Anggota Ombudsman Nuzran Joher didampingi Kepala Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi Kemensos Afrizon Tanjung meninjau proses pembelajaran di SRMP 9 Bandung dan SRMA 11 Bandung, Jawa Barat, Jum'at (5/6/2026). Foto: Kemensos RIPelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusdiklatbangprov Kementerian Sosial, Afrizon Tandjung, merespons insiden kekerasan yang terjadi di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pati, Jawa Tengah.Dalam insiden itu, seorang siswa berinisial D dikeroyok oleh temannya karena dituding mencuri sabun. Menyikapi kejadian itu, Kemensos memastikan kejadian di Pati sudah ditangani. Termasuk kejadian di Sekolah Rakyat Mamuju, Sulawesi Barat, di mana ada siswa juga dikeroyok oleh rekannya.Afrizon menjelaskan, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan latar belakang, kebiasaan, dan karakter yang beragam. Dalam proses adaptasi dan kehidupan bersama di asrama, kesalahpahaman antarsiswa terkadang terjadi.“Ada kesalahpahaman di antara siswa yang memiliki kebiasaan dan latar belakang berbeda. Dalam interaksi antarsiswa terjadi kontak yang mengakibatkan adanya luka. Anak yang mengalami luka sudah mendapatkan penanganan dari tim medis,” kata Afrizon di Jakarta, Sabtu (10/10).Korban penganiayaan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pati dirawat di Rumah Sakit KSH, Jumat (9/10/2026). Foto: Dok. kumparanMenurut Afrizon, pihak sekolah telah berkomunikasi dan bertemu dengan orang tua siswa untuk mencari solusi terbaik dengan mengutamakan kepentingan dan masa depan anak-anak.“Sekolah dan orang tua sedang berkomunikasi untuk mencari solusi terbaik. Kami ingin semua persoalan ditangani dengan baik, dengan tetap mengutamakan perlindungan dan kepentingan anak,” ujarnya.Afrizon menegaskan, apa pun yang melatarbelakangi kejadian tersebut, tindakan yang menyebabkan siswa terluka tidak dapat dibenarkan. Karena itu, sekolah perlu memperkuat pendampingan dan pengawasan, terutama dalam kehidupan berasrama.“Kejadian ini tentu menjadi bahan evaluasi sekaligus penguatan langkah-langkah pencegahan. Kami akan terus mencari jalan keluar, memperbaiki sistem pengawasan, dan meningkatkan kualitas pengasuhan agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.Perkuat Pendampingan Siswa di AsramaMenurut Afrizon, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga lingkungan bagi anak-anak untuk membangun karakter, belajar hidup bersama, memahami perbedaan, dan saling menghargai.Karena itu, tenaga pendidik, wali asuh, dan wali asrama didorong untuk meningkatkan pendampingan serta membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan baru.“Anak-anak ini sedang belajar hidup bersama, belajar memahami perbedaan, dan membangun kebiasaan baru. Tugas kita adalah membimbing mereka dengan sabar, sekaligus memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan nyaman bagi semuanya,” kata dia.Afrizon juga meminta semua pihak menjaga privasi dan masa depan anak-anak yang terlibat. Menurutnya, setiap anak berhak mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tanpa dibayangi kejadian yang pernah dialaminya.“Sekolah Rakyat hadir untuk menjaga harapan dan masa depan anak-anak. Karena itu, setiap persoalan harus kita selesaikan dengan baik, setiap kekurangan harus kita perbaiki, dan setiap anak harus tetap kita lindungi,” kata Afrizon.Beberapa warga tampak keluar dari kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Pati di Kecamatan Tlogowungu, Jumat (9/10/2026). Foto: Dok. IstimewaSebelumnya, D (16), siswa SRT 1 Pati, diduga dikeroyok oleh 14 temannya pada Selasa (29/9). Korban disebut mengalami penganiayaan sebanyak dua kali setelah dituduh mencuri sabun cuci muka milik salah satu siswa.Akibat kejadian tersebut, D mengalami sejumlah luka di pundak dan kepala. Satu giginya dilaporkan copot dan satu lainnya patah. Korban masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH) Pati.