2025.Melalui gagasan Merawat Denyut, Menjaga Ingatan, Dekan FMIPA UGM Prof. Dr.-Ing. Mhd. Reza M. I. Pulungan, S.Si., M.Sc. mengatakan pameran Data Art 2026 mengajak riset kampus menjangkau ruang publik dan memaknai data sebagai sarana merawat kehidupan dan ingatan bersama. Data menjadi rekaman pemikiran dan pengalaman manusia yang dapat terus dimaknai lintas waktu.Ketua Keluarga Alumni FMIPA UGM Daniel Oscar Baskoro turut mengutarakan dengan berbagai kreativitas dan ragam karya tersebut memperlihatkan bagaimana riset sains dan data dapat diterjemahkan menjadi bentuk seni yang bisa dilihat dan dipahami publik.Pameran yang berlangsung pada 5-11 Oktober 2026 ini menempatkan seni sebagai sarana untuk memperluas literasi data dan sains. Dengan membawa hasil riset ke ruang publik, Data Art 2026 membuka percakapan tentang peran pengetahuan dalam memahami risiko bencana, menjaga lingkungan, dan kesehatan bagi keberlangsungan kehidupan.