GAPKI Prediksi Produksi Sawit 2027 Turun, El Nino Jadi Ancaman

Wait 5 sec.

Konferensi pers Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Foto: Muhammad Fhandra/kumparanGabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia pada 2027 turun sekitar 2,17 juta ton dibandingkan 2026, yang diakibatkan fenomena El Nino.Berdasarkan proyeksi GAPKI, total produksi sawit pada 2027 diperkirakan mencapai 56,64 juta ton, turun 3,70 persen dibandingkan estimasi 2026 sebesar 58,815 juta ton.Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada 2027 diperkirakan mencapai 51,726 juta ton, turun 3,72 persen dari estimasi 2026 sebesar 53,726 juta ton. Sementara itu, produksi minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO) diproyeksikan turun 3,42 persen menjadi 4,914 juta ton dari 5,088 juta ton.Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan kondisi cuaca pada 2027 perlu menjadi perhatian karena bisa mempengaruhi produksi sawit nasional. Di sisi lain, peningkatan mandatori B50 berpotensi menyerap lebih banyak minyak sawit untuk kebutuhan dalam negeri."Apalagi di tahun ini sudah jelas di beberapa daerah terjadi El Nino, kan, gitu. Nah ini yang pasti di tahun 2027 tidak bisa dibantah lagi pasti akan terjadi terjadi dampak terhadap produksi," kata Eddy dalam konferensi pers di kantor GAPKI, Jakarta, Jumat (9/10).Ilustrasi kelapa sawit. Foto: diegodmartins/Getty ImagesDi sisi lain, kebutuhan minyak sawit dalam negeri diperkirakan terus meningkat. GAPKI memproyeksi total konsumsi domestik pada 2027 mencapai 30,203 juta ton, naik 11,37 persen dibandingkan estimasi 2026 sebesar 27,119 juta ton.Konsumsi untuk biodiesel jadi salah satu pendorong utama kenaikan tersebut. Pada 2027, kebutuhan sawit untuk biodiesel diperkirakan mencapai 17,4 juta ton, meningkat 18,46 persen dibandingkan proyeksi 2026 sebesar 14,689 juta ton.Sementara itu, konsumsi untuk pangan diproyeksikan naik 3 persen menjadi 10,433 juta ton. Konsumsi untuk oleokimia juga diperkirakan tumbuh 3 persen menjadi 2,37 juta ton.Menurut Eddy, tantangan industri sawit tak hanya berasal dari peningkatan kebutuhan domestik, tetapi juga kemampuan sektor hulu untuk menjaga produktivitas. Apabila produksi tidak meningkat sejalan dengan kebutuhan, pasokan untuk ekspor berpotensi semakin terbatas.Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal GAPKI Hadi Sugeng menyoroti produktivitas sawit nasional yang cenderung stagnan selama lima tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah lambatnya peremajaan atau replanting di perkebunan rakyat.Hadi menyebut, persoalan legalitas lahan turut menjadi hambatan bagi petani untuk melakukan peremajaan.