Bagaimana rasanya pulang ke tempat yang selama ini kita sebut rumah, lalu mendapati bahwa kehadiran kita justru ditolak oleh orang-orang di dalamnya?Jika kisah Odysseus dalam The Odyssey berkisah tentang perjalanan panjang seorang manusia untuk kembali ke rumah, Empat Musim Pertiwi garapan Kamila Andini mengajak kita melihat apa yang terjadi setelah seseorang berhasil pulang. Sebab, perjalanan pulang ternyata bisa menjadi awal dari perjuangan yang jauh lebih rumit.Setelah 20 tahun menjalani hukuman penjara, Pertiwi akhirnya kembali ke kampung halamannya yang berada di Pegunungan Tengger, Jawa Timur. ⛰️🍃Namun, waktu telah mengubah banyak hal. Orang-orang yang dahulu mengenalnya kini memandangnya dengan prasangka, sementara tanah kelahirannya terasa seperti tempat asing yang tak lagi menyediakan ruang baginya.Lewat film terbarunya itu, sutradara Kamila Andini menghadirkan kisah tentang kepulangan, stigma, dan perjuangan menemukan tempat untuk berpijak di tengah masyarakat yang gemar mengucilkan mereka yang dianggap berbeda.Penasaran dengan kisah Pertiwi dan hal-hal menarik di balik Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java)? Yuk, simak beberapa hal yang bisa kamu ekspektasikan sebelum beranjak ke bioskop! 🏇Empat Musim Pertiwi, Menceritakan Soal Apa?“Ini ada kabar Pertiwi pulang ke desa. Jadi, tolong diperhatikan kalau ada orang-orang yang masih di luar jam segini.”Empat Musim Pertiwi mengikuti perjalanan Pertiwi (Putri Marino), seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. Dahulu, hukuman itu ia dapat lantaran membunuh seorang pria ketika berusaha membela diri dari kekerasan seksual. Sayangnya, kepulangannya justru disambut dengan penolakan, termasuk dari keluarganya sendiri. Kejadian yang pernah terjadi di masa lalu tampaknya masih terus membayangi Pertiwi, membuatnya harus berhadapan dengan pandangan masyarakat yang telanjur menghakimi dirinya.“Apa maksud kamu kembali ke sini, Pertiwi?”“Ini tanah kelahiran saya, Pak. Saya ingin kembali tinggal di sini.”Di tengah upayanya untuk kembali menjalani kehidupan di tanah kelahirannya, Pertiwi bertemu dengan orang-orang yang juga mengalami pengucilan. Ia bertemu Mak Ira (Christine Hakim), mantan pekerja seks yang hidup dalam keterasingan, serta Kuntet (Dwika Pradnyana), seorang penyandang disabilitas yang dipasung karena dianggap mengalami gangguan kejiwaan.Pertemuan-pertemuan tersebut membuka mata Pertiwi terhadap persoalan sosial yang masih mengakar di lingkungannya. Ia kemudian berinisiatif membangun rumah aman bagi orang-orang yang mengalami penolakan serupa, sebuah ruang untuk mereka yang selama ini kesulitan mendapatkan penerimaan dan perlindungan.Namun, niat tersebut membawa Pertiwi ke dalam perjuangan baru. Ia harus menghadapi stigma, prasangka, dan tekanan dari masyarakat yang masih sulit menerima perbedaan.“Kalian…. Berusaha meniadakan orang-orang seperti kami semua.”Mampukah Pertiwi mewujudkan rumah aman yang ia impikan? Dan, setelah sekian lama terpisah dari kampung halamannya, akankah ia menemukan kembali arti sebuah rumah?Tonton trailer-nya untuk mengintip kisah Pertiwi lebih jauh!Ramuan Suspense Drama dengan Fantasi dan SupranaturalKamila Andini menyebut Empat Musim Pertiwi sebagai film bergenre suspense drama. Menariknya, film ini turut meramu sejumlah elemen sekaligus, mulai dari realisme hingga fantasi dan supranatural. Perpaduan tersebut membuat kisah Pertiwi memiliki ruang untuk berkembang ke berbagai arah, sembari mempertahankan ketegangan sebagai bagian penting dari penceritaan."Sebenarnya genre-nya kami sebut suspense drama, tapi memang filmnya mix genre. Kami berusaha enggak kasih batasan-batasan genre dalam film ini. Ada fantasinya, realism dan supranaturalnya, tapi semua dibungkus suspense drama," ujar Kamila.Menurutnya, unsur surealis dan misteri sebenarnya telah muncul dalam film-film yang ia garap sebelumnya. Kali ini, ia ingin mengeksplorasi pendekatan tersebut secara lebih leluasa, tanpa harus terpaku pada batasan genre tertentu."Kalau ikuti film-film saya sebelumnya, mix genre itu muncul tanpa disengaja. Ada scene-scene surealis dan misteri itu selalu muncul. Sekarang ingin coba keluar dari batasan-batasan genre itu," lanjutnya.Nuansa tegang dalam film ini juga diperkuat melalui scoring yang digarap Bottlesmoker, duo musisi elektronik asal Bandung. Musik latar menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer dan mengiringi perjalanan karakter ketika berhadapan dengan situasi yang menekan.Perpaduan elemen tersebut membuat Empat Musim Pertiwi menawarkan pengalaman sinematik yang menarik untuk diikuti. Di balik atmosfer misteriusnya, film ini tetap membawa persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama tentang bagaimana stigma dapat membatasi kehidupan seseorang dan merampas kesempatan mereka untuk memperoleh penerimaan.Baca juga: Bencana Berwajah Malaikat: Mengulik Thriller Psikologis ‘Sai’ di NetflixMelangkah ke Panggung Festival Film InternasionalSebelum hadir di bioskop Indonesia, Empat Musim Pertiwi telah lebih dahulu menarik perhatian melalui sejumlah festival film internasional. Film ini melakukan pemutaran perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 dalam program Centerpiece, kemudian tampil di Busan International Film Festival (BIFF) 2026 melalui program A Window on Asian Cinema.Kehadiran film ini di panggung internasional turut diikuti pencapaian bagi para pemainnya. Putri Marino meraih Face of Asia Award dari Marie Claire Korea Selatan di BIFF 2026. Ia juga masuk nominasi Best Performance di Singapore International Film Festival 2026.Pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan film yang mengangkat persoalan sosial dengan latar dan pengalaman yang berakar kuat pada Indonesia. Kisah Pertiwi berbicara tentang trauma, ingatan, kekerasan, dan pemulihan, sekaligus mengajak penonton melihat kembali cara masyarakat memperlakukan orang-orang yang berada di pinggir lingkaran sosial.Kabar baik lainnya, pada September 2026, Empat Musim Pertiwi resmi terpilih sebagai wakil Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Academy Awards ke-99 atau Oscar 2027.Dalam pernyataannya, Kamila Andini menyampaikan kehormatan yang ia rasakan atas terpilihnya film tersebut untuk mewakili Indonesia. Baginya, meskipun kisah film ini berangkat dari konteks Indonesia, pertanyaan tentang trauma, ingatan, kekerasan, dan pemulihan memiliki makna yang lebih luas.Baca Artikel Lainnya di Sini!Rekomendasi Buku Terkait! Kalau kamu suka dengan Empat Musim Pertiwi, mungkin kamu juga akan tertarik dengan bacaan dalam buku-buku berikut ini! Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa — Zaky YamaniTemukan Bukunya di Sini!Samiam Nogueira, seorang pedagang rempah dari Lisboa, memulai perjalanan mencari ayah kandungnya setelah menemukan Peta Orang Jawa dan mengalami kemunculan sosok bayangan hitam. Namun, pencarian tersebut membawanya terseret ke dalam konflik politik dan organisasi pemberontakan rahasia bernama Porto de Graal, bahkan membuatnya menghadapi pilihan yang mengguncang nuraninya.Perjalanan Samiam perlahan berkembang menjadi pencarian jati diri yang penuh liku. Kalau kamu tertarik dengan kisah tentang perjalanan, identitas, dan pergulatan seseorang menghadapi keadaan yang tak terduga, novel ini bisa menjadi pilihan bacaan yang menarik. Korpus Uterus — Sasti GotamaTemukan Bukunya di Sini!Luh tumbuh sebagai anak hasil pemerkosaan yang hidup tanpa kasih sayang ibunya. Pengalaman traumatis itu membawanya meninggalkan rumah hingga akhirnya bertemu dengan perempuan-perempuan yang mengalami kehamilan tak diinginkan. Dari sana, Luh menekuni praktik aborsi sebagai upaya membantu perempuan menentukan pilihan atas tubuh mereka sendiri.Namun, jalan hidup yang dipilihnya justru membawanya pada ancaman dan bahaya. Sambil membawa sebentuk rahim dalam stoples, Luh berkelana untuk memahami kembali makna rahim dan kehidupannya. Novel ini mengangkat persoalan trauma, otonomi tubuh, dan perjuangan perempuan di tengah tekanan sosial. Ronggeng Dukuh Paruk — Ahmad TohariTemukan Bukunya di Sini!Kehidupan Dukuh Paruk kembali bergairah ketika Srintil dinobatkan sebagai ronggeng baru. Sosoknya segera menjadi kebanggaan masyarakat setempat, sampai gejolak politik 1965 menghancurkan kehidupan mereka. Srintil dan para penabuh calung ditahan, sementara pengalaman pahit tersebut mengubah cara Srintil memandang dirinya dan masa depannya.Setelah bebas, Srintil berusaha meninggalkan kehidupan lamanya dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Melalui kisah ini, Ahmad Tohari menggambarkan dampak pergolakan sejarah, stigma sosial, serta perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan kembali martabat dan kebebasannya. Pulang — Leila S. ChudoriTemukan Bukunya di Sini!Pulang mengisahkan Dimas Suryo dan putrinya, Lintang Utara, yang tinggal di Paris setelah situasi politik 1965 membuat Dimas dan sejumlah warga Indonesia kehilangan kesempatan untuk kembali ke tanah air. Bertahun-tahun kemudian, Lintang datang ke Indonesia pada 1998 untuk menelusuri pengalaman keluarga korban Tragedi 1965 sebagai bahan tugas akhir kuliahnya.Penelusuran itu membawanya menyelami masa lalu keluarganya sekaligus sejarah kelam Indonesia. Lewat kisah lintas generasi, Leila S. Chudori mengangkat persoalan kehilangan, identitas, dan kerinduan terhadap tanah air, serta bagaimana keputusan politik dapat mengubah kehidupan seseorang dalam waktu yang panjang.Ibunda — Maxim Gorky"Mereka yang miskin menjadi bodoh karena kelaparan, sementara mereka yang kaya menjadi bodoh karena ketamakan."Temukan Bukunya di Sini!Pelagia Vlassova menjalani kehidupan yang keras bersama suaminya yang gemar melakukan kekerasan. Keadaan mulai berubah ketika putranya, Pavel, terlibat dalam gerakan buruh progresif. Pelagia pun menghadapi pergulatan batin antara keinginan melindungi sang anak dan kesadaran terhadap ketidakadilan yang dialami masyarakat di sekitarnya.Seiring waktu, Pelagia tumbuh menjadi sosok yang lebih berani dalam mendukung perjuangan sosial. Melalui kisahnya, Maxim Gorky mengangkat tema ketidakadilan, solidaritas, dan keberanian untuk memperjuangkan perubahan di tengah tekanan sosial dan politik.Pada Akhirnya,Empat Musim Pertiwi menjadi film terbaru Kamila Andini setelah Sekala Niskala (2017), Yuni (2021) dan Before, Now & Then (Nana) (2022). 🍃💜Kali ini, ia menggandeng jajaran pemain yang terdiri atas Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Nagra Kautsar, Dwika Pradnyana, dan Hanna Aretha.Di balik kisah kepulangan Pertiwi, film ini mengajak kita mempertanyakan kembali arti rumah, penerimaan, dan kesempatan untuk memulai hidup baru. Seberapa jauh seseorang harus berjuang agar bisa diterima kembali oleh lingkungan yang pernah menjadi bagian dari hidupnya?Empat Musim Pertiwi ditujukan untuk penonton dewasa berusia 17 tahun ke atas dan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026. 🏇🌿Jadi, Grameds, kalau kamu tertarik dengan film yang memadukan drama, misteri, dan persoalan sosial, Empat Musim Pertiwi rasanya cocok untuk masuk ke dalam daftar tontonanmu selanjutnya! 🤗🎬Baca juga: Menembus Tiga Dunia Clarissa Goenawan: Rahasia Kelam di Balik Cover yang BaruJangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵Temukan Semua Promo Spesial di Sini!