Pentingnya mengajari mahasiswa apa yang tak bisa dilakukan AI

Wait 5 sec.

'Madeleine in the Bois d'Amour' (1888) karya Emile Bernard. Art Media/The Print Collector via Getty ImagesAda rasa cemas ketika membayangkan pemikiran manusia tidak lagi dibutuhkan atau dianggap lebih rendah akibat kemajuan AI. Meski demikian, dengan segala kekurangannya, AI tidak bisa kita sepelekan atau berharap teknologi ini menghilang. AI akan tetap ada, dan saya ingin mahasiswa saya memahami konsekuensi jika terlalu bergantung pada teknologi ini.Wajar jika mereka ragu untuk mendedikasikan begitu banyak waktu dan usaha untuk melatih keterampilan menulis dan berpikir kritis ketika AI tampaknya sudah mampu mengerjakannya dengan cukup baik.Namun, kondisi ini sebenarnya menyimpan dampak yang sangat signifikan bagi budaya dan kehidupan bermasyarakat.Sangat mudah membayangkan masa depan ketika ketergantungan terhadap AI memicu keseragaman berpikir dan mengikis daya kritis. Sejumlah penelitian mulai mencatat dampak tersebut, yang berisiko menjadikan proses rumit dalam mengolah gagasan menjadi kemampuan yang semakin jarang dimiliki manusia.Karena itu, para pendidik perlu menyikapi AI secara terbuka. Kuncinya adalah membimbing mahasiswa agar mampu membedakan antara kemahiran AI dalam mengenali pola dan keterbatasannya dalam berimajinasi, memahami sudut pandang manusia, serta menyampaikan perasaan secara tulus.AI tak punya pengalaman emosionalDalam kelas sastra Southern Gothic yang baru-baru ini saya ajarkan, saya memberikan sebuah tugas. Saya meminta mahasiswa menggunakan AI untuk menganalisis “suasana emosional” dalam satu adegan dari novel karya Carson McCullers pada 1940, “The Heart is a Lonely Hunter”.Sebagian besar tokoh dalam karya bergenre Southern Gothic seperti karya McCullers ini terasa ganjil dan kasar. Mereka digambarkan dari sudut pandang yang tidak biasa dan terdistorsi, berbicara dengan dialek yang asing, serta menghadirkan apa yang disebut Flannery O’Connor sebagai sesuatu yang ‘grotesk’: kehidupan di daerah terpencil yang masih terikat pada masa lalu dan ‘diselimuti bayang-bayang Kristus’.Banyak pembaca kesulitan memahami dunia aneh yang dihuni para tokoh ini. AI bahkan lebih kesulitan ketika harus menangkap ketegangan antara iman dan keraguan, atau kebaikan dan kejahatan, yang menjadi inti cerita-cerita tersebut. Carson McCullers. AP Photo Untuk membatasi variasi jawaban dan memudahkan perbandingan, saya membagikan adegan yang melibatkan tokoh-tokoh utama novel. Salah satunya adalah bagian yang menyayat hati ketika Spiros Antonapoulos, seorang penyandang disabilitas rungu, dibawa ke rumah sakit jiwa milik pemerintah dan dipisahkan dari satu-satunya sahabatnya, John Singer.Momen ini dipenuhi kesedihan dan keputusasaan. Adegan tersebut juga memunculkan kemarahan atas keputusan sepupu Antonapoulos untuk mengasingkannya—keputusan pragmatis yang muncul karena penderitaan Spiros keliru dianggap sebagai perilaku antisosial. Latar belakangnya sebagai imigran di sebuah kota kecil di Georgia membuat situasi ini terasa semakin menyayat.Namun, ChatGPT justru menggambarkan adegan tersebut dengan bahasa yang kering dan abstrak. Salah satu mahasiswa saya, misalnya, mendapatkan jawaban: “Suasananya teramat hampa dan seakan membeku. Momen ini terasa senyap, pasrah, dan sunyi dari satu sisi. Tidak ada lambaian perpisahan yang dramatis; momen ini justru ditandai oleh nestapa bisu Singer. Kepergian kereta menjadi simbol perpisahan yang abadi.”Analisis tersebut terdengar teknis dan terasa hampa secara emosional. Ulasannya gagal menggambarkan betapa beratnya kesedihan akibat perpisahan dua orang yang sangat bergantung satu sama lain. Bahkan, terdapat kesalahan fakta: yang pergi adalah sebuah bus, bukan kereta.AI juga tidak menangkap kecemasan Singer atas penderitaan yang akan dialami Antonapoulos, maupun ironi ketika Antonapoulos tampak tidak menyadari bahwa dunianya sedang runtuh. AI tidak memiliki pengalaman hidup nyata yang dapat membantunya memahami konteks secara mendalam dan menyelami karya McCullers yang penuh kepedihan ini.Karena AI bekerja seperti mesin pengolah dan pengoptimal informasi yang mengandalkan data internet dalam jumlah besar untuk kemudian diringkas, analisis adegan yang dihasilkannya sering terasa mengambang, “kurang berbobot” dan penuh “omong kosong yang kabur”, seperti yang dinilai oleh dua mahasiswa saya.Menyelami pengalaman tubuhKemudian, saya meminta mahasiswa mengarahkan AI untuk membuat “adegan baru yang melibatkan sedikitnya tiga tokoh” secara bebas.Hasilnya justru terasa semakin kering. Para mahasiswa tertawa ketika menemukan AI membuat John Singer—tokoh yang menjadi penghubung bagi banyak karakter dalam cerita—berbicara secara lisan tentang berbagai hal. Kekeliruannya terlihat jelas karena Singer, sama seperti Antonapoulos, adalah seorang penyandang disabilitas rungu. Alan Arkin berperan sebagai John Singer dalam adaptasi film ‘The Heart is a Lonely Hunter’ versi 1968. Warner Bros. Ketidakmampuan AI membayangkan bagaimana rasanya tidak bisa mendengar sama sekali sebenarnya tidak mengherankan. Kita perlu ingat bahwa menggunakan AI berarti berinteraksi dengan kecerdasan buatan yang tidak memiliki tubuh untuk merasakan dan mengalami dunia secara langsung.Tanpa pengalaman fisik, AI tidak mungkin benar-benar memahami sudut pandang manusia dan merasakan empati. Bagi pimpinan perusahaan teknologi seperti Elon Musk dan Marc Andreessen yang mungkin menganggap empati dan refleksi diri sebagai kelemahan, kualitas-kualitas tersebut justru merupakan inti dari seni dan sastra—sumber kreativitas sekaligus dasar hubungan antarmanusia.Singkatnya, perasaan, empati, dan sisi irasional manusia mungkin justru menjadi benteng pertahanan terkuat kita dalam menghadapi AI.Menerima kelemahan manusiaMemang, ada saat-saat ketika AI bisa membantu mahasiswa saya. Menurut saya, melarang penggunaan AI sepenuhnya juga sulit dilakukan dan bahkan bisa menimbulkan kerugian.Menjauh sepenuhnya dari teknologi ini pada dasarnya juga merupakan sebuah kemewahan. Sama seperti tidak semua orang mampu menyewa asisten rumah tangga, tukang kebun, atau pengasuh anak, orang-orang dengan kondisi ekonomi terbatas bisa jadi harus bergantung pada bantuan AI.Namun, harapan saya adalah para mahasiswa—terutama ketika mengerjakan tugas-tugas intelektual—memahami bahwa penggunaan AI secara berlebihan berisiko mengikis kemampuan dasar yang penting bagi pemikiran dan kreativitas manusia: imajinasi, intuisi, dan refleksi diri.Saya ingin mereka berpikir dua kali sebelum berupaya menutupi—dengan bantuan chatbot—berbagai kerapuhan, kelemahan, obsesi, dan distraksi alami dari pikiran manusia. Sebaliknya, saya ingin mereka merangkul kecenderungan-kecenderungan manusiawi ini dan menyerahkan diri pada apa yang disebut penyair William Wordsworth sebagai 'luapan perasaan kuat yang spontan.’Bagaimanapun, karya seni terbesar sering kali lahir dari mereka yang berada dalam titik paling rentan, bingung, bahkan tersesat.Billy J. Stratton tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.