Meilinie Tenardi terima Anugerah Citra Perempuan Tionghoa Indonesia (Foto: Meiline.dok)Pengusaha sekaligus pendiri Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB), Meiline Tenardi, menerima Anugerah Citra Perempuan Tionghoa Indonesia 2026 dalam rangkaian Miss Tionghoa Indonesia 2026 yang diselenggarakan Peraga Indonesia di Hotel Aryaduta, Jakarta, Minggu, 4 Oktober 2026.Meiline menjadi salah satu dari tujuh perempuan penerima penghargaan tahun ini yang datang dari beragam latar belakang, mulai dari pendidikan, kemanusiaan, profesi, budaya, hingga kegiatan sosial.Bagi Meiline, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas perjalanan yang telah dilalui, tetapi juga menjadi pengingat akan tanggung jawab untuk terus memberi nilai melalui apa yang dikerjakan.Meiline Tenardi terima Anugerah Citra Perempuan Tionghoa Indonesia (foto: Meiline.dok)“Saya tentu bersyukur dan merasa terhormat menerima penghargaan ini. Bagi saya, penghargaan bukan hanya bentuk apresiasi atas apa yang telah saya lakukan, tetapi sekaligus sebagai pengingat untuk saya terus menjaga nilai dan tanggung jawab dalam setiap hal yang saya kerjakan.”Legacy sebagai Nilai yang DiteruskanTema “United in Legacy” memiliki makna yang dekat dengan cara Meiline melihat perjalanan hidup dan kontribusi seorang perempuan.Menurutnya, warisan tidak semestinya hanya dipahami sebagai sesuatu yang bersifat materi, jabatan, ataupun pencapaian yang terlihat. Ada warisan yang lebih mendasar, yaitu nilai yang ditanamkan dalam kehidupan dan tetap hidup melalui orang lain.“Bagi saya, legacy bukan sekadar tentang apa yang berhasil kita capai dalam hidup, tetapi tentang nilai baik apa yang bisa kita tanamkan dan kemudian diteruskan oleh generasi setelah kita,” katanya.Meiline melihat setiap generasi menerima banyak hal dari generasi sebelumnya: nilai keluarga, pendidikan, budaya, etos kerja, ketekunan, hingga cara memperlakukan sesama. Namun, menurutnya, menghargai warisan tidak berarti hanya mempertahankan masa lalu.“Kita menerima banyak nilai dari orang tua dan generasi sebelum kita. Tugas kita bukan hanya menjaganya, tetapi juga memahami dan mengembangkannya agar tetap relevan dengan zaman, lalu meneruskan nilai yang baik itu kepada generasi berikutnya. Menurut saya, di situlah legacy benar-benar hidup,” ujar Meiline.Perempuan Berdaya Dimulai dari DalamPerjalanan Meiline selama ini bergerak di beberapa ruang. Ia telah lama berkecimpung di dunia usaha, termasuk manufaktur dan hospitality. Pada 2023, bersama Ria Glenn dan Trivida Wong, ia mendirikan Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB).Melalui KPPB, Meiline mendorong sebuah pemahaman bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya berbicara tentang posisi, status, atau keberhasilan ekonomi. Baginya, perempuan berdaya terlebih dahulu perlu memiliki kesadaran atas nilai dirinya, kemauan untuk terus belajar, serta keberanian untuk mengambil keputusan secara sadar.Pemikiran tersebut kemudian menjadi dasar berbagai kegiatan KPPB yang menyentuh isu perempuan dan keluarga, termasuk kesehatan ibu dan anak, pendidikan keluarga, kesehatan mental, dan pengembangan diri.“Saya percaya perempuan berdaya dimulai dari dalam dirinya sendiri: dari cara berpikir, cara melihat nilai dirinya, dan keberanian untuk mengambil keputusan dengan sadar. Ketika seorang perempuan bertumbuh, dampaknya sering kali tidak berhenti pada dirinya. Apa yang ia pelajari dan yakini akan ikut memengaruhi keluarga, anak-anak, dan lingkungan di sekitarnya,” kata Meiline.Menurutnya, hal tersebut pula yang membuat pemberdayaan perempuan memiliki dampak antargenerasi. Perempuan tidak hanya menjalani kehidupannya hari ini, tetapi juga ikut membentuk nilai yang akan dikenal dan dibawa oleh generasi setelahnya.Tetap Belajar dan BertumbuhMeiline Tenardi terima Anugerah Citra Perempuan Tionghoa Indonesia. (Foto: Meiline Tenardi)Di tengah aktivitasnya sebagai pengusaha dan penggerak KPPB, Meiline memilih kembali ke dunia pendidikan dengan menempuh studi di bidang psikologi.Keputusan untuk kembali belajar pada fase kehidupannya saat ini berangkat dari keyakinan bahwa usia maupun pencapaian bukan alasan untuk berhenti memperluas pemahaman.“Semakin bertambah usia, saya justru semakin menyadari bahwa masih banyak yang belum saya tahu. Pengalaman hidup memang mengajarkan banyak hal, tetapi kita tetap perlu belajar. Selama kita masih mau belajar, menurut saya kita masih mempunyai ruang untuk bertumbuh,” ujarnya.Bagi Meiline, semangat tersebut juga berkaitan dengan makna penghargaan yang diterimanya. Sebuah pencapaian seharusnya tidak membuat seseorang berhenti, melainkan menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa yang masih dapat dilakukan dan nilai apa yang ingin terus diperjuangkan.Ia berharap penghargaan ini tidak berhenti sebagai sebuah simbol personal, tetapi menjadi pengingat untuk menjaga konsistensi antara nilai yang diyakini dengan tindakan yang dijalankan.“Pada akhirnya, saya tidak terlalu memikirkan seberapa besar nama yang kita tinggalkan. Yang lebih penting bagi saya adalah apakah kehadiran dan apa yang kita kerjakan pernah membawa sesuatu yang baik bagi orang lain. Kalau nilai baik itu kemudian tetap hidup dan diteruskan, bagi saya itulah legacy yang sesungguhnya,” tutup Meiline.