Para pelayat berkumpul untuk prosesi pemakaman massal sebanyak 105 jenazah yang tewas akibat terkena reruntuhan blok perumahan al-Taj yang hancur akibat serangan Israel di al-Yarmouk, Gaza, pada 1 Oktober 2026. Foto: Omar AL-QATTAA / AFPIsrael kembali menyerang Gaza pada Rabu (7/10), bertepatan dengan peringatan tiga tahun serangan Hamas 7 Oktober. Pejabat Palestina melaporkan lima orang tewas, seperti dilansir AFP.Berikut rinciannya:Dua Tewas di Kota GazaRumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza melaporkan dua orang tewas dalam serangan Israel semalam. Badan pertahanan sipil Gaza, lembaga penyelamat darurat di bawah Hamas, mengidentifikasi salah satunya sebagai Mohamed Tamous, relawan lembaga tersebut."Dua teroris Hamas yang keluar dari Rumah Sakit Kamal Adwan di Jalur Gaza utara, salah satunya menanam bahan peledak... di area Garis Kuning dengan maksud mencelakai pasukan IDF," kata Militer Israel, dilansir AFP, Rabu (7/10). Garis Kuning adalah garis demarkasi yang memisahkan wilayah kendali Hamas dan militer Israel di Jalur Gaza.Militer Israel menyebut Tamous sebagai penembak jitu di sayap militer Hamas yang pada saat bersamaan bekerja untuk badan pertahanan sipil.Korban Lain di Khan YounisDi Khan Younis, Gaza selatan, Rumah Sakit Nasser menyebut ada seorang pria berusia 60 tahun, Hisham Ibrahim Abu Mustafa, tewas dalam serangan Israel. Sejumlah orang lainnya terluka.Rumah sakit itu juga menerima jenazah Ziad Zaarab, yang disebut tewas dalam serangan udara Israel di selatan Khan Younis. Serangan tersebut melukai beberapa orang.Pada sore hari, serangan ke sebuah tenda di kamp Al-Buraq menewaskan satu orang lagi, kata pihak rumah sakit.Terkait serangan terakhir itu, militer Israel mengatakan kepada AFP bahwa sasarannya adalah "operator militer". Mereka belum langsung berkomentar soal serangan-serangan lainnya.Hidup Warga Masih BeratPada peringatan tiga tahun perang di Gaza, kondisi hidup di wilayah pesisir Palestina itu tetap memprihatinkan. Ini terjadi meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) berlaku sejak Oktober 2025."Setelah tiga tahun pengepungan, pembunuhan, dan penghancuran, Israel telah menjadikan Jalur Gaza tempat yang tidak layak huni," kata Mahmoud Abu Hasira, warga Kota Gaza.Ratusan ribu pengungsi masih tinggal di kota tenda dan hunian darurat yang memenuhi pantai atau berdiri di samping tumpukan puing bangunan permukiman yang hancur dibom."Dulu kami punya rumah, sekarang kami kehilangan orang-orang tercinta yang jasadnya masih terkubur di bawah reruntuhan," ujar Bassam Nasser, warga Beit Hanoun. Kota di Gaza utara yang kini sebagian besar hancur itu ia tinggalkan sejak awal perang.Israel mengeklaim menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza di sisi terluar, termasuk Beit Hanoun. Sementara itu, sebagian besar penduduk Palestina tinggal di wilayah sisa yang dikuasai Hamas.Israel memang melonggarkan pembatasan truk bantuan masuk ke Gaza setelah gencatan senjata. Namun, Ahmed Nasser, warga Kota Gaza lainnya, mengatakan kepada AFP bahwa hidup tetap sangat sulit."Perang dan kelaparan membuat kami lapar, ketakutan, dan terusir, tinggal di tenda dan berjuang menghadapi harga-harga yang melambung," katanya.Serangan militer Israel telah membuat hampir seluruh penduduk Gaza mengungsi dan menewaskan lebih dari 74.200 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah otoritas Hamas. Angka kementerian itu dinilai dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).Sejak gencatan senjata diumumkan Oktober tahun lalu, pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 1.460 orang di Gaza, menurut kementerian yang sama.