MRT Bergerak, Wajah Kota Beranjak

Wait 5 sec.

Rangkaian kereta Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta melintas di Stasiun ASEAN, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Foto: Angga Budhiyanto/ANTARA FOTO Bagi Santi, MRT Jakarta sudah menjadi bagian dari rutinitas. Hampir setiap hari, ia menggunakan moda transportasi tersebut untuk berangkat dan pulang kerja dari kawasan Fatmawati menuju Sudirman. Pada akhir pekan, MRT juga menjadi pilihannya untuk mengunjungi Blok M, mencari makanan, atau berkumpul bersama teman.Sebelum rutin menggunakan MRT, Santi lebih sering mengandalkan ojek online. Namun, ongkos perjalanan yang cukup besar jika dikeluarkan setiap hari dan waktu tempuh yang bergantung pada kondisi lalu lintas membuatnya beralih ke kereta.Menurut Santi, salah satu keunggulan MRT adalah waktu perjalanan yang lebih bisa diperkirakan. Ia juga merasakan manfaat dari sisi pengeluaran karena ongkos perjalanan utama lebih terjangkau dibandingkan menggunakan ojek online untuk seluruh perjalanan.“Yang paling terasa itu saya jadi lebih tenang saat berangkat kerja. Dulu kalau jalanan macet, saya suka kepikiran bakal terlambat atau tidak. Sekarang, selama sudah sampai stasiun, saya bisa memperkirakan perjalanan dengan lebih baik,” kata Santi kepada kumparan, Jumat (9/10).Kenyamanan, kebersihan, dan keteraturan perjalanan turut menjadi alasan ia memilih MRT. Meski begitu, Santi menilai kepadatan penumpang pada jam sibuk masih menjadi salah satu kekurangan layanan tersebut.Pengalaman Santi memperlihatkan bagaimana transportasi massal dapat mempengaruhi keputusan warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari. MRT bukan hanya digunakan untuk perjalanan menuju kantor, melainkan juga untuk menjangkau pusat kuliner dan tempat berkumpul.Perluasan jalur pun menjadi harapan tersendiri baginya. Ketika MRT Fase 2A beroperasi hingga kawasan Kota, Santi berharap perjalanan menuju destinasi seperti Monas dan Kota Tua bisa menjadi lebih praktis.Pekerja Proyek Menggerakkan Ekonomi KecilWarga berjalan kaki melewati trotoar darurat di kawasan proyek pengembangan Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanDampak pembangunan MRT juga terasa di luar stasiun dan gerbong kereta. Di sekitar lokasi proyek, aktivitas konstruksi menghadirkan pelanggan bagi pelaku usaha kecil, salah satunya Adi, penjual kopi keliling atau starling. Di tengah pengerjaan proyek, Adi menjajakan kopi dan minuman sachet kepada orang-orang yangberaktivitas di sekitar lokasi. Pelanggannya banyak berasal dari kalangan pekerja yang terlibat dalam pembangunan MRT.“Yang beli kebanyakan orang proyek. Pekerja, pengawas, sopir alat berat juga. Kalau jam 9-10 pagi rame banget, kadang belum jam 11 termos udah habis,” ujarnya.Cerita Adi menggambarkan sisi lain dari pembangunan infrastruktur perkotaan. Di saat pekerjaan konstruksi mengubah aktivitas di permukaan jalan, kehadiran para pekerja juga membuka peluang pendapatan bagi pedagang di sekitarnya.Namun, manfaat tersebut tidak serta-merta berarti seluruh pelaku usaha di sepanjang koridor proyek mengalami peningkatan pendapatan. Dampak pembangunan dapat berbeda-beda, bergantung pada lokasi usaha, perubahan akses, dan aktivitas masyarakat selama pekerjaan berlangsung.Dalam jangka panjang, harapan terhadap MRT bukan hanya perjalanan yang lebih cepat, tetapi juga terbukanya akses menuju pusat perdagangan, kawasan wisata, dan berbagai kegiatan ekonomi.MRT Jakarta Fase 2 direncanakan membentang sekitar 11,8 kilometer dari Bundaran HI hingga Ancol Barat. Pembangunannya dibagi menjadi dua tahap, yakni Fase 2A dan Fase 2B.Pekerja melintas di proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2, Jalan Gajah Mada, Jakarta, Rabu (16/7/2025). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTOFase 2A memiliki panjang sekitar 5,8 kilometer dengan tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Sementara itu, Fase 2B direncanakan memiliki panjang sekitar enam kilometer dengan dua stasiun bawah tanah, Mangga Dua dan Ancol, serta depo di Ancol Marina. Fase 2B masih berada dalam tahap studi kelayakan.Hingga Oktober 2026, progres pembangunan MRT Jakarta Fase 2A, dari Bundaran HI BankJakarta hingga Stasiun Kota, tercatat mencapai 63,04 persen hingga 65,10 persen. Segmen Bundaran HI menuju Monas atau Harmoni ditargetkan menjalani uji coba pada pertengahan 2027 dan beroperasi pada akhir 2027. Adapun segmen Harmoni menuju Kota ditargetkan rampung dan terhubung penuh pada akhir 2029. Perpanjangan jalur ini akan menghubungkan kawasan bisnis dan pemerintahan di Jakarta Pusatdengan pusat perdagangan serta kawasan bersejarah di Jakarta Barat. Stasiun-stasiun baru diharapkan mempermudah masyarakat mencapai kawasan yang selama ini menjadi tujuan bekerja, berbelanja, maupun berwisata.Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga melihat peluang untuk menghidupkan kawasan perdagangan dan wisata yang terhubung dengan jalur baru tersebut. Salah satunya Pasar Baru, yang lokasinya dapat dihubungkan dengan akses MRT melalui kawasan Harmoni.“Saya membayangkan, kalau sudah sampai dengan Harmoni MRT-nya, kemudian pintu keluar MRT itu kita sambungkan ke Pasar Baru, dan kita kembangkan Pasar Baru menjadi objek 24 jam, saya membayangkan Pasar Baru menjadi Myeongdong-nya Jakarta,” ungkap Pramono saat Peluncuran Konsep Desain Ultimate Blok M, Selasa (6/10).Jalur MRT juga direncanakan menghubungkan kawasan Jakarta Kota dengan Pecinan Glodok. Konektivitas tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengakses berbagai destinasi wisata khas Jakarta dengan transportasi umum.Di luar pembangunan jalur, MRT Jakarta juga menyiapkan pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development (TOD). Sejumlah rencana pengembangan mencakup kawasan Kota Tua, Stasiun Thamrin, area Bundaran HI, Dukuh Atas, Blok M, hingga Lebak Bulus.Konsep TOD menempatkan transportasi umum sebagai bagian dari pengembangan kawasan. Stasiun tidak hanya menjadi tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga dapat terhubung dengan ruang komersial, bangunan, fasilitas publik, dan jalur pejalan kaki.Blok M Ultimate: Mengembangkan TOD Tanpa Kehilangan KarakterDirektur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat menyampaikan sambutan saat peluncuran Konsep Desain Transformasi Kawasan Blok M Fase Ultimate di Blok M Hub, Jakarta, Selasa (6/10/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO Salah satu kawasan yang tengah dikembangkan adalah Blok M Hub melalui konsep Blok M Ultimate. MRT Jakarta menyiapkan transformasi kawasan ini dengan menggabungkan fungsi transportasi, komersial, dan ruang publik.Blok M selama ini dikenal sebagai tempat berkumpul anak muda, berburu kuliner, dan mencari barang dengan harga terjangkau. Karena itu, pengembangan kawasan tidak hanya diarahkan untuk membuatnya lebih modern, tetapi juga mempertahankan karakter yang membuat Blok M tetap ramai dikunjungi.Pramono meminta agar pembaruan kawasan tidak menghilangkan identitas tersebut. Menurutnya, daya tarik Blok M terletak pada kemampuannya menjadi ruang yang terus berkembang mengikuti aktivitas dan selera anak muda.“Orang mengatakan Blok M ini menjadi negara Blok M. Sehingga dengan demikian, itulah menjadi kekuatan utama orang dari mana saja. Ketika datang ke Jakarta, terutama anak-anak muda, mereka selalu menyempatkan diri datang ke Blok M, mencari makanan yang baru, sesuatu yang viral, membeli sesuatu yang terjangkau. Itulah yang menjadi kekuatan Blok M,” kata Pramono.Pramono juga menilai integrasi transportasi akan memudahkan masyarakat mencapai kawasan tersebut. MRT, TransJakarta, dan Transjabodetabek menjadi bagian dari jaringan yang mendukung akses menuju Blok M.Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat menjelaskan, bangunan Blok M Hub telah berusia 35 tahun. Kawasan itu memiliki 234 tenant aktif dan dikunjungi lebih dari 25 ribu orang setiap hari.Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan sambutan saat peluncuran Konsep Desain Transformasi Kawasan Blok M Fase Ultimate di Blok M Hub, Jakarta, Selasa (6/10/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO “Usia bangunan Blok M saat ini telah mencapai 35 tahun. Kami ingin memastikan keselamatan dan keamanan struktur dari bangunan ini. Namun di sisi lain Pak Gubernur, ada 234 tenant aktif saat ini dan lebih dari 25 ribu pengunjung setiap hari di Blok M Hub ini,” kata Tuhiyat.Menurut Tuhiyat, konsep transformasi Blok M Ultimate mencakup lima hal utama. Pertama, modernisasi terminal agar lebih terintegrasi. Kedua, pengembangan kawasan multifungsi. Ketiga, peningkatan aksesibilitas dan integrasi antarmoda maupun antarfungsi kawasan. Keempat, pengembangan destinasi komersial baru, termasuk ritel, makanan dan minuman, serta gaya hidup. Kelima, perluasan ruang publik yang lebih hijau dan nyaman untuk beraktivitas.Dalam rencana tersebut, luas ruang publik ditargetkan menjadi lima kali lebih besar dibandingkan kondisi saat ini. Secara keseluruhan, kawasan yang dikembangkan juga direncanakan mencapai sepuluh kali luas area yang ada sekarang.“Ruang publik (kawasan Blok M) setelah nanti dibangun akan menjadi lima kali lebih besar dari yang ada. Dari sisi kawasannya secara total 10 kali lebih besar dari yang ada,” ungkapnya.Revitalisasi terminal, kawasan ritel, dan podium ditargetkan selesai serta beroperasi pada 2029. Pengembangan kawasan multifungsi akan dilakukan secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya.Selama pembangunan, aktivitas Blok M diupayakan tetap berjalan. Pramono menegaskan kawasan tersebut tidak boleh kehilangan denyut aktivitasnya. MRT Jakarta juga menyatakan akan melakukan transisi bagi tenant ke lokasi yang telah ditentukan, sementara layanan TransJakarta tetap beroperasi selama pekerjaan berlangsung.Dengan demikian, tantangan pengembangan Blok M bukan semata-mata membangun fasilitas baru, melainkan memastikan perubahan fisik kawasan tetap sejalan dengan kebutuhan pengguna transportasi, pedagang, dan masyarakat yang datang untuk beraktivitas.Dukuh Atas Belajar dari JepangDesain Jembatan Cincin Donat TOD Dukuh Atas. Foto: Dok. IstimewaPengembangan kawasan berorientasi transit juga direncanakan di Dukuh Atas. Kawasan ini menjadi titik pertemuan sejumlah moda transportasi, mulai dari MRT Jakarta, LRT Jabodebek, TransJakarta, hingga KRL Commuter Line.Melalui proyek Dukuh Atas Hub, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan MRT Jakarta merencanakan pembangunan jembatan pejalan kaki atau pedestrian deck yang melingkari kawasandan terhubung dengan gedung-gedung di sekitarnya. Pramono menggambarkan rancangan tersebut menyerupai cincin donat.Salah satu inspirasi proyek itu berasal dari Abeno pedestrian bridge di kawasan Abenosuji, Osaka, Jepang. Jembatan tersebut menghubungkan Stasiun Osaka Abenobashi, Stasiun Tennoji, dan sejumlah gedung di sekitarnya, termasuk Abeno Harukas.Di Osaka, jaringan pejalan kaki yang terintegrasi memungkinkan masyarakat berpindah dari satu moda transportasi ke bangunan, area ritel, dan fasilitas publik tanpa harus sepenuhnya bergantung pada akses di permukaan jalan.Dalam perencanaan Dukuh Atas Hub, MRT Jakarta menggandeng Urban Renaissance Agency Jepang untuk melakukan studi kelayakan. Executive Officer UR Agency Project Planning Division Department for Global Affairs, Susumu Yukawa, mengatakan proyek tersebut dirancang untuk memudahkan akses pejalan kaki.Transit Oriented Development (TOD) di kawasan Jakarta Selatan atau JPM (Jembatan Penyeberangan Multiguna) Dukuh Atas, Selasa (15/8). Foto: Alfadillah/kumparan“Ide pedestrian deck di Jakarta ini memang diawali dari beberapa masukan pihak terkait. Karena di Jakarta sudah ada jalur kereta api, sudah ada stasiun, dan sudah ada gedung-gedung. Jadi di situ bagaimana kita bisa menciptakan akses yang mudah untuk pejalan kaki,” kata Yukawa.Menurut Yukawa, keberadaan MRT dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi kepadatan lalu lintas dan polusi. Namun, manfaat tersebut perlu didukung akses berjalan kaki yang memadai agar masyarakat lebih mudah menjangkau stasiun.“Dan jalur MRT itu akan lebih bagus kalau bisa diakses oleh pejalan kaki. Jadi dengan adanya pedestrian deck itu adalah fungsinya untuk bisa menghubungkan antara pejalan kaki dengan stasiun seperti itu. Dengan cara seperti itu, sedikit demi sedikit kita bisa mengurangi kepadatan dan bisa mengurangi polusi yang terjadi di Jakarta saat ini,” jelas Yukawa.Selain UR Agency, MRT Jakarta bekerja sama dengan Oriental Consultants Global (OC Global) dalam perencanaan Dukuh Atas Hub. Perusahaan tersebut turut mendukung sejumlah proyek transportasi di Indonesia, termasuk pengembangan MRT Jakarta Fase 2 dan LRT Jabodebek.Deputy General Manager of the Railway Engineering Department 1 and Indonesian Railway Project Manager at OC Global, Daisuke Nanjo, menjelaskan bahwa pengembangan TOD di Jepang melibatkan perusahaan pemilik gedung sejak tahap awal perencanaan.“Biasanya pada waktu tahapan proposal itu kita sudah banyak mengundang perusahaan-perusahaan yang akan ikut andil. Kemudian, di situ akan dibahas studi apa yang akan digunakan. Jadi kerja sama itu sudah diawali dari sejak awal. Sehingga kerja samanya bisa dijaga sampai proyek tersebut berhasil,” tutur Nanjo.Manfaat Ekonomi dan Risiko di Balik PembangunanRel trem listrik peninggalan Belanda di pembangunan MRT Fase 2. Foto: Haya Syahira/kumparanPengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai perluasan MRT Jakarta Fase 2A berpotensi membawa dampak ekonomi makro dan mikro. Jalur yang menghubungkan Bundaran HI dengan Kota mempertemukan kawasan bisnis dan pemerintahan di Jakarta Pusat dengan pusat perdagangan grosir serta kawasan bersejarah di Jakarta Barat.“Perluasan koridor utara-selatan MRT Jakarta Fase 2A (Bundaran HI–Kota) memiliki implikasi ekonomi makro dan mikro yang signifikan,” kata Djoko kepada kumparan.Secara umum, proyeksi dampak ekonomi MRT Jakarta memperkirakan potensi nilai output ekonomi Fase 2A mencapai puluhan triliun rupiah per tahun. Potensi tersebut dikaitkan dengan efisiensi mobilitas, peningkatan penerimaan daerah, serta dampak berganda terhadap kegiatan usaha di sepanjang koridor.“Secara umum, studi dampak ekonomi MRT Jakarta memproyeksikan potensi pembuatan nilai output ekonomi Fase 2A mencapai puluhan triliun rupiah per tahun melalui efisiensi mobilitas, peningkatan penerimaan daerah (PBB, BPHTB, Pajak Restoran/Hotel), serta dampak pengganda (multiplier effect) pada ekosistem usaha,” ujarnya.Dari sisi perdagangan, stasiun Glodok dan Kota berpotensi memperluas akses menuju pusat-pusat perdagangan seperti Pasar Pagi, Mangga Dua, Asemka, dan Glodok. Sementara itu, stasiun dikawasan Thamrin, Monas, Harmoni, dan Sawah Besar dapat memperkuat konektivitas menuju pusat bisnis dan pemerintahan.Pekerja menyelesaikan pembangunan area Stasiun MRT Jakarta Fase 2A CP 203 (Glodok-Kota) di kawasan Kota Tua, Jakarta, Selasa (17/12/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanKehadiran stasiun juga berpotensi meningkatkan nilai lahan serta mendorong pengembangan bangunan multifungsi. Integrasi ruang komersial, ritel, dan jalur pejalan kaki dapat menciptakan arus pengunjung yang menguntungkan pelaku usaha, termasuk UMKM.Di sektor pariwisata, konektivitas dari kawasan bisnis modern menuju Kota Tua dapat mempermudah mobilitas wisatawan. Hal ini berpotensi mendukung aktivitas usaha di bidang kuliner, perhotelan, museum, dan ekonomi kreatif.Meski demikian, Djoko mengingatkan bahwa dampak pembangunan tidak selalu positif bagi semua pihak. Selama konstruksi, rekayasa lalu lintas dan pekerjaan bawah tanah di koridor Gajah Mada–Hayam Wuruk dapat mengganggu aktivitas usaha yang sudah beroperasi. Kenaikan harga sewa lahan dan properti di sekitar stasiun juga berpotensi menekan penyewa lama dan UMKM lokal.Karena itu, keberhasilan pembangunan MRT tidak cukup diukur dari panjang jalur, jumlah stasiun, atau peningkatan jumlah penumpang. Dampaknya perlu dilihat melalui perubahan waktu tempuh, biaya perjalanan, integrasi antarmoda, peralihan dari kendaraan pribadi, akses pejalan kaki, serta perkembangan kegiatan ekonomi di sekitar stasiun. Pengukuran tersebut dapat memadukan data operasional dan survei pengguna, termasuk waktu perjalanan, transaksi tiket, pola perpindahan moda, dan perubahan aktivitas usaha.Pembangunan MRT Jakarta dan pengembangan kawasan di sekitarnya membawa tujuan yang lebih luas daripada menyediakan sarana transportasi. Infrastruktur ini diharapkan menghubungkan lebih banyak tempat, membuka peluang ekonomi, dan menciptakan ruang kota yang dapat dinikmati masyarakat.Namun, manfaat itu perlu berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap usaha yang sudah ada dan kemudahan akses bagi warga. Sebab, wajah kota yang beranjak bukan hanya terlihat daribangunan dan jalur baru, melainkan juga dari bagaimana perubahan tersebut memberi ruang bagi orang-orang yang setiap hari hidup dan mencari penghidupan di dalamnya.