Profesor di Bidang Keuangan NUS Business School, Johan Sulaeman (kanan) dan Managing Director of Sustainable and Green Finance Institute dan juga Profesior di Bidang Keuangan NUS Business School, Sumit Agrawal (kiri) di The Ridge, NUS Business School, Rabu (8/10/2026). Foto: Ema Fitriyani/kumparanPenggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mencari informasi hingga menentukan pilihan investasi semakin populer. Namun, investor tetap perlu berhati-hati dan tidak menyerahkan keputusan investasi sepenuhnya kepada AI.Profesor di Bidang Keuangan NUS Business School, Johan Sulaeman, mengatakan pertanyaan tentang rekomendasi saham paling banyak ditanyakan pengguna AI. Menurutnya, AI memang mampu memberikan rekomendasi saham dengan cepat. Namun, investor tetap perlu melakukan riset mendalam untuk memastikan informasi dan logika di balik rekomendasi tersebut benar.“Menurut saya tidak boleh sepenuhnya percaya kepada AI. Salah satu pertanyaan paling populer yang diajukan kepada AI adalah saham apa yang sebaiknya dibeli,” kata Johan dalam diskusi dengan media Jakarta di The Ridge NUS Business School, Singapura, Rabu (8/10). Menurut dia, AI memang sangat baik dalam memberikan jawaban. Namun, keputusan investasi tetap berada di tangan investor karena uang yang dipertaruhkan bukan milik AI.“Sebagai investor, ini uang Anda. Bukan uang AI. Jadi Anda perlu melakukan due diligence sendiri dan memeriksa apakah semua respons dari AI benar-benar akurat,” ujarnya.Johan menilai persoalan AI dalam investasi juga tidak semata-mata berkaitan dengan halusinasi atau ketika AI menghasilkan informasi yang keliru. Menurutnya, kemampuan AI untuk menghasilkan informasi yang lebih akurat saat ini tidak berarti investor bisa menerima seluruh jawabannya begitu saja.“Menurut saya, AI sekarang semakin jarang berhalusinasi. Beberapa AI masih mengalaminya, tetapi beberapa lainnya sudah tidak terlalu sering. Artinya, Anda mungkin bisa mempercayai sebagian besar informasinya, tetapi Anda tetap harus memeriksa seluruh informasi dan juga logika berpikirnya,” katanya.Karena itu, menurut Johan, investor perlu memahami bagaimana AI sampai pada sebuah rekomendasi saham. Kemampuan AI untuk menjelaskan alasan di balik rekomendasinya menjadi penting agar manusia tetap dapat mengkritisi keputusan tersebut.Investor Berhadapan dengan AI LainIlustrasi belajar AI. Foto: Summit Art Creations/ShutterstockJohan juga mengingatkan bahwa investor tidak bertransaksi di pasar yang kosong. Ketika seseorang membeli saham, terdapat investor lain yang berada di sisi berlawanan dan menjual saham tersebut.“Ketika Anda bertransaksi di pasar keuangan, Anda tidak bertransaksi melawan ruang kosong. Anda bertransaksi melawan orang lain yang juga menggunakan AI,” katanya.Kondisi tersebut menjadi persoalan apabila AI memberikan rekomendasi yang sama kepada seluruh investor. Karena itu, investor tetap membutuhkan pemahaman dan penilaian manusia. Johan juga mengingatkan kemungkinan AI menggunakan informasi yang sudah tidak relevan atau memberikan rekomendasi karena pengguna tidak memberikan pertanyaan yang tepat.Johan menilai penggunaan AI untuk investasi juga perlu diuji melalui backtesting untuk mengetahui seberapa baik rekomendasi yang diberikan. Tantangan lain yang dihadapi investor ritel ketika berhadapan dengan sistem perdagangan berbasis algoritma.Menurut dia, perdagangan berbasis algoritma sebenarnya sudah berlangsung lama. Sistem tersebut dapat memproses informasi dan melakukan transaksi secara berulang dengan keterlibatan manusia yang sangat minim.“Sistem algoritma itu hanya melakukan trading. Mereka mendapatkan informasi, lalu trading. Hampir tidak ada manusia di dalam prosesnya. Hanya informasi, trading, informasi, trading,” kata Johan.Kondisi tersebut membuat investor ritel yang mencoba melakukan trading aktif berhadapan dengan pemain yang memiliki teknologi dan kemampuan pemrosesan informasi jauh lebih besar.“Kalau Anda investor ritel dan mencoba bertransaksi melawan orang-orang seperti ini, Anda akan kalah,” ujarnya.Karena itu, Johan justru memberikan saran yang mungkin terdengar berlawanan dengan ekspektasi ketika membahas AI dan investasi saham. “Nasihat terbaik adalah jangan trading, cukup beli index fund (reksa dana),” kata Johan.Warga mengamati grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui ponsel pintar di Jakarta, Senin (18/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTOMenurut dia, AI kemungkinan juga akan memberikan rekomendasi tersebut kepada investor ritel karena mampu menilai tingkat kemampuan dan kebutuhan pengguna. Johan menilai rekomendasi semacam itu belum tentu diberikan oleh penasihat keuangan yang memiliki kepentingan komersial.“Penasihat keuangan mungkin tidak akan memberikan nasihat tersebut karena mereka mencoba menjual produk kepada Anda. Sementara AI tidak memiliki produk untuk dijual dan tidak berkepentingan untuk membuat Anda melakukan hal-hal tersebut,” kata Johan.Pendapat Lain Sementara itu, Managing Director of Sustainable and Green Finance Institute dan juga Profesior di Bidang Keuangan NUS Business School, Sumit Agrawal, punya pandangan yang lebih optimistis mengenai peran AI dalam investasi.Sumit justru mempertanyakan apakah penasihat keuangan dan analis selalu memberikan rekomendasi yang lebih baik dibandingkan AI maupun investor itu sendiri.Menurut dia, AI bahkan berpotensi lebih baik daripada sebagian penasihat keuangan karena tidak memiliki kepentingan untuk menjual produk investasi tertentu."Alasannya, mereka memiliki bias untuk menjual dan mendorong jenis saham tertentu untuk Anda beli karena mereka mendapatkan komisi atau perusahaan mereka mendapatkan keuntungan dari hal tersebut,” ujarnya.Sumit memperkirakan perkembangan AI akan membuat teknologi tersebut semakin mampu memberikan nasihat investasi hingga pada akhirnya mengurangi kebutuhan terhadap penasihat keuangan.“Saya merasa ke depannya teknologi AI akan menjadi sangat baik dalam memberikan nasihat kepada kita sehingga kita hampir tidak lagi membutuhkan para penasihat tersebut,” katanya.Bahkan, menurut Sumit, AI nantinya tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga dapat mengeksekusi transaksi investasi secara langsung.“Saya juga memperkirakan bahwa kita nantinya tidak hanya menerima nasihat, tetapi AI akan mengeksekusi perdagangan untuk kita. Kita akan memiliki AI yang cerdas yang membeli dan menjual untuk kita, dan kita akan semakin mempercayainya ke depannya,” ujar Sumit.Menurutnya, hal tersebut justru dapat menjadi perkembangan positif karena AI mampu mengumpulkan dan memproses informasi dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan manusia.