“Jangan-Jangan aku ADHD?”: Antara kesadaran mental dan jebakan self-diagnosis

Wait 5 sec.

Fenomena late-diagnosis ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) pada orang dewasa mulai ramai diperbincangkan di sosial media. Keresahan mengenai kesulitan berkonsentrasi, hingga seringnya menunda pekerjaan hingga mendekati deadline, membuat orang terbersit pikiran “jangan-jangan aku mengidap ADHD?” Namun apakah ramainya perbincangan mengenai ADHD ini benar-benar menandai meningkatnya kesadaran kesehatan mental, atau malah justru jebakan tren self diagnosis akibat banyaknya informasi yang belum tentu akurat di internet? Dalam episode terbaru Podcast SuarAkademia kali ini kami mengajak Muhammad Nabhan Husein, dosen fakultas psikologi Universitas Gadjah Mada, untuk berdiskusi mengenai fenomena tersebut.Nabhan mengungkapkan bahwa lonjakan diagnosis ADHD pada usia 20-an hingga 30-an berbanding lurus dengan meningkatnya literasi kesehatan mental. Sebelumnya, ADHD kerap diidentikkan sebagai gangguan yang hanya dialami anak-anak yang dianggap terlalu aktif atau nakal akibat keterbatasan pemahaman orang tua dan pendidik kala itu. Selain itu, Nabhan juga menjelaskan bahwa banyak orang dewasa mengalihkan gejalanya melalui kondisi high-functioning ADHD. Individu dengan kapasitas kognitif atau kecerdasan tinggi kerap mampu menutupi hambatan fokus mereka saat kecil. Namun, begitu memasuki dunia kerja dengan tuntutan tanggung jawab, jadwal, dan relasi sosial yang makin kompleks, strategi adaptasi tersebut runtuh dan memicu hambatan nyata yang mendorong mereka mencari bantuan profesional.Banyaknya tes ADHD gratis yang tersebar di internet sering kali memicu kekeliruan masyarakat dalam mendiagnosis diri sendiri. Nabhan menegaskan bahwa tes daring tersebut bukanlah sarana penentu diagnosis medis. Diagnosis mandiri berbasis konten media sosial juga sangat berisiko memunculkan confirmation bias–situasi ketika seseorang hanya mencari pembenaran atas kondisi dirinya. Nabhan menambahkan bahwa praktik tersebut kerap berujung pada justifikasi pasrah atas penurunan produktivitas tanpa mencari solusi klinis yang tepat. Kekhawatiran ini diperkuat oleh hasil riset yang mengevaluasi konten ADHD di platform TikTok dan menemukan 50% dari konten populer yang beredar ternyata tidak relevan atau menyesatkan menurut evaluasi para pakar.Penegakan diagnosis ADHD pada orang dewasa merupakan proses yang rumit dan tidak bisa di selesaikan dalam satu kali tes singkat. Psikolog klinis maupun psikiater harus menelusuri riwayat perkembangan saraf individu secara konsisten sejak masa kanak-kanak, serta menyingkirkan kemungkinan gangguan lain yang gejalanya serupa, seperti depresi, kecemasan, ataupun burnout. Baca juga: The invisible performance of ‘masking’ ADHD symptoms is exhausting Nabhan juga menyoroti bahaya fenomena masking, yaitu upaya keras individu untuk menyembunyikan gejala ADHD agar terlihat biasa saja di mata lingkungan sosial. Meskipun masking membantu pengidapnya bertahan dalam jangka pendek, tuntutan energi kognitif yang besar untuk bersikap adaptif dalam jangka panjang akan memicu kelelahan mental yang parah, merusak kualitas hubungan kerja, serta menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.Simak episode lengkapnya hanya di SuarAkademia ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.