Ilustrasi anak bersama ayah dan ibu. Foto: Shutter StockMoms, pernahkah si kecil menangis karena mainannya diambil atau marah ketika keinginannya tidak terpenuhi? Pada usia dini, anak belum tentu bisa menjelaskan perasaan yang sedang dialaminya. Karena itu, ia membutuhkan bantuan orang tua untuk mengenali dan mengelola emosinya.Kemampuan tersebut merupakan bagian dari kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ). Psikolog Dra. A. Ratih Andjayani Ibrahim, M.M., Psikolog, menjelaskan bahwa kecerdasan emosional membantu seseorang memahami situasi, mengenali perasaan yang muncul, dan memberikan respons yang tepat."Kecerdasan emosional adalah kemampuan kita untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita, sebabnya apa, dampaknya ke kita, serta nama dari perasaan dan reaksi yang muncul, lalu meresponsnya dengan benar," jelas Ratih saat ditemui kumparanMOM pada diskusi media “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal”, di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (8/10).Menurutnya, kecerdasan emosional perlu diperkenalkan sejak anak masih kecil. Orang tua dan saudara sebagai lingkungan terdekat memiliki peran penting dalam memberikan contoh kepada anak saat menghadapi berbagai emosi.Cara Stimulasi Kecerdasan Emosional Anak Ilustrasi ibu memeluk anak. Foto: ShutterstockBerikut beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan dalam keseharian.1. Bantu Anak Mengenali PerasaannyaKetika anak menangis atau marah, orang tua bisa membantunya mengenali emosi yang sedang dirasakan. Misalnya, dengan mengatakan, "Kamu kecewa karena belum boleh bermain lagi, ya?"Kalimat sederhana tersebut membantu anak menghubungkan pengalaman yang dialaminya dengan nama emosi yang tepat.2. Berikan Contoh Cara Mengelola EmosiAnak banyak belajar melalui pengamatan terhadap orang-orang di sekitarnya. Karena itu, cara orang tua menghadapi kemarahan, kekecewaan, atau stres juga dapat menjadi contoh bagi anak.Ketika merasa kesal, orang tua bisa menunjukkan cara menenangkan diri sebelum merespons situasi. Misalnya, mengambil napas sejenak atau berbicara dengan suara yang lebih tenang. Hindari membentak anak ketika sedang mengajarinya agar tidak berteriak. 3. Beri Ruang untuk Mengekspresikan PerasaanAnak boleh merasa sedih, kecewa, atau marah. Orang tua tidak perlu menganggap setiap tangisan sebagai perilaku buruk yang harus segera dihentikan.Sebaliknya, bantu anak memahami perasaannya sambil tetap memberikan batasan yang jelas. Misalnya, anak boleh marah ketika mainannya diambil, tetapi tidak boleh memukul orang lain.Dengan begitu, anak belajar bahwa perasaannya dapat diterima, tetapi perilaku yang menyakiti diri sendiri maupun orang lain tetap tidak diperbolehkan.Ilustrasi ibu dan anak bersedih. Foto: 9nong/Shutterstock4. Latih Empati dalam KeseharianKecerdasan emosional juga berkaitan dengan kemampuan memahami perasaan orang lain. Orang tua bisa melatihnya melalui percakapan sederhana dalam aktivitas sehari-hari.Misalnya, tanyakan bagaimana perasaan temannya ketika mainannya direbut atau apa yang bisa dilakukan saat melihat seseorang sedang sedih.5. Ciptakan Lingkungan yang Aman untuk BerceritaAnak perlu merasa bahwa ia boleh bercerita dan mengungkapkan perasaan tanpa takut langsung dimarahi atau diremehkan.Ketika anak menyampaikan sesuatu yang membuatnya sedih atau kecewa, dengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat. Respons yang hangat dan konsisten membantu anak merasa lebih nyaman untuk mengungkapkan perasaannya.Menstimulasi kecerdasan emosional anak sejak dini tidak berarti menuntutnya selalu tenang atau tidak pernah menangis. Melalui pendampingan yang konsisten, anak dapat belajar mengenali perasaannya, memahami orang lain, dan menghadapi berbagai situasi secara bertahap.