Data OpenAI: Remaja Pakai ChatGPT Kurang dari 15 Menit Sehari

Wait 5 sec.

Tampilan fitur yang ada di ChatGPT for Teens. Foto: OpenAIOpenAI merilis data terbaru mengenai interaksi kalangan remaja dengan chatbot kecerdasan buatan ChatGPT pada Rabu (7/10). Perusahaan besutan Sam Altman tersebut mengungkapkan pengguna usia remaja rata-rata hanya menghabiskan waktu kurang dari 15 menit per hari di platform ChatGPT. OpenAI juga mencatat kurang dari 2 persen remaja mengakses chatbot selama lebih dari tiga jam berturut-turut.Laporan perdana ini hadir di tengah ketatnya sorotan publik terhadap dampak kecerdasan buatan bagi kesehatan mental anak muda. OpenAI menegaskan bahwa remaja menggunakan ChatGPT untuk kebutuhan edukasi, bukan untuk konsumsi pasif layaknya media sosial. Efektivitas fitur keamanan terbukti ketika hampir separuh pengguna remaja langsung beristirahat atau mengakhiri sesi obrolan dalam waktu lima menit setelah pengingat istirahat (break reminder) muncul di layar.Gambaran fitur College Planner pada ChatGPT for Teens. Foto: OpenAIDidominasi kebutuhan belajar dan rencana kuliahOpenAI mencatat akun versi remaja (ChatGPT for Teens) mengirim sekitar 2,7 juta pesan edukasi lebih banyak daripada akun reguler. Para siswa aktif memanfaatkan fitur Learning Visualizations untuk memahami konsep matematika dan sains, serta menggunakan Study Mode untuk pendampingan belajar bertahap.Melihat tren tersebut, OpenAI kini menyiapkan fitur College Planner untuk membantu siswa merancang persiapan masuk perguruan tinggi, melacak tenggat pendaftaran, dan mengurus bantuan finansial. OpenAI juga menyematkan fitur pembuatan kuis interaktif dan kartu belajar (flashcards) yang otomatis mengubah catatan foto menjadi modul belajar.Kendati OpenAI membatasi topik sensitif pada akun di bawah usia 18 tahun, sistem pengawasan ini menuai kritik dari lembaga nirlaba Common Sense Media. Dalam laporan pengujiannya, lembaga tersebut menemukan bahwa ChatGPT for Teens kerap terlambat atau bahkan gagal memberikan notifikasi kepada orang tua ketika akun anak membahas topik bahaya seperti bunuh diri, tindakan melukai diri sendiri, maupun gangguan makan. Ilustrasi OpenAI ChatGPT. Foto: subh_naskar/ShutterstockPengujian independen tersebut juga menyoroti chatbot yang tidak selalu menyarankan saluran bantuan krisis profesional saat percakapan berbahaya berlangsung.Merespons temuan tersebut, pihak pengembang menyatakan pengujian pihak ketiga tidak mencerminkan cara kerja sistem perlindungan mereka secara utuh karena proses integrasi akun orang tua dan anak membutuhkan waktu validasi demi keamanan."Sebagian besar pengujian mereka mungkin telah dimulai dan selesai sebelum aktivasi kontrol orang tua rampung)," ujar juru bicara OpenAI, sebagaimana diberitakan Reuters, Rabu (7/10).OpenAI menjelaskan sistem membutuhkan beberapa jam untuk menautkan akun serta mengaktifkan filter peringatan secara penuh. Perusahaan berkomitmen untuk terus mengevaluasi sistem perlindungan anak dan memperluas kolaborasi dengan institusi kesehatan anak guna memperkuat literasi dan keamanan AI bagi generasi muda.