OlhaTsiplyar/ShutterstockGagasan bahwa trauma “diturunkan” dari orang tua ke anak sangat menarik untuk dibahas. Hingga saat ini neurosains belum bisa membuktikan bahwa kita mewarisi ingatan tentang perang, kekerasan, atau kehilangan yang dialami oleh nenek moyang kita. Namun, ada sejumlah penelitian terkini menunjukkan bahwa faktor biologis dan lingkungan mempunyai pengaruh.Umumnya yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya bukan trauma itu sendiri, melainkan sensitivitas yang lebih tinggi (atau bentuk adaptasi) pada sistem yang mengatur rasa takut dan stres bawaan orang tua. Penurunan ini bisa terjadi melalui interaksi dalam keluarga, lingkungan saat dalam kandungan, dan mungkin, mekanisme epigenetik tertentu yang perannya pada manusia masih menjadi bahan perdebatan. Baca juga: ‘Encanto’ Disney menunjukkan adanya penyembuhan dari trauma antargenerasi Selain itu, ketika suatu pengalaman memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD), ingatan tersebut tidak hanya tersimpan di satu “zona ketakutan” saja.Jejak trauma di otakSejumlah studi pemindaian otak menggambarkan adanya perubahan bagian-bagian otak seperti amigdala dan korteks prefrontal. Amigdala sendiri berfungsi mendeteksi ancaman sedangkan korteks prefrontal bertugas untuk meregulasi emosi dan menghentikan respons takut yang sudah tidak diperlukan. Hipokampus―struktur otak yang sangat penting untuk menempatkan ingatan sesuai konteksnya―juga terlibat.Semua area tersebut merupakan bagian jaringan otak yang teraktivasi untuk mendeteksi stimulasi yang relevan dan mengatur respons kita berdasarkan pengalaman. Namun, hasil penelitian setiap individu dan penelitian mengungkap tidak ada satu pola tertentu di otak yang secara unik menunjukkan adanya trauma.Jaringan-jaringan ini berada pada otak individu yang mengalami trauma, bukan pada sel telur atau sel spermanya. Lagipula, ingatan tersimpan melalui perubahan plastisitas pada sirkuit dan kumpulan neuron (engram). Dengan demikian, masih sangat sulit untuk membayangkan adanya mekanisme biologis yang mampu menyalin suatu ingatan, adegan, atau emosi spesifik dari otak orang tua ke otak anaknya.Belajar dari bahayaOtak anak dibentuk melalui interaksi dengan orang lain. Pembelajaran didapat melalui imitasi dan pengalaman mengenai situasi apa yang harus dianggap aman atau berbahaya. Mereka mengamati ekspresi wajah, gestur tubuh, keheningan, dan apa yang kita takuti serta hal yang kita tolak atau hindari.Dalam hal ini, sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa ketika bayi melihat orang tua mereka bereaksi takut terhadap sesuatu yang baru, mereka cenderung merasa lebih cemas dan menghindari stimulus tersebut.Efeknya memang tergolong kecil - sedang, tetapi cukup membantu memahami proses seseorang yang pernah mengalami trauma dapat menularkan rasa bahaya yang lebih tinggi atau kesulitan mengelola emosi kepada anaknya.Tetapi, ini tidak berarti anak pasti akan mengalami gangguan emosional. Hal tersebut dipengaruhi faktor-faktor lain seperti temperamen, pola asuh, dukungan sosial, pengalaman-pengalaman selanjutnya, dan kemampuan sistem saraf untuk terus berubah. Apakah masa kehamilan berpengaruh?Stres intens selama kehamilan dapat mengubah kadar hormon, memicu inflamasi, dan mengganggu metabolisme dan fungsi plasenta. Perubahan sinyal biologi ini merupakan bagian dari lingkungan di mana otak janin berkembang. Akibatnya, kondisi tersebut dapat berdampak pada konektivitas otak, regulasi emosi, dan respons anak terhadap stres di masa depan.Bukti ilmiah menunjukkan bahwa dampak yang teramati pada manusia sangat bervariasi. Faktor stres pada kehamilan sulit dipisahkan dari faktor lain, seperti kesehatan ibu, tingkat kesejahteraan ekonomi, nutrisi, atau lingkungan setelah kelahiran.Istilah yang lebih tepat digunakan adalah pemrograman prenatal, bukan pewarisan antargenerasi. Selama masa kehamilan, janin dalam kandungan terpapar langsung dengan perubahan hormonal, metabolik, dan kekebalan tubuh yang terjadi dalam tubuh ibu. Alhasil, jika anak menunjukkan perbedaan kondisi di kemudian hari, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah trauma yang diwariskan secara biologis lintas generasi.Faktor genetikaEpigenetika merupakan bidang biologi yang mempelajari mekanisme pengaturan aktivitas gen tanpa mengubah struktur DNA, misalnya melalui proses metilasi. Bukti pada hewan menunjukkan bahwa sinyal lingkungan tertentu dapat memengaruhi keturunan melalui sel gamet.Namun, membuktikan hal ini pada manusia jauh lebih sulit karena faktor genetik, kehamilan, pengasuhan, budaya, dan kondisi sosial diturunkan secara bersamaan. Di sisi lain, sebagian besar tanda epigenetik ditata ulang selama pembentukan sel gamet dan perkembangan embrio.Tahun lalu, sebuah studi terhadap 131 anggota dari tiga generasi keluarga di Suriah menemukan pola metilasi yang berkaitan dengan paparan kekerasan. Meskipun menarik perhatian, penelitian ini belum membuktikan secara pasti bahwa trauma mental dapat diwariskan. Sampel yang dianalisis berasal dari sel pipi, bukan sel reproduksi. Jumlah subjek penelitian juga tergolong kecil dan para peneliti sendiri menyatakan perlunya validasi lebih lanjut. Tanda epigenetik itu sendiri bisa jadi sekadar penanda paparan, bukan bukti pewarisan.Mewariskan potensi, bukan kepastianKesimpulan paling bijak adalah kita tidak mewarisi ingatan traumatik dari nenek moyang kita. Namun, kita mungkin menerima gen yang memengaruhi tingkat sensitivitas terhadap stres, terutama jika ibu kita mengalami masa kehamilan yang berat atau jika kita tumbuh dalam keluarga yang hidup terancam bahaya. Baca juga: 22 tahun setelah kerusuhan anti-Tionghoa Mei 1998, riset ungkap prasangka dan trauma masih ada Dampak tersebut memang nyata. Namun, kita juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi, menjalin hubungan yang aman dan menikmati kondisi hidup yang lebih baik. Selain itu, kita dapat mengakses terapi efektif yang dapat mengubah sistem yang mengatur rasa takut di otak kita.Biologi menurunkan berbagai kemungkinan, bukan kepastian yang mutlak. Atau, seperti judul artikel lain di The Conversation: gen bukanlah takdir kita.Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa SpanyolFrancisco José Esteban Ruiz menerima dana dari Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Inovasi, Badan Penelitian Negara (AEI), dan Dana Pembangunan Regional Eropa (FEDER) dalam rangka proyek PID-156228NB-I00, serta dari Dinas Kesehatan dan Konsumen, Pemerintah Daerah Andalusia (PIP-0113-2024).