Banyak Startup RI Pakai AI untuk Bisnis, tapi Tokennya Cepat Habis

Wait 5 sec.

Vikram Sinha, Presiden Direktur & CEO Indosat Ooredoo Hutchison, dan Chad Whalen, Chief Revenue Officer F5, dalam peluncuran Indosat Intelligence Suite di Singapura, Jumat, 9 Oktober 2026. Foto: Aditya Panji/kumparanBanyak startup di Indonesia mulai menggunakan model AI untuk menjalankan bisnis, tapi penggunaanya yang kurang strategis justru membuat tokennya cepat habis. Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat) ingin memberikan solusi tersebut, sekaligus membantu bisnis mengendalikan biaya pemakaian AI lewat Indosat Intelligence Suite."Banyak startup di Indonesia yang mengonsumsi token dan menggunakan model (dengan boros). Mereka akhirnya ke luar negeri (cari layanan lain). Salah satu tujuan kami adalah membawa kebutuhan itu kembali ke Indonesia,” kata Vishal Gupta, Chief TechCo Transformation & Procurement Indosat Ooredoo Hutchison, dalam acara peluncuran Indosat Intelligence Suite bersama F5 di Singapura, Kamis (9/10).Token menjadi satuan penggunaan yang memengaruhi biaya layanan AI. Menurut Presiden Direktur & CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, jika suatu pekerjaan bisa diselesaikan dengan 100 token, penggunaan 1.000 token akan membuat biaya membengkak.Besarnya konsumsi token juga bergantung pada model dan panjang jawaban. Gupta mencontohkan pertanyaan sederhana seperti “Apa ibu kota Indonesia?” yang bisa dijawab singkat atau dikembangkan menjadi penjelasan panjang. Setiap jawaban membutuhkan jumlah token berbeda.Karena token adalah mata uang (dalam penggunaan AI). Jika suatu pekerjaan sebenarnya bisa diselesaikan dengan 100 token, tetapi Anda justru menghabiskan 1.000 token, tentu hal itu mengkhawatirkan karena biaya yang dikeluarkan menjadi semakin besar.- Vikram Sinha, Presiden Direktur & CEO Indosat Ooredoo Hutchison -Pemilihan model yang kurang sesuai juga bisa membuat biaya meningkat. Chad Whalen, Chief Revenue Officer perusahaan keamanan siber dan distribusi aplikasi F5, mengatakan tiap model memiliki cara penghitungan biaya yang berbeda. Jika sebuah permintaan diarahkan ke model yang terlalu mahal untuk kebutuhan tersebut, perusahaan bisa membayar lebih besar dari yang diperlukan.IOH Perkenalkan Indosat Intelligence Suite, Hasil Kolaborasi dengan F5Indosat dan F5 mengembangkan Indosat Intelligence Suite untuk mengatur penggunaan berbagai model melalui satu platform. Menurut perusahaan, lapisan orkestrasi platform dapat memilih model berdasarkan kebutuhan kualitas, biaya, dan latensi. Tujuannya, pelanggan cukup menentukan hasil yang diinginkan tanpa harus memilih model sendiri.Platform tersebut menyatukan lebih dari 300 model AI, termasuk Sahabat-AI, model yang di-hosting oleh Indosat, dan model global. Indosat menyebut token dapat dikonversi menjadi kredit yang dialokasikan ke berbagai model, aplikasi, dan tim agar perusahaan memperoleh gambaran lebih terpadu mengenai penggunaan dan pengeluaran AI.Whalen mengatakan perusahaan membutuhkan transparansi atas biaya, kinerja, dan penggunaan token untuk menentukan model yang sesuai bagi tiap kebutuhan bisnis. Model yang dipakai pun dapat berubah seiring perkembangan teknologi, sementara perusahaan tetap berfokus pada hasil yang ingin dicapai.Indosat Intelligence Suite menawarkan skema Pay as You Go, Unified Enterprise Credit, dan Dedicated Capacity. Saat peluncuran, Indosat menargetkan platform itu dapat menjangkau 50 bisnis dan organisasi. Perusahaan juga menyebut platform dirancang dengan tata kelola dan fitur keamanan untuk membantu mengelola penggunaan AI di lingkungan bisnis.Bagi Indosat, membawa konsumsi AI startup ke dalam negeri juga berkaitan dengan pengelolaan infrastruktur. Gupta mengatakan perusahaan tengah mengembangkan transparansi konsumsi energi per jawaban atau permintaan, sehingga pengguna dapat mengetahui daya yang digunakan saat menjalankan AI.