Jaja Mihardja Tak Mau Patenkan Jargon "Apaan Tuh", Ini Alasannya

Wait 5 sec.

Jaja Miharja Foto: Munady WidjajaKomedian senior Jaja Mihardja dikenal lewat jargon khasnya, "apaan tuh", yang kerap diucapkan dengan ekspresi mata sebelah. Meski sudah melekat pada dirinya, Jaja mengaku tidak tertarik mematenkan jargon tersebut.Saat ditanya apakah ingin mengklaim jargon itu sebagai miliknya, Jaja justru mempersilakan orang lain untuk menggunakannya."Ngapain? Jangan, biar orang pakai. Mending jangan ngakuin," ujar Jaja Mihardja.Menurut Jaja, jargon tersebut sudah menjadi ciri khas yang membuatnya mudah dikenali publik. Karena itu, ia tidak merasa perlu membatasi penggunaannya oleh orang lain."Kalau 'apaan tuh' pasti matanya sebelah," katanya.Aktor Jaja Miharja di TMP Kalibata. Foto: Aria Pradana/kumparanJaja kemudian bercerita tentang awal mula gaya khasnya tersebut. Ia mengaku mulai menggunakannya ketika menjadi pembawa acara. Namun, gaya itu sempat mendapat protes dari sejumlah rekan sesama artis yang menilai dirinya tak perlu tampil dengan cara berbeda."Waktu jadi pembawa acara itu kan. Iya, 'Kenapa lu pakai begitu-begitu sih? Biasa aja kenapa sih?' gitu," kenang Jaja.Meski mendapat komentar tersebut, Jaja tetap mempertahankan gayanya. Ia merasa memiliki cara tersendiri dalam membawakan acara maupun saat bernyanyi."Gua tiru kalau nyanyi kan, 'Bentar ya, setelah yang satu ini.' Gitu. Lain. Hari ini berhasil," tuturnya.Kini, jargon "apaan tuh" menjadi salah satu identitas Jaja di dunia hiburan. Namun, perjalanan panjangnya di industri hiburan juga membuatnya merasa memiliki tanggung jawab lebih, terlebih setelah disebut sebagai maestro dan legenda.Jaja Miharja mendapatkan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Prabowo. Foto: IstimewaBagi Jaja, sebutan tersebut membuatnya harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan menjaga rekam jejaknya di depan publik."Berat, berat juga nih nanggungnya. Sebab kalau udah legend kan aduh, gimana ya? Mesti sepak terjangnya mesti benar-benar. Itu aja, penjagaan. Ayah mesti hati-hati," kata Jaja.Meski begitu, Jaja bersyukur masih mendapat tempat di hati masyarakat dan bisa terus berkarya melalui bidang yang telah digelutinya selama ini."Ya, orang masih cinta sama Ayah, gimana? Kalau kita enggak ini? Kan kebetulan memang bidang Ayah di situ. Dagang-dagang enggak bisa. Kecuali di sini," pungkasnya.