Lewis Hamilton dan Max Verstappen Dukung Rencana Balapan Formula 1 di Rwanda

Wait 5 sec.

Pebalap tim Ferrari Lewis Hamilton saat balapan F1 Grand Prix Meksiko di Autodromo Hermanos Rodriguez, Mexico City, Meksiko, Minggu (26/10/2025). Foto: Henry Romero/REUTERSPara pembalap papan atas Formula 1 menyambut rencana kembalinya balapan jet darat tersebut ke benua Afrika melalui diskusi intensif mengenai potensi penyelenggaraan di Rwanda. Seperti dikutip dari laporan ESPN, Rwanda kini muncul sebagai kandidat kuat untuk menggelar ajang grand prix perdana di Afrika sejak tahun 1993. Ibu kota Rwanda, Kigali, sedang dipertimbangkan menjadi lokasi sirkuit meskipun kesepakatan resmi masih dalam tahap awal.Pemerintah Rwanda telah menyiapkan lahan khusus untuk pembangunan sirkuit, meskipun tata letak lintasan dan konstruksi fisik belum dimulai. Kabar mengenai ambisi besar negara ini kabarnya akan diumumkan secara resmi dalam waktu dekat oleh pihak terkait.Dorongan Kuat dari Lewis Hamilton dan Max VerstappenPembalap Mercedes, Lewis Hamilton, menegaskan kembali keinginannya untuk melihat Formula 1 kembali menyambangi benua Afrika secepatnya. Hamilton menilai absennya Afrika dalam kalender balap global saat ini merupakan hal yang sangat disayangkan mengingat keindahan wilayah tersebut.Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya terus berdiskusi dengan CEO Formula 1, Stefano Domenicali, untuk merealisasikan rencana besar ini. “Saya selalu mengatakan bahwa kita perlu mengadakan grand prix di Afrika karena bagi saya ini adalah benua terpenting dan terindah,” ujar Hamilton.Senada dengan Hamilton, juara dunia bertahan Max Verstappen juga menyambut gembira potensi balapan di negara yang pernah ia kunjungi tersebut. Verstappen menceritakan pengalamannya saat mendatangi Rwanda untuk menerima trofi juara dunia pada upacara penghargaan Federasi Otomotif Internasional.Ia menyatakan ketertarikannya untuk kembali ke sana dalam suasana kompetisi balap resmi di masa depan. “Tentu saja, jika itu memungkinkan, hal itu akan sangat luar biasa dan saya berharap rencana ini bisa segera terwujud,” tutur Verstappen.Hambatan Finansial Afrika Selatan dan Peluang RwandaSelain Rwanda, Afrika Selatan sebenarnya telah berjuang keras untuk mengembalikan Formula 1 ke sirkuit legendaris Kyalami dekat Johannesburg. Namun, laporan internal menunjukkan bahwa masalah kendala finansial yang rumit menjadi batu sandungan utama dalam negosiasi kontrak jangka panjang.Menteri Olahraga Afrika Selatan, Gayton McKenzie, memberikan tanggapannya mengenai perkembangan pesat tetangga benuanya tersebut melalui media sosial X. McKenzie secara sportif mengakui kesiapan Rwanda yang memang telah bekerja keras mempersiapkan proyek ini sejak lama.Ia menegaskan bahwa satu benua besar yang menampung puluhan negara seharusnya sangat layak menyelenggarakan lebih dari satu balapan Formula 1. “Kami turut bahagia untuk F1 Rwanda 2030 karena mereka telah mengerjakannya lebih lama daripada kami dan sangat layak mendapatkannya,” tulis McKenzie.Persaingan Ketat Slot Kalender Balap GlobalGeorge Russell turut memberikan dukungan serupa mengenai wacana ekspansi Formula 1 ke wilayah timur benua Afrika tersebut. Russell berpendapat bahwa olahraga balap internasional ini harus bersikap adil dengan mengunjungi satu-satunya benua yang belum memiliki jadwal balapan aktif.Keinginan para pembalap ini harus menghadapi tantangan besar karena slot kalender balap tahunan saat ini sudah mencapai batas maksimal 24 balapan. Perjanjian komersial antara tim peserta membatasi penambahan jumlah balapan demi menjaga kondisi fisik seluruh kru dan pembalap.Banyak negara lain juga sedang mengantre untuk mengamankan posisi mereka, termasuk kembalinya sirkuit Portimao di Portugal dan Istanbul di Turkiye. Persaingan yang ketat ini menuntut komitmen penuh serta kesiapan infrastruktur dari Rwanda agar mimpi menggelar balapan bergengsi tersebut dapat terwujud nyata.