Riset Pangan S1 Masih Minim, IRN Sudah Danai 1.100 Lebih Penelitian Sejak 2006

Wait 5 sec.

Peneliti Sumber Daya Ikan dan Lingkungan BRIN Andhika Prima meneliti sampel ikan sapu-sapu di Laboratorium BRIN, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanGuru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University dan Ketua Tim Pakar Indofood Riset Nugraha (IRN), Purwiyatno Hariyadi, menilai penelitian pangan yang dilakukan mahasiswa jenjang sarjana (S1) masih minim, khususnya riset yang memperoleh dukungan pendanaan.Purwiyatno berujar selama ini dukungan dana penelitian dari pemerintah maupun industri lebih banyak ditujukan kepada dosen dan peneliti. Sementara mahasiswa S1 relatif jarang mendapatkan dukungan pendanaan.“S1 ini jarang sekali. Kalau untuk dosen, misalnya untuk peneliti, itu ada grant dari perindustrian, pendidikan, tapi untuk S1 ini jarang sekali,” kata Purwiyatno dalam acara Simposium Pangan Nasional dan Seremoni Penandatanganan Kerjasama IRN 2026-2027 oleh Indofood di Indofood Tower, Kamis (8/10).Berdasarkan data IRN, sejak diluncurkan pada 2006, program tersebut telah mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 di lebih dari 200 universitas dan perguruan tinggi di Indonesia.Pada periode 2026-2027, IRN kembali memilih 83 peneliti mahasiswa S1 dari total 595 proposal penelitian yang diterima. Para peneliti terpilih akan memperoleh dukungan dana dan pendampingan Tim Pakar IRN selama satu tahun.Purwiyatno Hariyadi, Ketua Tim Pakar Indofood Riset Nugraha (IRN) dan Guru Besar IPB. Foto: Purwiyatno HariyadiDari jumlah tersebut, Purwiyatno menyoroti masih terbatasnya penelitian yang mengangkat aspek sosial, ekonomi, budaya, dan masyarakat dalam isu pangan.“Catatan saya, selama dua dekade itu, penelitian yang kita danai untuk bidang sosial, ekonomi, budaya itu totalnya 58 dari sekitar 1.000,” ucapnya.Menurutnya, penelitian pangan seharusnya tidak hanya melihat bagaimana menghasilkan atau memproduksi pangan. Aspek kebutuhan dan perilaku masyarakat juga perlu menjadi perhatian.“Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional yang dapat menjadi sumber gagasan inovasi. Riset berperan penting untuk memahami potensi tersebut, menguji manfaatnya secara ilmiah, serta memastikan keamanan dan mutu dalam pengembangannya,” papar Purwiyatno.