Usulan Motor Baru Wajib ABS 2027, Asosiasi Respons Perlu Kajian Komprehensif

Wait 5 sec.

Media test ride Yamaha Gear Ultima 125 Hybrid di Bali, (8/5/2025). Foto: YIMMKeselamatan tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang terpasang pada kendaraan. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menilai kemampuan dan perilaku pengendara menjadi salah satu faktor yang jauh lebih dominan menekan risiko kecelakaan.Ketua Bidang Road Safety & Motorsport AISI, Victor Assani mengatakan terdapat tiga variabel utama yang memengaruhi kecelakaan lalu lintas, yakni manusia atau pengendara, kendaraan, serta jalan dan lingkungan.“Sedangkan, kontributor terbesar adalah pada variabel pengendara atau manusia yang berada di kisaran 75-85 persen,” buka Victor kepada kumparan, Rabu (7/10).Victor mengatakan faktor kendaraan terhadap kecelakaan jauh lebih kecil dibandingkan manusia. Ia menyebut kontribusi variabel kendaraan berada di kisaran 6 persen, sementara berdasarkan data Pusiknas (Pusat Informasi Kriminal Nasional) angkanya berada sekitar 4,5 persen pada 2025.Test ride new Honda PCX 160 RoadSync di Bali. Foto: dok. AHMSoal usulan kewajiban fitur rem ABS pada motor termasuk opsi CBS, menurut dia, teknologi keselamatan tetap memiliki peran, tetapi pembahasan mengenai keselamatan berkendara tidak dapat hanya berfokus pada fitur yang ada di kendaraan.“ABS sebenarnya bukan teknologi baru walaupun di Indonesia baru muncul di kisaran 2010-an dan beberapa anggota AISI juga sudah menerapkan khususnya pada beberapa produk 150 cc ke atas,” paparnya.Karena faktor manusia memiliki kontribusi besar, Victor menilai peningkatan kemampuan berkendara dan kesadaran terhadap keselamatan menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting. Pengendara perlu memiliki kemampuan yang memadai sekaligus memahami cara berkendara yang aman sesuai kondisi jalan dan lingkungan.Rem ABS all new Honda PCX Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan“ABS memang sebuah teknologi, namun kita juga harus bijak melihat pada beberapa variabel yang perlu diperhatikan misalnya berbicara kondisi jalan di Indonesia seperti apa, penggunaan sepeda motor untuk apa atau behaviour termasuk skill dalam berkendara, ini justru yang menjadi fondasi,” tutur Victor.Menurutnya, persoalan keselamatan juga tidak berhenti pada kemampuan teknis mengendalikan sepeda motor. Kepatuhan terhadap aturan lalu lintas menjadi bagian penting karena pelanggaran dan rendahnya kesadaran untuk menaati peraturan dapat menjadi pemicu terjadinya kecelakaan.“Dari sisi regulasipun sebenarnya sudah cukup komplet baik regulasi secara kendaraan termasuk berbagai uji yang dilakukan sampai regulasi mengenai tata cara berlalu lintas. Namun kenapa masih banyak terjadi pelanggaran dan kurang kesadaran dari masyarakat untuk menaati peraturan yang menjadi akar dari timbulnya kecelakaan,” ujarnya.Untuk itu, AISI bersama Federation of Asia Motorcycle Industries (FAMI) mendorong penguatan edukasi keselamatan berkendara secara lebih masif. Menurut Victor, pendidikan mengenai road safety perlu dilakukan sedini mungkin agar kesadaran berlalu lintas tidak hanya dibentuk setelah seseorang menjadi pengendara.Ilustrasi rem ABS di motor. Foto: ShutterstockIa bahkan menilai keselamatan berlalu lintas idealnya dapat menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. Langkah tersebut dinilai penting mengingat kecelakaan lalu lintas banyak melibatkan kelompok usia produktif.“Ini tentunya menjadi tantangan bersama berbagai pihak termasuk industri dalam meningkatkan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Mengingat serius dan urgent-nya masalah ini maka kami juga sering menyuarakan bahwa seyogiyanya road safety dapat menjadi bagian dari kurikulum,” ucapnya.Selain edukasi, Victor menilai penegakan hukum juga mempunyai peran dalam membangun budaya tertib berlalu lintas. Menurutnya, kepatuhan pengendara terhadap aturan menjadi bagian penting dari upaya menekan angka kecelakaan.“Mencermati ini semua, tentunya penegakan hukum menjadi faktor selanjutnya yang dapat ‘mengedukasi’ dengan ‘caranya’ agar kedisiplinan dan budaya tertib lalu lintas yang menjadi faktor utama menurunkan angka kecelakaan dapat tercapai,” jelasnya.Dengan demikian, Victor menilai pembahasan mengenai fitur keselamatan kendaraan, termasuk ABS, perlu ditempatkan dalam kerangka keselamatan yang lebih luas. Ia menyebut diperlukan kajian komprehensif agar kebijakan yang diambil dapat memberikan hasil paling optimal dalam menekan angka kecelakaan.“Sehingga saya pikir ini masih memerlukan kajian komprehensif yang lebih lanjut. Jadi dalam proses pengambilan keputusan tentu kita harus mengambil hasil yang paling optimal termasuk aksi yang lebih strategis,” pungkasnya.