Marinir AS Diduga Bunuh Warga, Militer AS di Okinawa Kena Jam Malam

Wait 5 sec.

Warga melakukan protes menentang pembunuhan seorang perempuan di Okinawa yang diduga dilakukan oleh seorang anggota Marinir AS, di depan Kedutaan Besar AS di Tokyo, Jepang, Selasa (6/10/2026). Foto: CHRISTOPHER JUE / AFPMiliter Amerika Serikat (AS) di Okinawa, Jepang, menerapkan sejumlah pembatasan setelah seorang marinir AS ditangkap atas dugaan membunuh seorang perempuan berusia 39 tahun.Mulai Rabu (7/10), seluruh personel militer AS di Okinawa dilarang mengonsumsi alkohol, baik di dalam maupun di luar pangkalan, selama 48 jam. Setelah itu, militer juga akan memberlakukan jam malam selama 30 hari mulai Jumat (9/10).Komandan III Marine Expeditionary Force Benjamin T. Watson mengatakan larangan alkohol selama 48 jam merupakan “operational pause” untuk memberikan waktu kepada komandan melakukan pelatihan mengenai standar, disiplin, dan tanggung jawab sebagai bagian dari komunitas Okinawa.“Selama periode ini, kami tidak akan mengizinkan kebebasan beraktivitas di luar pangkalan,” kata Watson dalam pernyataan yang diunggah di X.Pejabat tinggi militer AS di Okinawa Letnan Jenderal Korps Marinir AS Benjamin Watson memberikan keterangan pers di kantor Pemerintah Prefektur Okinawa di Naha, Jepang, Senin (5/10/2026). Foto: JIJI PRESS / AFPDalam masa jam malam, seluruh personel harus sudah berada di tempat tinggal masing-masing mulai pukul 00.00 hingga 05.00.Sebelumnya, AFP melaporkan polisi menangkap seorang marinir AS yang ditempatkan di Okinawa pada Minggu (4/10). Ia diduga membunuh Anna Yagi (39), seorang perempuan di sebuah hotel di Naha dan mencuri dompet korban. Media lokal melaporkan korban dicekik hingga tewas, sementara marinir tersebut membantah tuduhan.Kasus ini kembali memicu kekhawatiran di Okinawa, tempat sebagian besar dari sekitar 54 ribu personel militer AS di Jepang ditempatkan. Gubernur Okinawa Genta Koja mengatakan kasus tersebut telah menimbulkan “kecemasan mendalam” di kalangan warga.Koja juga menilai kejadian tersebut menunjukkan perlunya langkah untuk mencegah kasus serupa kembali terjadi. Ia dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada Rabu (7/10) untuk menyampaikan kekhawatiran pemerintah Okinawa.